TEMPO, 15 Februari 2004
Revolusi dari Kamar Mayat
Grup metal Korn tampil di Jakarta pekan lalu. Mengalirkan gelegar musik paling gres: nu-metal.
Imut dan lembut, delapan boneka domba yang berjajar di panggung itu seperti menatap kerumunan penonton yang gelisah karena Jonathan Davis dan guyuban metalnya tak kunjung muncul. Barangkali ada yang abai, mungkin juga ada yang menatapnya dan memikirkan tentang domba-domba tersesat. Histeria penonton meluap ketika seorang teknisi panggung menaruh tongkat mikrofon. Masih terselubungi kain hitam. Tapi semua tahu, bila kain disingkap, tongkat mikrofon berbentuk patung perempuan telanjang yang akan tampak. " We want Korn, we want Korn...," teriakan ini membahana, berulang-ulang.
Penonton tak menunggu lebih lama lagi. Begitu personel Korn muncul, ingar-bingar pun meledak. Davis, sang vokalis, langsung menggeber Right Now. Ia seperti hendak membuang habis seketika energinya. Kocokan pick di tangan James "Munky" Shaffer dan Brian "Head" Welch pada gitar mereka yang berdawai tujuh bergemuruh keruh dan berat, betotan bas Reginald "Fieldy" Arvizu berdentam-dentam, dan gebukan drum David Silveria menderu. Semuanya menghambur dari tata suara berdaya ribuan volt. Udara dan tanah terasa bergetar, bergelombang.
Bagai terhipnotis, penonton serentak melakukan ritual yang lazim dalam konser metal. Mereka bergerak serempak, dari saling adu dan dorong badan (moshing) hingga mengentak-entakkan kepala (head banging). Dan bukan tanpa korban. Ada yang nyaris pingsan. Mereka ini segera diangkut tim medis ke luar arena. Mereka yang bertahan terus mengikuti "sang nabi", Davis, dengan meneriakkan setiap bait lagu yang dinyanyikan. Mereka seperti merapal requiem—lagu pengiring kematian. "...I think it's time to bleed/I'm gonna cut myself/ and watch the blood hit the ground/Right now...."
Sambil menggenggam mikrofon andalannya, Davis bergerak ke sana-sini. Tubuhnya yang agak tambun tak mengurangi kelincahannya. Berbeda dengan harapan sebagian penonton, ia hanya mengenakan kostum sederhana, celana training dan jaket olahraga. Begitu pula teman-temannya. Belakangan jaket itu dilepas, berganti kaus berlengan buntung dan bergambar salib.
Jakarta sejatinya mendapat kehormatan disinggahi Korn, grup yang kini tengah menjadi big star musik metal genre paling gres. "Dalam jajaran grup metal dunia, posisi mereka kini ada di paling atas," kata Denny M.R. Keistimewaan itu kian lengkap karena Korn juga baru saja merilis album Take a Look in the Mirror, November lalu. Di antara grup-grup sealiran, misalnya Limp Bizkit atau Linkin' Park, Korn-lah yang oleh media dan kritikus musik dijuluki sebagai pelopor nu-metal (baca "niu" metal, dari kata new = baru).
Dalam peta musik metal, nu-metal tergolong kontroversial. Ada yang menganggapnya sama sekali bukan turunan metal yang dasar-dasarnya diletakkan pada 1970-an oleh grup-grup seperti Led Zeppelin atau Black Sabbath, yang lalu dikembangkan dan dimodernkan antara lain oleh Iron Maiden, Metallica, dan Dream Theater. Tapi pendukungnya tak peduli. Pandangan yang lebih netral merujuk pada dominasi tata suara gitar yang distortif, bergemuruh lagi keruh dan berat, dengan seteman nada yang jauh lebih rendah dari normal. Inilah, kata mereka, ciri utama metal.
Korn, yang resmi terbentuk pada 1992 di Bakersfiled, California, kenyang mengunyah semua pendahulunya itu. Masuk juga dalam menu mereka musik hip-hop, rap, bahkan pop. Begitu santapan itu mereka muntahkan, lahirlah nu-metal. Debut album mereka, Korn, diluncurkan pertama kali pada 1994, setelah mengembara dari festival ke festival. "Mereka tidak lagi hanya mengandalkan kecepatan dan kerasnya musik metal. Tapi mereka menggali lagi dinamika melodi dan performans musik metal," ujar Denny. Ini terasa sekali ketika Korn memasukkan petikan melodi lagu klasik London Bridges is Falling Down untuk kemudian ditrabrakkan dengan gemuruh gitar listrik.
Dalam konser di area depan Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, itu Davis juga sempat memainkan bag pipes, alat musik tiup khas Skotlandia, dengan nada yang sangat liris dan sublim untuk kemudian diikuti entakan dan gerungan vokal dan raungan gitar Munky dan Head. "Butuh keberanian menggabungkan hal-hal seperti itu dalam musik metal, dan Korn selalu jeli mencari sesuatu yang baru," kata Denny pula.
Korn sendiri tak peduli akan gelar pelopor nu-metal. Bagi Korn, "Revolusi musik dapat dimulai dari mana saja, dari tanah tertua di Athena hingga kota kecil kumuh Bakersfield, California, tempat kami semua tumbuh," ujar Fieldy, dalam biografi resmi mereka yang dirilis di situs Korn.
Davis bahkan mengaku memulai revolusinya dari kamar mayat. Ketika terpilih menjadi vokalis Korn, dia praktis meninggalkan profesinya sebagai pegawai autopsi dan penjaga kamar mayat, pekerjaan yang sudah digelutinya lebih dari tujuh tahun (Davis sempat mengambil gelar kesarjanaan di San Francisco's School of Mortuary Science). "Membedah, mengorek-ngorek, memandikan, hingga membalsam mayat adalah latar belakang saya," ujar Davis kepada TEMPO dalam jumpa pers.
Hal itulah yang sebenarnya melandasi musik mereka, terutama lirik-lirik lagu mereka yang menyuarakan kemarahan dan pemberontakan, acap kematian—tema-tema yang menurut Denny "berangkat dari keseharian mereka sendiri dan tidak dibuat-buat". Dan itulah pula yang sepertinya menyihir sekitar 7.000 penggila musik metal Indonesia. Mereka, yang kebanyakan di bawah usia 30-an, datang dari pelosok-pelosok. Baeng Setiawan,18 tahun, misalnya, berasal dari sebuah kampung di Tangerang. Demi membeli tiket festival di bagian belakang seharga Rp 150 ribu, ia merelakan uang jajan selama sebulan. Ia puas menikmati sekitar 15 hit Korn, yang kebanyakan diambil dari album terakhir.
Sebuah sukses yang tentu membuat lega sang promotor, Adrie Soebono. Apalagi konser mulus berakhir tanpa kerusuhan. Padahal, "Selama konser, jantung saya mau copot," kata bos Java Musikindo itu seusai konser yang dibuka oleh band lokal asal Bandung, /rif.
Di tempat karantina penonton yang pingsan, di samping kanan panggung, TEMPO menyaksikan kegilaan tak seketika berakhir. Daya sihir Korn tak hilang sampai mereka benar-benar menghilang ke balik panggung. Penonton yang sudah lemah berbaring bagai mayat-mayat hidup bangkit lagi ketika Davis menyanyikan lagu favorit mereka. Dan mereka pun merapal jeritan hati Davis: "I'm sick mom Where's a fight Dad?! /Dealing with your life/Dead bodies everywhere...."
Endah W.S.
No comments:
Post a Comment