Monday, May 26, 2008

Dicari : Sahabat yang Hilang

Roslinda Sarini, demikian nama lengkapmu. Parasmu seindah namamu. Mungil, berlesung pipit tapi tangguh.

Dimana kau sahabat?
Terakhir kudengar kau bekerja di sebuah perusahaan pemrogaman komputer di belantara jakarta ini. Entah dimana.

Disela kesibukanmu membahasakan peranti lunak (mungkin), masih ingatkah kau, belasan tahun silam, orangtua kita berdua pernah dipanggil guru BP, karena kita berdua bolos 2 hari untuk ikut naik gunung Salak bersama kelompok PA kita (tahun 90, kita ikut pendidikan pencinta alam ‘amatir’ SMA kita SMA 1 Bogor, Satya Sudirman. Waktu itu kita masih kelas satu sma). Ibuku mengomel habis2an dan melarangku naik gunung lagi..

Aku sempat kapok.Tapi kau tidak. Kaulah yang kemudian menyemangatiku untuk ikut bertualang lagi. Kala itu, beberapa bulan kemudian, kami merencanakan petualangan ke Situgunung Sukabumi selama satu hari. Gilanya, supaya ongkosnya murah, kau menyarankan tetap memakai seragam putih abu-abu. - ya, otomatis bolos dong, masak anak sekolahan keluyuran hari minggu-.

Perjalanan ke Situgunung sukses, tapi kita kehabisan uang, karena kebanyakan jajan. Uang yang tersisa hanya cukup untuk ongkos pulang. Menjelang sore kita pulang naik bis miniarta jurusan Sukabumi-Bogor-Cimanggis - kuingat bisnya butut warna coklat- dengan perut keroncongan.

Di Parung Kuda, tiba-tiba ada seorang bapak naik dengan dua karung plastik putih ditumpuk di sebelah bangku kita. Entah apa isinya. Tapi rupanya kau yang duduk di sebelah karung itu mulai mengenali isinya lewat baunya. Dan mulailah jari-jarimu bekerja memperlebar sebuah lubang kecil di karung itu. Hingga cukup lebar untuk bisa menggelindingkan dua butir kedondong keluar. ” nih makan..” ujarmu saat itu membagi hasil kerjamu. Si Bapak pemilik karung masih berdiri di belakang tak kebagian tempat duduk, sementara kita mengunyah kedondongnya. Hahahhaa.. makasih pak, jasamu abadi.

Linda, dimana kau sahabat?

Masih ingatkah kau, petualangan-petualangan gila kita tetap berlanjut hingga kita lulus sma meskipun terpisah. Kau di Jakarta aku di Bandung. Namun Kita tetap semangat merencanakan perjalanan-perjalanan kita saat liburan kuliah.

Kala itu, ditahun keduaku di Bandung aku mengajakmu naik puncak Semeru, karena aku ingin sekali melihat nisan Soe Hok Gie di puncak Mahameru . Kita berangkat dari Bandung. Namun kita gagal naik kereta ke Malang, karena kita bangun kesiangan. Dan akhirnya kita naik bis. Ingatkah kau kita sempat ditipu calo di terminal, setelah membayar ongkos Bandung-Surabaya, tapi kita diturunkan di terminal Cirebon. Hahahha... aku ingat kau marah2 saat itu diterminal. Dan akhirnya tiket itu bisa diganti dengan tiket bus ekonomi ke Surabaya. Sengsara banget..karena nggak nyampe2.

Tapi kita berdua akhirnya menginjakkan kaki di Ranupane (lewat Tumpang). Pihak BKSDA (waktu itu belum taman nasional kayaknya) awalnya tidak mengijinkan kita naik, karena saat itu sedang terjadi kebakaran hutan di Semeru. Apalagi mereka saat itu sepertinya meragukan kita. Bagaimana tidak, dua orang perempuan muda, satu orang berbadan kecil, satu tinggi kurus dengan ransel-ransel besar, sok tangguh bin nekat. Tapi akhirnya kita diijinkan naik, setelah kita meyakinkan akan menunggu di Ranukumbolo hingga kebakaran mereda. Mereka setuju dan meminta kita bergabung dnegan 3 orang pendaki dari Trupala Jakarta -semuanya laki-laki-. Mungkin bapak-bapak petugas itu yakin, kami akan saling menjaga disana.

Kami memang saling menjaga. Bersahabat dengan mereka -aku sudah lupa siapa saja nama-nama mereka-, berbagi makanan dan cerita selama tiga hari di Ranu Kumbolo. Sementara kalau malam kami menonton (tepatnya berjaga) api membakar hutan dan rumput-rumput kering di sekeliling. Kita merasa aman, karena rumput disekeliling kita telah menghitam terbakar sejak dua minggu sebelumnya, jadi tak mungkin tenda kita akan turut hangus.

Akhirnya api memadam, dan kami semua mulai mendaki. Kami memutuskan untuk berpisah, karena mereka memburu waktu. Tinggallah hanya kita berdua lagi, mendaki perlahan. Untungnya kita sempat mencapai Cemoro Tunggal saat menjelang senja. Menginap semalam, karena besok harus bangun subuh untuk mendaki bukit pasir Mahameru (kita menargetkan saat sunrise minimal kita mencapai puncak).

Disitulah untuk pertama kalinya aku melihat kau patah arang. Putus asa, karena setiap tiga langkah mendaki, kami merosot dua langkah di pasir yang gembur. Nggak.... nyampe-nyampe. Sementara diatas kita tim trupala hampir mencapai puncak. Kau hampir memutuskan untuk berhenti disitu. Tapi akhirnya kita berhasil. - aku ingat kau menangis dipuncak, sambil ditertawakan anak2 Trupala itu, yang menyambut kita dengan sebotol air minum -.

Masih ingatkah semua itu kau sahabat ?

Tak terhitung petualangan yang telah kita lewati bersama setelah Semeru itu. Saat kita masih beranjak dewasa (dalam berpikir), belasan tahun silam. Jauh sebelum aku mengenal arogansi sebuah organisasi kepecinta-alaman, jauh sebelum kita mengenal kerasnya kehidupan usai lulus kuliah, jauh sebelum kita mengenal patah hati.

Namun, justru saat aku mulai mengenal semua itulah kita mulai terpisah. Entah oleh apa.

Dimana kau Sahabat?
Kurindu semua petualangan kita.

No comments: