wanita 24 karat.
Hari ini aku bertemu seorang ibu. namanya Ernawati. pakaiannya kumal bercampur oli. bagian pinggul sebelah kanannya sampai ke dengkul basah. tangan kanannya terbungkus sarung tangan kumal. kaos golkar membalut kepalanya dengan bagian leher kaos diikat sedemikian rupa sehingga hanya mukanya yang menyembul.
"Yu.. mbakyu...mau dijahit nggak karungnya. punyaku sudah ditimbang.." teriaknya pada seorang kawan sesama pengangkut sambil menaikkan karung plastik kecil ke pinggulnya. Air laut menetes dari ujung karung membasahi celananya. Hanya sampai di pinggul itulah rupanya dia mampu memanggulnya. Bukan apa-apa. walaupun kecil, karung itu isinya adalah karat besi, hasil dia mengerok dinding kapal tua di pantai Cilincing.
ya, ibu Wati kini lagi dapat 'borongan' mengangkut karat besi dari kapal kiloan. Di pantai Cilincing sendiri saat ini ada 5 kapal yang sedang dibongkar. Ini adalah bisnis kapal kiloan. - bisnis orang madura -. ternyata bisnis besi tua madura tidak hanya di darat, tapi juga merambah kelaut. Kapal-kapal tongkang dan tanker tua baik yang terdampar ataupun karam diseret ke pantai ini.
Disini, kapal di bongkar, dibelah, di potong-potong dan dikilo, untuk dilebur ulang. " jangan salah mbak, satu untai rantai jangkar ini harganya sama dengan satu buah kijang innova lho " ujar haji Taufik, salah satu pengawas pembongkaran kapal.
Tidak semua baja dari kapal-2 tua itu bisa dikilo. untuk menaikkan harganya, biasanya karat-karatnya harus dikerok dulu.
nah, karat-karat dari Baja kapal yang sudah berbentuk serpihan inilah yang menjadi jatah rejeki bagi ibu Wati. sebagai catatan, tidak tiap hari ada kapal datang.
Dua hari ini dia behasil mengumpulkan puluhan karung. Karung-karung kecil yang diangkutnya bolak-balik itu dimasukkan dalam karung besar untuk ditimbang.
Sore ini, juragan penge-pool karat besi datang, untuk membeli hasil karungan mereka. Biasanya satu kilo dihargai 300 perak. "mudahan-mudahan ada satu ton ini " ujar ibu Wati. Nantinya kalo dapat 300 ribu, uang itu masih harus dibagi dua dengan pemilik kapal. Jadi jatah si ibu hanya 150 ribu.
Dia terduduk lelah di pojok timbangan, peluh dan kotoran menjadi sahabat kulitnya. sementara sang suami, menjahit karung-karung hasil panggulannya untuk ditimbang. Kenapa bukan suaminya yang mengangkut karung-karung itu, karena dia terlihat segar bugar dan kuat. " suami saya tulangnya nggak kuat" ujarnya.
walah... modus bu !.
Suaminya sendiri pengangguran, sementara empat anak mereka masih kecil-kecil. (mbok ya.. sedikit mbantu ngangkut.. pak..)
enam karung besar hasil angkutnya selama dua hari sudah semua ditimbang.
"berapa ...?" ujarnya ke tukang timbang.
"hanya 830 kg bu..."
(.. lewat sudah targetnya untuk dapat 150 ribu untuk makan sekeluarga selama sebulan).
No comments:
Post a Comment