Edisi. TEMPO - 22 Juni 2003
Heruka, yang Menari Tantrik di Atas Mayat
Temuan arkeologis tentang Tantrayana di Sumatera Arca Durga Mahishasuramardini masih ditelusuri hingga kini. TEMPO mengikuti penggaliannya di situs Tanjung Medang, Sumatera Barat.
"Wanwawanwanâgî
Bukângrhûgr
Hûcitrasamasyasâ
Tûnhahâhahâ
Hûm Hûhûhehai Hohauhaha
Om âh hûm"
Mereka merapal mantra berulang-ulang. Anyir darah menyeruak di antara mereka yang menari di atas mayat bergelimpangan. Kulit dikupas, dipakai sebagai baju. Mereka tertawa, mendengus, hum! Darah manusia diminum hingga mereka mencapai puncak tantrik, menjadi sakti, suci. Sesuci dewa.
Berabad lalu, ritual Tantrayana itu masih dilakukan oleh penganut agama Buddha Wajrayana. Mantra tantrik di atas tertulis di prasasti dari lempengan emas yang ditemukan di Biaro (Candi) Tandihat II di Padang Lawas, Tapanuli Selatan, Sumatera. W.F Stutterheim, peneliti asal Belanda, yang berhasil membaca prasasti itu pada tahun 1930-an. (Kini prasasti itu tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.) Prasasti itu berisi lirik-lirik mantra yang harus dibacakan saat ritual Tantrayana Bhairawa. Menurut dia, bunyi hum adalah dengusan banteng dan ha adalah lafal tertawa. Ritual itu dilakukan dengan cara menari di atas mayat-mayat.
Ritual sadistis itu berkembang di zaman Kerajaan Melayu akhir hingga abad ke-14 di Sumatera. Sebelumnya, semasa Sriwijaya dan Melayu awal, ajaran Buddha Mahayana-lah yang banyak dianut. Salah seorang arkeolog yang tekun dalam Tantrayana kini adalah Bambang Budi Utomo, arkeolog UI. "Dari beberapa tulisan pada lempengan emas di banyak situs, terbuktilah bahwa agama yang menjalankan ritual Tantrayana adalah Buddha Wajrayâna," ujar Bambang Budi Utomo.
Beberapa minggu lalu TEMPO sempat mengikuti Bambang Budi Utomo melakukan penggalian di situs Tanjung Medan, Pasaman, Sumatera Barat. Pencarian temuan Tantrayana masih terus dilakukan di situs seluas 2 hektare ini. Situs yang ditemukan pada tahun 1876 dengan enam situs candi dari batu bata ini sempat terbengkalai. Tahun 1991, penggalian baru dimulai saat Dinas Pekerjaan Umum menemukan runtuhan bata.
Di sana pernah didapati temuan arkeologis, di antaranya berupa piringan-piringan emas dari abad ke-13. Di antaranya kepingan piring emas yang menggambarkan bekas 8 kelopak daun padma, simbol 8 tokoh dengan Dhyani Budhhi Aksobhya. Dari penggalian sedalam 30 sentimeter, Bambang berhasil mengumpulkan pecahan keramik dan gerabah. Bambang juga menemukan sisa bangunan dan arca. Semua ini diduga menunjukkan gejala adanya kegiatan ritual agama Wajrayana. Semua temuan itu dibawa ke Pusat Arkeologi Nasional untuk diteliti lagi. "Untuk memperkuat dugaan adanya aktivitas agama Buddha Wajrayana di sana," ujar Bambang.
Selain di Tanjung Medan, ajaran-ajaran agama Wajrayana itu sendiri memang banyak ditemukan di situs Bumi Ayu, Padang Lawas, dan Padang Roco. Menurut Bambang, di Padang Lawas tiga kelompok biaro yang mempunyai sifat Buddha Tantrik adalah kelompok Biaro Si Pamutung, Biaro Si Joreng Belangah, dan Biaro Si Sangkilon. Sementara itu, pada biaro lainnya, Biaro Si Pamutung, banyak ditemukan arca ataupun hiasan bangunan (makara) yang merupakan indikator Wajrayâna.
Pada halaman biaro ditemukan sebuah arca buaya yang digambarkan dengan wajah bengis. Selain itu ditemukan juga dua buah arca raksasa dalam sikap añjalimudrâ. Dari mulutnya keluar dua pasang taring. Kedua bola matanya digambarkan melotot. Artefak arca dan relief yang ditemukan di sana memang banyak menggambarkan wajah-wajah raksasa yang menyeramkan dan sadistis. Kebanyakan arca berdiri di atas mayat atau tengkorak manusia. Bahkan, selain beraksesori kalung tengkorak, mereka juga memegang batok kepala manusia sebagai mangkuk darah.
Selain itu ditemukan juga beberapa prasasti singkat yang bertuliskan mantra-mantra aliran Tantris. Pada tahun 1950-an, di Padang Lawas (Biaro Bahal 2) bahkan pernah ditemukan arca Heruka, dewa terpenting dalam agama Buddha aliran Wajrayâna. "Jenis arca ini merupakan yang paling langka baik di Jawa maupun Sumatera," ujar Bambang. Menurut Bambang, dewa ini dipuja pada saat upacara Bhairawa. Arca Heruka ini digambarkan sedang menari-nari di atas mayat dengan tangan kirinya memegang mangkuk berupa tengkorak manusia. Rambutnya digambarkan menyala-nyala seperti lidah api. Bahkan dia menggunakan selendang untaian tengkorak.
Bernert Kempers dalam buku Indonesian Art mengatakan Heruka juga berdiri di atas mayat-mayat. Sayangnya, kini arca ini hilang tak berbekas. Apa tujuan ritual demonis itu dilakukan? Ritual mabuk-mabukan hingga pesta orgi, seperti pada Tantrayana di zaman Kertanegara abad ke-14 di Singosari, sebenarnya bertujuan mengajarkan penganutnya mendapatkan kesaktian. Juga mendapat mukjizat untuk dilahirkan kembali dengan kekuasaan dewa. Tantrayâna sendiri menurut Bambang digambarkan sebagai suatu perbuatan yang sadistis dan tidak lepas kaitannya dengan mayat serta darah manusia. Upacara yang terpenting dalam aliran Wajrayâna adalah upacara Bhairawa, yang dilakukan di atas ksetra (suatu tempat penimbun mayat sebelum dibakar). "Sayangnya, berbeda dengan Tantrayana yang ada di relief candi di Borobudur yang dijelaskan lagi oleh naskah Tantrayana di Jawa, di Sumatera hampir tidak ada naskah yang mendukung," ujar Noerhadi Magetsari, yang melakukan penelitian tentang Tantrayana di Jawa.
Meskipun demikian, setidaknya Bambang Budi Utomo bisa menghubungkan maksud penggambaran Heruka dengan mengambil kutipan pada kitab Sudhamala, yang berkembang di Jawa. "Seorang penganut Tantrayâna harus membayangkan Heruka," tutur Bambang. Heruka sendiri dalam agama Buddha adalah dewa "Pantheon"-nya. Tapi, di Wajrayana, ia digambarkan berupa raksasa yang menari.
Petikan pada Sudhamala itu berbunyi: "Berdiri di atas mayat dalam sikap ardhaparyañka (setengah bersila), berpakaian kulit manusia, tubuhnya dilumuri abu, tangan kanannya menggenggam sebuah vajra yang berkilauan, dan tangan kirinya menggenggam sebuah khatwañga, berhiaskan panji yang melambai-lambai, serta sebuah mangkuk tengkorak yang berisi darah; selempangnya berhiaskan rantai dari 50 kepala manusia, mulutnya sedikit terbuka karena taring, sedangkan nafsu berahi tampak dari sorot matanya, rambutnya yang kemerah-merahan berdiri ke atas; arca Aksobhya menghiasi mahkotanya, dan anting-anting menghiasi telinganya; ia berhiaskan tulang-tulang manusia dan kepalanya berhiaskan tengkorak manusia; ia memberi kebuddhaan dan dengan semadinya melindungi terhadap mara-mara di dunia." Ada beberapa ajaran Tantrayana yang menarik.
Bambang juga menemukan penjelasan yang hampir sama pada kakawin Sutasoma, yang ditulis pada zaman Majapahit. Misalnya bahwa dia makan bukan karena dia ingin memuaskan nafsu makannya, melainkan demi membersihkan kesadarannya. Diharapkan, para tantris dapat bersatu dengan Jinapati, puncak kebebasan. Yang tak kalah penting adalah temuan patung-patung Bhairawa dari berbagai situs itu. Arca terbesar adalah Bhairawa setinggi 4,41 meter dari hulu Sungai Langsat di situs Padang Roco. Diduga, patung itu berasal dari abad ke-14, saat puncak kejayaan Kerajaan Melayu akhir di bawah Raja Adityawarman. Patung disebutkan juga sebagai perwujudan Adityawarman itu sendiri. Patung raksasa itu menginjak mayat lelaki yang badannya ringsek ketekuk kakinya.
Paling bawah, berjajar delapan tengkorak manusia. Raut mukanya tidak utuh lagi, juga bagian kirinya. Tangannya, selain menggenggam pisau, juga menggenggam mangkuk dari batok kepala manusia. Bukti bahwa patung ini adalah patung keagamaan adalah adanya patung Buddha kecil, Aksobhya, di rambutnya yang menjulang. Patung itu kini di tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Di sana, tersimpan juga arca dan relief patung yang menggambarkan Tantrayana yang diambil dari situs Padang Lawas. Di antaranya tiga arca penari yang berasal dari abad ke-13-an. Ada juga relief penari berkepala lembu seukuran 40 x 40 cm. Arca Bhairawa juga ditemukan di situs padang Lawas.
Menurut Bambang, pecahan Bhairawa ditemukan dalam Biaro Bahal 3. Dari catatan penelitian, patung ini berasal dari masa yang lebih tua. Pada halaman biaro ditemukan sebuah fragmen arca Bhairawa bagian atas. Arca Bhairawa ini digambarkan dengan muka yang menyeramkan, mata melotot, dan sepasang gigi taringnya keluar. Bertangan dua, tiap tangannya memegang gada pada tangan kanan, dan sebuah benda yang sudah patah pada tangan kiri.
Hiasan yang dipakainya berupa anting-anting berbentuk tengkorak manusia dan hiasan kelat bahu yang juga berbentuk tengkorak manusia. Hampir semua Tantrayana di Sumatera tergambar sebagai sosok sadistis, liar, dan menyeramkan. Kebanyakan mereka berupa raksasa yang menari di atas tengkorak manusia, raksasa dengan mata melotot dan berbaju kulit manusia. Ini sangat berbeda dengan Tantrayana yang ada di Borobudur, misalnya. "Yang di Borobudur itu lebih tenang," ujar Noerhadi Magetsari. Hal itu wajar saja, karena Tantrayana adalah aliran dalam agama Buddha yang penerjemahannya bisa bermacam. Menurut Noerhadi, ada sekitar 20 macam Tantrayana dalam ajaran Buddha. Tantrayana di Singosari, yang dianut oleh Kertanegara pada abad ke-14 sendiri, hampir sama dengan yang dianut di Sumatera. Kertanegara disebutkan biasa mengadakan ritual Tantrayana yang meliputi acara minum minuman keras. Inilah yang sempat menimbulkan polemik. Terutama karena Tantrayana yang di Sumatera berusia lebih tua, yaitu sejak abad ke-10 hingga ke-11. Ada dugaan Tantrayana di Singosari, Jawa Timur, berasal dari Sumatera. Hal ini belum bisa dibuktikan, tapi pada abad ke-13 Singosari memang pernah berhubungan dengan Kerajaan Melayu, yang saat itu mencapai puncak kejayaannya (masa Adityawarman). Saat itu Kertanegara mengirim arca Amogapacha yang ketiga sisinya berprasasti. Arca ini dikirim sebagai wujud persahabatan. Wujud diplomasi agar Kerajaan Melayu membantu Kertanegara dari serangan Ku Blai Kahn dari Mongol. Prasasti itu bukti pendukung yang sangat langka Yang tidak diketahui hingga kini adalah bagaimana aliran Buddha Wajrayana ini datang di Sumatera.
Sejauh ini temuan arkeologisnya sangat terbatas. Sumber arkeologi tertulis sendiri mengatakan agama ini datang dari India dan Nepal. Sedangkan di Sumatera hanya diketahui Wajrayana paling tua ditemukan di situs Bumi Ayu Selatan, yaitu pada abad ke-10. Dan bagaimana Wajrayana sampai pertama kali di Bumi Ayu tidak terjelaskan. Di Tanjung Medan itulah Bambang bersama timnya berusaha merunut dan mengungkap teki-teki itu beberapa waktu lalu.
Usahanya itu merupakan rangkaian dari penelitian yang sudah dilakukan di Padang Lawas tahun lalu oleh tim lain. Padang Lawas sendiri lebih muda dari Bumi Ayu, yaitu dari abad ke-11. "Dari Tanjung Medan, saya berusaha setidaknya ada sampel yang menunjukkan dari mana agama Buddha Wajrayana pertama kali diajarkan di Sumatera," kata Bambang kepada TEMPO. Penelitian akan dilanjutkan tahun depan dengan melakukan penggalian di Bumi Ayu. Ini berarti, temuan-temuan baru tentang Tantrayana masih akan terus terungkap di masa depan.
Endah W.S
No comments:
Post a Comment