Tuesday, February 13, 2007

SLAMET

Mendung. Sungai meluap dan coklat. Pintu air sudah dibuka sejak kemarin. Tapi Ini adalah berkah. Setidaknya bagi mereka yang kini sudah siap berjajar di bilah baja jembatan. Menyerok apapun yang hanyut di bawah mereka. Yang laku dijual.

Mereka adalah para pemulung yang tinggal di‘apartemen gantung’- itulah sebutan yang mereka berikan pada tempat tinggal mereka -. “Atas mobil, bawah kolam renang, ditengah-tengah saya ngapung “ ujar Mamah Butet salah seorang penghuni.

Ya, kolong jembatan. Rangka baja yang menyangga beton jembatan Manggarai , menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal dan hidup. Kuat,fleksibel, aman, dan tersembunyi. Puluhan tahun mereka tinggal disini, dan berprofesi sebagai pemulung. Sekilo botol aqua laku dijual Rp.1200 per kg. Lumayan... untuk menyambung hidup.

Salah satunya adalah Uwo, 16 tahun. Dia adalah generasi ketiga yang lahir disini. Tepatnya cucu pak Asad, orang terlama -sudah tiga puluhan tahun- tinggal disini.

Tangan kanan Uwo memegang serok, sementara tangan kiri menggenggam buku ‘1421, saat China menemukan Dunia’. Karangan GAVIN MENZIES

“ Wwwooo, taroh bukunya !!!, banyak yang lewat dibawah elu tuh !. Ato tempat lo sini buat gw..” teriak mamah Butet, yang tak sabar melihat Uwo yang lebih banyak membaca buku daripada nyerok sampah. Sementara tempat duduk sangat berharga.

“Nih, buku elo..ntar gw pinjem lagi…” buku itu dilempar Uwo ke bocah dibelakangnya yang sedang melamun. Di tangan bocah itu, Slamet, 14 tahun sudah ada buku ‘Karl Marx, Revolusi dan Sosialisme’ karangan Ken Budha Kusumandaru, yang sudah lecek.

Aku yang sedari tadi duduk memperhatikan mereka semua sambil mengisap sebatang Marlboro putih, terusik. Pikirku… sampai juga ‘buku’ itu ke tempat seperti ini. apalagi di tangan seorang Slamet.

Bocah ini memang bukan penghuni tetap kolong jembatan ini. dia hanya anak jalanan. Kadang ngamen, kadang mulung, atau sekedar jadi ‘pak ogah’ di putaran jalan. Dia tinggal dimana saja dia mau, salah satunya selewat saja mampir ke komunitas kolong jembatan ini.

Kisah hidup Slamet sendiri cukup unik. Homeless, borderless, putus sekolah…. tepatnya tragis.

Tahun lalu, saat heboh berita tertangkapnya seorang pedofil asal Australia Peter W Smith di JaKarta, adalah Slamet yang mengadu ke polisi. Dia bersama tujuh temannya sesama anak jalanan menjadi korban si bule ‘freak’ ini.

Modusnya apalagi kalau bukan iming-iming uang. Dan gilanya si bule goblok ini sudah melakukan pedofilia sejak tahun 2003. Slamet sebagai korban terakhir, mengadukan si bule ke polisi dan kemudian diikuti teman-2nya itu. Kini si bule itu udah di penjara.

AKu sendiri nggak sengaja bertemu Slamet disini. Mungkin karena kasusnya itu jugalah yang membuat Slamet terbiasa dengan orang-orang ‘berkamera’.

“ Kak.. aku Slamet “ ujarnya menghampiri ketika kami sibuk menset peralatan. “ sedang apa kak ? “ rasa ingin tahunya ternyata juga besar. Dan kami ngobrol panjang di sela-sela shooting.

Hari-hari berikutnya terkadang dia nongol, kadang raib entah kemana selama kami mengambil gambar di kolong jembatan.

Kini, aku kembali terusik olehnya. Dia melamun diatas sungai yang keruh sambil menggenggam 2 buku tadi.

“ Siapa yang ngajarin lu baca buku-2 itu ..” tanyaku.
“ kakak-kakak di lsm ..” jawab Slamet. Slamet memang kini, dilindungi satu LSM anak jalanan di Jakarta
“ punya buku apa aja ?
“ lumayan mbak.. ada komik juga.. kakak2 yang beliin “
“ yang itu udah abis loe baca? “
“ udah sih…Cuma… mmm…”
“ kenapa, coba aku ingin tahu isinya apa yang Karl Marx itu…”
“ yah… ada tentang ideology-ideologi gitulah.. aku sih nggak terlalu ngerti .. bacanya susah “
“lho..terus ngapain elo bawa-bawa itu dua buku..”
“ anu… kak, mau saya jual ke SENEN entar siang. Lumayan satu buku laku 20 ribu kak..”

(slamet tetaplah slamet)
(2007, ews).

No comments: