PESAN MASA SILAM DI ILAS KENCENG
Sang Walet lemah kepakan sayapnya
Dalam hati gundah gulana
Sang walet tetap di angkasa
Mengenang karya pecah segala
……
Burung walet dia menggantung sendu
Hati pedih menjerit pilu tinggal bertengger di tepi batu
Hai manusia.. kusulam lembaran untukmu jua
Tapi tunggulah hingga darahku terbang bersama
Demi kelanjutan hidupmu jua
(dinyanyikan o/ masy.Tepian Langsat, para pemburu sarang Walet, Mei 2004)
Perahu ketinting meraung-raung tak tertandingi. Mesinnya memekak keheningan hutan di pedalaman sungai Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Ini hari kedua, jam ke sepuluh, -entah menit keberapa- , kami meringkuk di atas perahu berbadan sempit itu. Dan kami belum juga sampai ke tujuan. “lihat itu, ada monyet-monyet berlompatan di atas pohon” teriak Raung, motorist ketinting kami berusaha menandingi raungan mesin ketinting yang bersusah payah melawan arus ke arah hulu sungai .
Kami, yang sempat tertidur diatas perahu - maklum, tak ada gunanya ngobrol dengan suara mesin ketinting sekeras itu– sontak terjaga. Mencari-cari arah yang di tunjuk Eddi, puluhan monyet –macaca fascicularis - tampak bercanda meningkahi cabang-cabang semak di bibir tebing. “dua jam lagi kita sampai, kita sudah masuk kawasan karst Marang ..!”ujar PIndi Setiawan, peneliti spesialis lukisan prasejarah, penjelajah gua, sekaligus pemimpin rombongan kami. Perahu ketintingnya merapat ke perahu kami yang melambat.
Benar saja, tak jauh di belakang hutan, menyembul tebing-tebing menjulang. Ratusan gunung kapur atau karst itu terpacak dan puncak-puncaknya yang tajam dan lancip menjulang mencakar langit. Semkin ke hulu, tebing-tebing itu semakin dekat, bahkan membentengi sungai.
Sungguh kontras dengan pemandangan sehari sebelumnya, dimana hanya hutan yang memagari perjalanan kami. Dan berada di titik terendah diantara tebing-tebing ini kami terasa begitu kerdil. “mirip kalau kita berjalan diantara gedung-gedung di apartemen Jakarta ya… “ celetuk Wowo Sujarwo, salah seorang anggota kru film dokumenter kami.
Bagiku sebaliknya. Tebing-tebing pucat itu tak hanya tinggi menjulang. Tapi juga menyimpan sejuta misteri. Tak banyak yang tahu di perut tebing-tebing itu, didalam kegelapan gua-guanya tersimpan peninggalan prasejarah, berupa lukisan tapak-tapak tangan purba berusia lebih dari 10 ribu tahun !. Tertua yang pernah ada di Indonesia. “di daerah lain di Indonesia lukisan gua, sekurang hanya berusia sekitar 3000 hingga 4000 tahun saja” ujar Pindi (W-***) yang telah melakukan penelitian di kawasan karst Marang ini selama sepuluh tahun.
Dari hasil penelitian Pindi bersama tim peneliti dari Perancis, sekurangnya terdapat 28-an gua yang di dinding-dinding kapurnya terdapat lukisan purba. Dan Pindi akan membawa kami ke dua gua yang menyimpan ‘masterpiece’ dari lukisan purga tadi, gua Tewet dan Ilas Kenceng. “disana kalian akan menemukan misteri alam yang paling indah” tutur Pindi saat kami melakukan brifing di Jakarta.
Rasa ingin tahu yang besar, serta keinginan untuk membuat dokumenternya (telah tayang di RCTI, dalam program GAPURA, pada Juni 2005), membawa kami hingga ke arah hulu Bengalon ini. Enam perahu ketinting, 26 anggota tim – termasuk porter, motorist, pejabat setempat, dan para peneliti -, puluhan koli perbekalan, dan segenggam semangat.
“ itu gua Tewetnya” teriak Eddy sambil menunjuk ke arah tebing. Gua yang dimaksud tidak terletak di atas permukaan tanah, tapi nun jauh di atas sana. Tepatnya di ceruk dinding tebing, tersembunyi dibalik semak. Gila!. Itu berarti besok kami harus memanjatnya. Gelegak adrenalin terasa memuncak.
Awalnya kami akan membuat base camp tak jauh dari gua Tewet, tapi urung. Kami akan bermalam di Liang Unak, di arah hulu. Bergabung bersama tim peneliti arkeologis Indonesia-Perancis yang sedang melanjutkan penelitian disana. “Bengalon sedang pasang, jadi besok kita hanya butuh waktu satu jam untuk turun ke sini” ujar Pindi.
Dan matahari hampir habis sinarnya ketika perahu-perahu ketinting kami di belokan ke arah anak sungai kecil, sungai Danum. Sesuai namanya, sungai jernih, dasar-dasar sungai terlihat memantul ketika perahu kami satu persatu memasukinya.
Kami akhirnya sampai di Liang Unak, base camp para peneliti. Kami disambut Jean-Michael Chazine, Julian Espagne, dan para arkeolog. “ kabar kedatangan kalian sudah kami dengar, selamat datang!” ujar papi-Mike, panggilan akrab Jean-Michael Chazine.
*@*
Sudah kami duga, memanjat Gua Tewet bukanlah perkara mudah. Sebelum sampai di dasar tebing, kami terlebih dahulu harus mendaki hutan terjal. Terjal karena pepohonon tumbuh diantara batuan karst yang tajam.
bak pemanjat tebing ulung, sesekali kami harus merambati dinding tebing. Tanpa bantuan tali, untungnya banyak akar-akar pohon dan ceruk-ceruk tebing yang menjadi pegangan kami. “ayo.. sedikit lagi..sampai !” seru Pak Akim, tetua adat Tepian Langsat, yang bergabung bersama kami menyemangati dari atas. Usia uzur bukanlah halangan baginya untuk tetap lincah menapaki tebing-tebing batu.
Baginya, urusan manjat-memanjat adalah masalah periuk nasi. Pak Akim, serta masyarakat sekitar pegunungan marang adalah para pengumpul sarang walet. Ribuan gua di gunung kapur ini tentunya sudah seperti ladang bagi mereka.
Bahkan, nama gua Tewet sendiri diambil dari nama seorang penduduk setempat yang pertama kali mengantar tim penelitian Pindi kesana. Pak Tewet, mengaku pernah melihat gambar-gambar cadas, saat mereka mencari sarang walet “mereka sendiri telah mengetahui keberadaan gambar-gambar cadas itu sejak puluhan tahun silam.Tapi mereka tak menyadari betapa pentingnya gambar cadas ini” kisah Pindi.
Satu jam berlalu kami akhirnya sampai di dasar tebing tegak lurus. Bukan waktu yang singkat, mengingat jumlah rombongan kami, plus kamera DVC-pro, tripod, batere-batere, dan perbekalan.
Seutas tali menjulur dari atas. Pindi dan Ham terlihat menunggu di atas sana, sekitar 30 meter. Sementara Fathul ‘Toink’ Arifin –anggota HIKESPI- menggantung di tengah jalur tali, menjadi belayer. Mereka memang berangkat lebih dahulu membuat jalur.
Sementara itu, kami mendokumentasikan kegiatan ekskavasi para arkeolog di liang Akim – tak jauh dari Liang Unak -. Disana para peneliti melakukan ekskavasi kerangka manusia yang diduga berusia ribuan tahun. “kerangka ini akan diteliti lebih jauh, mungkin akan menjawab teka-teki siapa penggambar lukisan cadas itu” ujar Papi-Mike.
“Inilah gua Tewet…” ujar Pindi ketika kaki ini menjejak ceruk sempit di ujung tali. Sang waktu seolah berhenti berdenyut saat kami memasuki gua Tewet. Tapak-tapak tangan berwarna merah menyapa hangat dari kegelapan masa silam.
Sublim, ramah namun sakral dan misterius. Tapak-tapak tangan itu memenuhi Langit-langit, dinding, hingga tubir-tubir gua. Sungguh, rasanya tak ada kata-kata yang sebanding untuk dapat melukiskan suasana saat itu. “ gila… gila.. memang gila…” hanya decak-decak itulah yang keluar dari mulut kami.
Diamati lebih teliti, cap tapak-tapak tangan seukuran sebenarnya dari tapak tanagn manusia dewasa itu, sepertinya dibuat dengan cara meletakan tangan di dinding gua, lalu menyemburkan cairan berwarna (batuan hematit merah yang ditumbuk dan di beri cairan) disekelilingnya. Uniknya di tengah telapak tangannya yang tersisa putih, tertoreh lukisan lain. Sepintas menyerupai tato. Bentuk-bentuknya berbeda.
Ada yang berupa strip-strip, titik-titik, atau gabungan keduanya. “ kami sudah menghitungnya, diantara ratusan tapak tangan ini, ada sekitar 125 tapak tangan yang bertato” tutur Pindi.
Semua saling terjalin memenuhi langit-langit. Ada juga gambar yang menyerupai rusa, yang digambar dengan outline garis-garis berwarna hitam.
Adakah semua ini memiliki arti ? manusia gua seperti apa yang melukiskan semua ini ? dan pesan apa yang berusaha mereka sampaikan dengan melukis semua ini ?
Seribu pertanyaan memenuhi benak kami. Dan tidak semuanya terjawab, karena hingga kini penelitian memang belum selesai. Seperti manusia gua seperti apa yang menghuni gua-gua ini, hingga kini masih menjadi teka-teki. Apalagi budaya melukis pada dinding gua tak terwariskan sedikit pun pada masyarakat Kutai Timur atau masyarakat dayak sekalipun. Ada semacam jaman yang terputus.
“yang pasti, berbeda dengan tapak tangan di gua lain, tapak tangan disini sepertinya merupakan penyataan kelompok ” ujar Pindi yang dalam penelitianya pernah mencoba bermalam dan menyalakan api unggun di Gua Tewet. Ini dilakukan untuk mengetahui efek cahaya api pada lukisan itu.
Dari sekian banyak teka-teki, para peneliti diantaranya berhasil menyimpulkan usia dari tapak-tapak tangan ini, yaitu sekitar 10.000 tahun silam. Ini berarti gambar-gambar ini dibuat saat pulau Kalimantan masih bersatu dengan benua asia, termasuk pulau jawa dan sumatra. Pulau Kalimantan sendiri memisahkan diri saat jaman es berakhir sekitar 15 ribu tahun silan “temuan itu memperkuat dugaan kami sebelumnya, ada gambar figur-figur binatang seperti tapir purba yang kini telah punah, dalam kurun waktu yang hampir bersamaan” lanjut Pindi.
Menerjemahkannya sendiri adalah bagian tersulit. Para peneliti berusaha mengelompokannya dalam bentuk goresan, warna, cara menggambarnya. Mereka membagi dua jenis gambar imaji konkrit dan simbolik. Simbolik, seperti tapak-tapak tangan ini, juga rusa jantan yang selalu di gambar transparan. “ itu menandakan roh” ujar Pindi.
Sementara imaji konkrit adalah gambar sebenarnya. Ikan, adegan perburuan, atau rusa betina. “di gua Ilas Kenceng nanti akan lebih banyak variasi bentuk, dan akan lebih mudah menjelaskannya” kata Pindi “ bersiaplah, karena perjalanan kesana lebih berat dan butuh waktu satu hari penuh berjalan kaki”
-@*@*@-
Kenyataannya, bagi kami butuh waktu tiga hari untuk mencapai gua Ilas Kenceng. Bukan apa-apa, dengan Dengan jumlah anggota ekspedisi sebanyak itu –tidak semuanya siap di lapangan - tentunya tak mudah menembus Ilas Kenceng. Apalagi letaknya yang sulit dijangkau, plus kawasan ini memang paling jarang di rambah para pemburu sarang walet.
Medannya pun beragam. Ke arah hulu sungai Bengalon, kami harus berbelok ke arah cabang sungai Marang. Di titik gua sungai, perahu ketinting tak bisa lagi terus kehulu karena kandas. Dari situ kami pun mulai berjalan kaki. Melewati hutan yang berbaur dengan batu cadas. Jangan salah, di hutan seperti ini, harus lebih hati-hati. “batuan tajamnya kayak pisau. Sol sepatu aja koyak, kalau kita jatuh, wassalam…nih “ ujar Wayan Astapala, kameraman kami.
Belum lagi seribu macam cobaan yang dihadapi tim. Mulai dari tersengat lebah, diserang serangga tertentu hingga seluruh badan melepuh, kaki sobek, hingga porter pembawa genset yang terkapar. Dan hampir seluruh anggota kru film kami kebagian sakit, termasuk aku yang sempat terserang demam tinggi. “ tapi entah mengapa, setiap kali saya ada niat ke sana, selalu saja muncul halangan-halangan” kata Pindi.
Menjelang puncak Ilas Kenceng, turun hujan badai. Tapi justru inilah yang membakar semangat kami – mungkin karena puncak sudah dekat -.
Puncak Ilas Kenceng yang sejatinya tak seberapa tinggi itu,-XXX m- menjadi pelipur lara, walaupun “ yah… guanya masih jauh lagi ya dari puncak sini…” kecewa Dhika Shakiya, presenter kami, karena masih harus melipir, dan merambati tebing lagi.
Tapi di gua Ilas Kenceng semua itu sirna. Sumpah ! berada di dasar gua ini, kami serasa berada dalam bangunan ibadah. Luas, lapang, tinggi dan takzim. Langit-langit tinggi, sekitar 50 meter di atas kam, meyerupai kubah . Sementara dari mulut-mulut gua (ada tiga) cahaya matahari mencercah menyinari seluruh ruangan kubah. Dan tapak-tapak tangan itu kembali menyapa kami dari kegelapan masa silam.
Di gua Ilas Kenceng inilah, ditemukan adanya gambar tapir purba, pohon purba dengan rusa jantan ber-outline transparan, adegan berburu, hingga ikan yang menyerupai ikan duyung.
Bahkan penentuan usia lukisan gua ini ditemukan di gua ini. Di dalam salah kegelapan ceruk gua yang tak lagi ‘tumbuh’ ini, terdapat tapak tangan yang tertindih batu gorden, -salah satu bentuk ornamen gua-. Aliran air yang membentuk batu itu telah berhenti, dan kering. “dari penelitian unsur karbon batu itu sendiri berumur 10 ribu tahun” ujar Pindi “ sementara pewarna tapak tangan itu tak memiliki unsur karbon sehingga tak bisa diketahui usianya”
Dan memang yang terindah ada disini. Berupa sekumpulan tapak tangan sebanyak enam buah, berwarna merah darah. ‘Sebuket’ tapak tangan ini terpisah dari tapak lainnya, dan agak tersembunyi. “ kami para peneliti menganggap inilah ‘masterpiece’ -nya “ ujar Pindi.
Dan senja menjelma, ketika kami mulai mempersiapkan alas tidur di dasar gua, dan memasak. Dalam temaram gua, suara satwa-satwa malam mulAi menggema, kelelawar, monyet, hingga burung wallet yang kembali pulang. Ya, burung-burung walet itu tidak hanya memberikan rumahnya pada manusia, tapi sepertinya merekalah juga yang turut menjaga tapak-tapak tangan itu terus menyapa, hingga kini.
Hai manusia.. kusulam lembaran untukmu jua
Tapi tunggulah hingga darahku terbang bersama
Demi kelanjutan hidupmu jua
(BW, ews, 2005)
No comments:
Post a Comment