Sunday, February 18, 2007


12 AGUSTUS

Pesawat take off jam 2 malam dari Denpasar, membuatku tak bisa tidur. Tepatnya kurang tidur. Apalagi perjalanannya pendek cuma 2,5 jam kearah timur, melawan pagi. Saking ngantuknya aku bahkan nggak makan apa-apa di pesawat.
Pesawat akhirnya sampai di Darwin sekitar jam 6 pagi. Bingung mau kemana, karena aku belum memesan hotel manapun. Gila emang..

Celingukan di pagi buta, akhirnya kuputuskan untuk menginap di FrogsHollow, hostel untuk backpacker yang alamatnya kudapat dari internet. Aku naik taksi.

Darwin jam 6 pagi masih gelap dan sepi. Pohon willow dimana-mana. Hijau dan sejuk kayak di Bali. Kata supir taksi, suasana Darwin memang tak jauh beda dengan Indonesia..

Sampai di frogshollow, - yang di internet tertulis sebagai hostel backpackers terbersih - ternyata nggak ada single room yang kosong.

So, aku terpaksa chek in di dorm, a room with 8 beds.
“ mau yang mix atau yang khusus cewek ? “ tanya frontdesknya. Gila apa ya khusus cewek dong.

Akhirnya dengan gembolan 2 ransel aku masuk dorm, yang sudah terisi 4 cewek... hmm mereka masih pada ngorok waktu aku masuk, jadi mudahan nggak denger krasak kresek waktu aku bongkar tas. Apalagi aku dapat jatah di atas bunkbed).

Setelah pasang seprei, cuci muka, terus tidur.

Bangun-bangun ternyata udah jam ½ 12 siang dan udah sepi. Baru deh keliatan tuh hostel emang bersih. Ada kolam renang. Dapur besar.
Setiap orang diberi kebebasan untuk masak sendiri. Lucu juga. Kayaknya nggak ada hostel model begini di Jakarta.

Keliling-keliling, pikir-pikir. Asyik juga nih hotel. Akhirnya kuputuskan untuk stay disini selama aku di Darwin. Apalagi ratenya Cuma AU$23.

Siang bolong, ngayuh sepeda sewaan dengan perut keroncongan keliling kota Darwin. Kupikir di jam makan siang gini, Darwin bakal ramai. Ternyata sepi banget. Memang ternyata ini kota kecil. Nggak ada bangunan tinggi, sementara jalan raya lebar-lebar. Well, ini kota emang well propered from my architecture view..at least after Bogota.
Kukayuh sepeda menyusuri Chavenagh street. Ada restoran Sari Rasa disana. Punya orang Indonesia.

Semua pedestrian dibuat nyaman.. bahkan senyaman mungkin untuk dilalui disable people, kereta bayi, dan bicycles. Nggak ada motor disana. No crowded, no rubbish on the street, definitely clean and neat. Dan sepi. Ternyata memang nggak banyak penduduknya. Populasinya, bayangkan, 1 orang per 8 km persegi.

Aku ikutin kemana sepeda mengayuh, setelah makan siang di restoran China.
Di Bicentenial park, wheres the sound ”bump.. bump !! “ come, I found a new stage installed in the middle of thepark with the aboriginal drum on it.
“ Oh.. there will be a Darwin festival today..” kata seorang perempuan yang kutemui.

Bicentenial park terletak di pinggir tebing yang menghadap kelaut. Pemandangannya sangat indah. Lalu kulihat ada 2 orang gadis yang sedang piknik di atas rumput. Mereka segera ringkes-ringkes begitu seorang aborigin tua, hitam dan kusut mendatangi mereka.
Inilah mungkin pemandangan yang hanya mncul disini. Diantara orang-orang bule yang ’snob’, aborigin people memang terlihat sebagai fenomena sosial yang sangat jomplang.

Tak pernah kulihat di seluruh sudut kota, di bis, di mall, dimana saja, orang aborijin memakai sepatu. Tak pernah kulihat mereka duduk dibelakang setir mobil mewah yang sliweran di Mitchell atau Chavenagh street.

Entah kenapa. Belakangan baru terjawab.

Malam hari ketika kembali ke hostel, barulah aku kertemu dengan teman-teman sekamarku. 2 cewek asal Sydney, 1 cewek Jepang, dan seorang nenek dari Norway, Sissel. Aku sempet ngobrol panjang dengan Sissel setelah masak makan malam. Dia ternyata punya kesan pertama yang sama tentang orang aborigin di Darwin.

Sissel, 55 tahun, wanita yang sangat sinis terhadap segala sesuatu. Terhadap ibunya yang harus dia jaga seumur hidup, yang membuatnya terdampar di Darwin, melarikan diri. Terhadap Indonesia yang katanya tidak akan dia kunjungi sampai kapanpun, karena penuh teroris.

Terhadap sikap Australia pada orang Aborigin. ” mereka selalu diperlakukan sebagai second citizen, even, they dont give them a chance. I bet, if the ausy government let them equal, they are more brilliant then any other Australian “ begitu katanya.

Well Sissel I agree with u about this.

No comments: