Wednesday, January 23, 2008

Aki Otto

Dialah teladan itu. Seorang Bratasena sejati, yang semangat juangnya tak mati termakan usia. Sempat tak percaya, ketika mendengar professor Otto Soemarwoto hadir di Cicaruk. Aki Otto, demikian abah Iwan (Iwan Abdurrahman) memperkenalkan pada kami malam itu. Dia duduk tepekur di sudut berusaha menyimak apa yang terjadi disekelilingnya.

Ketika semua orang ‘tergagah-gagah’ menggunakan land rover, dia memilih berjalan kaki dari barak Situ Lembang menuju Cicaruk. Bukan jarak yang dekat untuk orang seusia dia, 83 tahun. “ saya ini sudah tua, tapi bukan berarti saya tidak mampu “ tutur abah Iwan mengungkapkan alasan Aki Otto saat menolak diantar landrover.

Aki Otto tidak mengada-ngada. Aku masih teringat sekitar dua tahun silam, bagaimana Cahyo Alkantana (ketua himpunan kegiatan Speleologi Indonesia, HIKESPI) ketar-ketir menanggapi permintaannya. Bagaimana tidak, saat itu Aki Otto memohon turun – lebih tepatnya ‘memaksa’ – ke luweng grubug. “ saya ini orang lingkungan, buat apa kalau saya nggak turun langsung ke lapangan, saya mampu ! ” ujar Aki Otto yang di masa mudanya sempat menjadi mualim kapal kayu ini.

Tapi masalah ‘turun langsung’ inilah yang membuat Cahyo mengurut keningnya memutar otak. Bukan apa-apa. Luweng Grubug adalah gua vertical sedalam 90 meter, yang hanya bisa dituruni secara professional oleh seorang caver dengan cara single rope technique (SRT), atau turun menggantung dengan satu tali saja. cara termudah adalah turun dari Luweng Jomblang yang dalamnya hanya 60 meter, lalu berjalan kaki sejauh 500 meter di dalam gua horizontal yang gelap gulita.

Akhirnya cara kedualah yang ditempuh Cahyo dan kawan-kawan Hikespi. Aku masih ingat bagaimana kawan-kawan Hikespi rapat selama 3 jam semalam sebelumnya, memperhitungkan segala kemungkinan dan safety procedure bagai penjelajahan Aki Otto ini. Ini semua dilakukan demi mengantar begawan ekologi Indonesia ke Luweng Grubug.

Ahli Ekologi mana yang tak ingin turun langsung ke lapangan menyaksikan fenomena alam Luweng grubug.

Tak banyak yang tahu, di tengah tandusnya tanah karst Gunung Kidul, air berlimpah ruah di perut bumi. Mengalir menembus lorong-lorong gua di bawah tanah, menjadi sebuah sungai bernama kali Suci. Nah, kali Suci ini menggelegar mengalir deras di dasar luweng grubug. Di kedalaman 90 meter di bawah permukaan tanah ini, riak air Kali Suci berkilat-kilat disinari cahaya matahari yang menembus masuk melalui lubang di mulut Luweng Grubug.

Ahli ekologi mana yang tak ingin menyaksikan langsung fenomena alam ini. Termasuk Aki Otto.

Akhirnya tibalah hari dimana Aki Otto harus turun dengan peralatan SRT melalui Luweng Grubug. Segala pengaman dipasang di tubuhnya, mulai dari body-harness, hingga tali dan karabiner pengaman berlapis-lapis. Cahyo mendampingi langsung proses turunnya Aki Otto dengan jalur tali yang berbeda disisinya. SAtu tali pengaman dihubungkan dengan Cahyo langsung.

Kami yang sudah menunggu di dasar luweng grubug, berdebar menanti aki Otto, ‘dikerek’ setinggi 60 meter. Begitu sampai di dasar, tak sedikitpun raut pucat terlihat diwajahnya. “sekarang saya jadi mengerti kenapa kalian-kalian senang keluar masuk gw “ ujarnya sambil tersenyum lebar.

Begitu juga Sepanjang perjalanan di dalam luweng Jomblang-Grubug, tak sedikitpun Aki Otto mengeluh. Dengan serius dia menyimak semua penjelasan Cahyo yang dengan telaten menuntunnya. Sore hari, semua bernapas lega, ketika Aki Otto kembali ke permukaan tanah. Cahyo hanya berkomentar, “ saya salut dengan beliau, belum tentu nanti, di seusia dia saya masih mau turun langsung ke lapangan. Hebat ! “

Penjelajahan itu sendiri bukan sekedar ‘jalan-jalan’ bagi Aki Otto. Di bibir Luweng, dia masih sempet memberi ‘kuliah lingkungan’ bagi kami. Menurutnya Luweng Grubug adalah sebuah harta karun yang luar biasa bagi warga Gunung Kidul yang melarat dan kesulitan air. Debit air yang mengalir deras di Kali Suci, bisa dimanfaatkan menjadi sumber air bagi warga Gunung Kidul. Tidak hanya itu, fenomena alam, di Luweng Jomblang-Grubug bisa diolah menjadi ekowisata. Bukan para pecinta alam yang mengantar para ‘turis lingkungan’ masuk kedalam Luweng nantinya. Tapi penduduk desa disekitar Luweng lah yang harus diberdayakan.

Hampir dua tahun berlalu, teladan sang Bratasena tak berakhir di Luweng Grubug. Di Situ Lembang, dia menolak ketika diminta menyaksikan upacara penanaman pohon di barak Situ Lembang. “ Saya tidak mau hanya melihat orang menanam pohon saja. Buat apa. Yang terpenting adalah bagaimana menyaksikan bagaimana pohon yang tanam itu dirawat dan tumbuh menjadi besar “ demikian.

Dengan jiwanya yang bersih dan tulus, sungguh, dialah Begawan Bratasena sejati itu.

2 comments:

rewrite by budi.afriyan said...

wah....edhun ya....euweuh paehna

Andi Muhlis said...

"..Surga, di bawahnya mengalir sungai-sungai."

Ini model lingkungan yang ideal yang digambarkan di Quran. Beruntung Ndah, bisa melihat sungai-sungai bawah tanah itu di dunia fana ini. Kebanyakan sungai-sungai itu mulai mengering, mematikan mata air - mata air. Airnya tidak lagi meresap ke dalam tanah, tapi berubah menjadi aliran permukaan yang sering menjadi petaka .. dalam bentuk banjir dan longsor.

Bagi-bagi foto-fotonya dong ...