Jejak Affandi di Venesia
Venice, 23rd December 1953
".. I wish to tell you how interesting the stand of your country has been for me. This is why I would like The Exprezione Internazionale Biennale d'Arte at Venetia to be the first to show to Italy such a high level artist as Affandi. The Biennale di Venice will put your disposal a room, if you are willing to accept our offer. "
The Secretary General
Prof. Rudolf Palluchène
Potongan surat di atas seperti menjadi saksi. Datang dari salah seorang kurator di Venesia untuk Affandi, setengah abad lalu. Saat itu kota air ini akan disesaki seniman dari segala penjuru dunia. Pembicaraan orang-orang di gondola pun tak jauh dari sebuah hajat besar yang sedang digelar di kota itu, "La Biennale di Venice". Bienal Venesia, sebuah ajang pameran seni internasional dua tahunan, tertua, dan terbesar. Tak kurang dari pelukis-pelukis besar seperti Picasso hadir di sana.
Jauh dari keriuhan nama-nama besar itu, seorang pelukis dari sebuah negara Asia yang baru merdeka hadir di sana. Affandi mendapat undangan langsung untuk mengikuti Bienal Venesia dari sang profesor seorang. Potongan suratnya menunjukkan bagaimana minat Rudolf terhadap karya-karya Affandi, yang sebelumnya sukses mengikuti Bienal Sao Paulo di Brazil. Surat itu sendiri terekam di buku Corat-coret Affandi, yang ditulis Mochtar Apin.
Menurut Kartika, putri sulung Affandi, saat itu ayahnya sedang berada di London, mengunjungi Kartika yang melahirkan cucu pertamanya. Ia menerima dua undangan: dari profesor itu dan dari Menteri Kebudayaan Indonesia saat itu, Priyono. Mereka ingin Affandi mengikuti Bienal Venesia, mewakili Indonesia.
Berangkatlah Affandi ke Venesia. Menurut Kartika, Affandi membawa sekitar 40 lukisan. Semua merupakan hasil garapannya sepanjang 1938-1953, tatkala si pelukis melawat ke India dan Eropa. Semua bergaya ekspresionis, di antaranya Gadis Inggris, London Bridge, dan Kelahiran Cucuku Pertama.
Seingat Kartika, di acara bienal itu Affandi tidak mendapat penghargaan dari penyelenggara. Tapi opini publik yang diperlihatkan dari media massa justru mengatakan seharusnya Affandi yang menerima penghargaan. Namanya, menurut Kartika, memenuhi media massa setempat saat itu. Penghargaan datang juga dari Bung Karno untuk Affandi, yang setelah bienal itu menetap di Italia. "Bung Karno mengirim telegram kepada Affandi, mengucapkan selamat dan terima kasih karena sudah membawa nama bangsa," cerita Kartika kepada TEMPO.
Sayangnya, tidak ada dokumentasi sejarah yang menegaskan kehadiran Affandi di acara bienal itu. Misalnya, selain undangan dari sang profesor, tidak ada katalog atau catatan kurator Affandi saat itu. Inilah yang membuat ragu pengamat seni Jim Supangkat. "Buktinya hanya undangan profesor itu," ujar Jim Supangkat. Menurut Jim, kemungkinan besar, kalaupun Affandi berangkat ke bienal, dia tidak mengikuti pameran utamanya (core exhibition) yang biasanya diikuti oleh maestro dunia sekelas Picasso. Ada kemungkinan Affandi hanya ikut pameran di sebuah galeri di Venesia.
Apa pun itu, yang pasti Affandi memang pernah mewakili Indonesia dan tidak pernah merasa minder berada di tengah seniman dunia, apalagi di sebuah perhelatan bienal internasional. Seperti yang ditulis Affandi dalam surat kepada sahabatnya, Muhamad Arsath Rois, pada 15 Juni 1954 di Amsterdam. Surat itu ditulisnya dari Roma setelah bienal itu: " tetapi ondanks det allis, kesenian Indonesia tida kalah dengan negri-2 ketjil seperti Portugal, Sweden, Noorwegen, Finland, Egypt?."
Endah W.S.
No comments:
Post a Comment