Friday, September 21, 2007

TEMPO, 15 Februari 2004

Revolusi dari Kamar Mayat

Grup metal Korn tampil di Jakarta pekan lalu. Mengalirkan gelegar musik paling gres: nu-metal.

Imut dan lembut, delapan boneka domba yang berjajar di panggung itu seperti menatap kerumunan penonton yang gelisah karena Jonathan Davis dan guyuban metalnya tak kunjung muncul. Barangkali ada yang abai, mungkin juga ada yang menatapnya dan memikirkan tentang domba-domba tersesat. Histeria penonton meluap ketika seorang teknisi panggung menaruh tongkat mikrofon. Masih terselubungi kain hitam. Tapi semua tahu, bila kain disingkap, tongkat mikrofon berbentuk patung perempuan telanjang yang akan tampak. " We want Korn, we want Korn...," teriakan ini membahana, berulang-ulang.

Penonton tak menunggu lebih lama lagi. Begitu personel Korn muncul, ingar-bingar pun meledak. Davis, sang vokalis, langsung menggeber Right Now. Ia seperti hendak membuang habis seketika energinya. Kocokan pick di tangan James "Munky" Shaffer dan Brian "Head" Welch pada gitar mereka yang berdawai tujuh bergemuruh keruh dan berat, betotan bas Reginald "Fieldy" Arvizu berdentam-dentam, dan gebukan drum David Silveria menderu. Semuanya menghambur dari tata suara berdaya ribuan volt. Udara dan tanah terasa bergetar, bergelombang.

Bagai terhipnotis, penonton serentak melakukan ritual yang lazim dalam konser metal. Mereka bergerak serempak, dari saling adu dan dorong badan (moshing) hingga mengentak-entakkan kepala (head banging). Dan bukan tanpa korban. Ada yang nyaris pingsan. Mereka ini segera diangkut tim medis ke luar arena. Mereka yang bertahan terus mengikuti "sang nabi", Davis, dengan meneriakkan setiap bait lagu yang dinyanyikan. Mereka seperti merapal requiem—lagu pengiring kematian. "...I think it's time to bleed/I'm gonna cut myself/ and watch the blood hit the ground/Right now...."

Sambil menggenggam mikrofon andalannya, Davis bergerak ke sana-sini. Tubuhnya yang agak tambun tak mengurangi kelincahannya. Berbeda dengan harapan sebagian penonton, ia hanya mengenakan kostum sederhana, celana training dan jaket olahraga. Begitu pula teman-temannya. Belakangan jaket itu dilepas, berganti kaus berlengan buntung dan bergambar salib.

Jakarta sejatinya mendapat kehormatan disinggahi Korn, grup yang kini tengah menjadi big star musik metal genre paling gres. "Dalam jajaran grup metal dunia, posisi mereka kini ada di paling atas," kata Denny M.R. Keistimewaan itu kian lengkap karena Korn juga baru saja merilis album Take a Look in the Mirror, November lalu. Di antara grup-grup sealiran, misalnya Limp Bizkit atau Linkin' Park, Korn-lah yang oleh media dan kritikus musik dijuluki sebagai pelopor nu-metal (baca "niu" metal, dari kata new = baru).

Dalam peta musik metal, nu-metal tergolong kontroversial. Ada yang menganggapnya sama sekali bukan turunan metal yang dasar-dasarnya diletakkan pada 1970-an oleh grup-grup seperti Led Zeppelin atau Black Sabbath, yang lalu dikembangkan dan dimodernkan antara lain oleh Iron Maiden, Metallica, dan Dream Theater. Tapi pendukungnya tak peduli. Pandangan yang lebih netral merujuk pada dominasi tata suara gitar yang distortif, bergemuruh lagi keruh dan berat, dengan seteman nada yang jauh lebih rendah dari normal. Inilah, kata mereka, ciri utama metal.

Korn, yang resmi terbentuk pada 1992 di Bakersfiled, California, kenyang mengunyah semua pendahulunya itu. Masuk juga dalam menu mereka musik hip-hop, rap, bahkan pop. Begitu santapan itu mereka muntahkan, lahirlah nu-metal. Debut album mereka, Korn, diluncurkan pertama kali pada 1994, setelah mengembara dari festival ke festival. "Mereka tidak lagi hanya mengandalkan kecepatan dan kerasnya musik metal. Tapi mereka menggali lagi dinamika melodi dan performans musik metal," ujar Denny. Ini terasa sekali ketika Korn memasukkan petikan melodi lagu klasik London Bridges is Falling Down untuk kemudian ditrabrakkan dengan gemuruh gitar listrik.

Dalam konser di area depan Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, itu Davis juga sempat memainkan bag pipes, alat musik tiup khas Skotlandia, dengan nada yang sangat liris dan sublim untuk kemudian diikuti entakan dan gerungan vokal dan raungan gitar Munky dan Head. "Butuh keberanian menggabungkan hal-hal seperti itu dalam musik metal, dan Korn selalu jeli mencari sesuatu yang baru," kata Denny pula.

Korn sendiri tak peduli akan gelar pelopor nu-metal. Bagi Korn, "Revolusi musik dapat dimulai dari mana saja, dari tanah tertua di Athena hingga kota kecil kumuh Bakersfield, California, tempat kami semua tumbuh," ujar Fieldy, dalam biografi resmi mereka yang dirilis di situs Korn.

Davis bahkan mengaku memulai revolusinya dari kamar mayat. Ketika terpilih menjadi vokalis Korn, dia praktis meninggalkan profesinya sebagai pegawai autopsi dan penjaga kamar mayat, pekerjaan yang sudah digelutinya lebih dari tujuh tahun (Davis sempat mengambil gelar kesarjanaan di San Francisco's School of Mortuary Science). "Membedah, mengorek-ngorek, memandikan, hingga membalsam mayat adalah latar belakang saya," ujar Davis kepada TEMPO dalam jumpa pers.

Hal itulah yang sebenarnya melandasi musik mereka, terutama lirik-lirik lagu mereka yang menyuarakan kemarahan dan pemberontakan, acap kematian—tema-tema yang menurut Denny "berangkat dari keseharian mereka sendiri dan tidak dibuat-buat". Dan itulah pula yang sepertinya menyihir sekitar 7.000 penggila musik metal Indonesia. Mereka, yang kebanyakan di bawah usia 30-an, datang dari pelosok-pelosok. Baeng Setiawan,18 tahun, misalnya, berasal dari sebuah kampung di Tangerang. Demi membeli tiket festival di bagian belakang seharga Rp 150 ribu, ia merelakan uang jajan selama sebulan. Ia puas menikmati sekitar 15 hit Korn, yang kebanyakan diambil dari album terakhir.
Sebuah sukses yang tentu membuat lega sang promotor, Adrie Soebono. Apalagi konser mulus berakhir tanpa kerusuhan. Padahal, "Selama konser, jantung saya mau copot," kata bos Java Musikindo itu seusai konser yang dibuka oleh band lokal asal Bandung, /rif.

Di tempat karantina penonton yang pingsan, di samping kanan panggung, TEMPO menyaksikan kegilaan tak seketika berakhir. Daya sihir Korn tak hilang sampai mereka benar-benar menghilang ke balik panggung. Penonton yang sudah lemah berbaring bagai mayat-mayat hidup bangkit lagi ketika Davis menyanyikan lagu favorit mereka. Dan mereka pun merapal jeritan hati Davis: "I'm sick mom Where's a fight Dad?! /Dealing with your life/Dead bodies everywhere...."

Endah W.S.


Thursday, September 20, 2007

TEMPO, Juni 2003

Anak Kebayoran di Lintasan Shakir

MORENO Soeprapto, 21 tahun, terduduk lesu. Balapan Formula BMW Asia seri kedua baru setengah jalan, mobilnya harus didorong masuk pit. Anggota tim Minardi Asia ini memang ketiban sial. Setelah menggeber empat lap dan sempat memimpin, mesinnya tiba-tiba ngadat dan ia gagal menyelesaikan 10 putaran balapan. "Kenapa saya yang ketiban sial? Kalau enggak ada masalah mesin, seharusnya Indonesia Raya akan mengumandang di podium," ujarnya kepada TEMPO.

Pemuda yang tinggal di Kebayoran, Jakarta, ini tidak sesumbar. Minggu siang pekan lalu itu peluangnya majang di podium sangat besar. Saat berbalap, posisinya sempat melorot, tapi dengan meyakinkan ia berhasil menyodok lagi ke posisi pertama. "Sebelum tiba-tiba mobil saya ngederedet," ujar Reno, nama panggilannya. Apa boleh buat, podium pertama direbut pembalap tim Meritus, Marchy Lee.

Sebelumnya, saat kualifikasi kedua (dipakai untuk race kedua ini), Reno berhasil merebut posisi start terdepan. Dari 30 menit yang disediakan untuk 17 pembalap saat kualifikasi kedua itu, ia mencatat 2 menit 10,8 detik. Hanya berbeda 0,215 detik dari rekan setimnya, Tyson Sy, yang asal Filipina. Formula BMW terdiri dari dua seri balap dengan dua kualifikasi berbeda.

Dengan posisi start terdepan, Reno merasa sangat siap, meski baru mempersiapkan diri tiga minggu sebelum balapan di Shakir. Apalagi, pada kualifikasi pertama untuk race pertama Sabtu pekan kemarin, ia juga mencatat waktu dan posisi lumayan. Dia start di posisi kelima dan finish di posisi keempat.

"Bagus untuk ukuran dia, yang sudah tiga tahunan enggak ikut balap Formula. Terakhir dia ikut Formula Renault di Italia, 2001," kata ayahnya, Tinton Soeprapto, yang mendampingi Reno di Shakir bersama Ananda Mikola, kakaknya.
Bahkan manajer tim Minardi Asia, Piers Hunnisett, sebelumnya sama sekali tak menjagokan Reno. Ketika ia mendapat pole position pada race kedua, semuanya dianggap aset tim. Banyak kalangan menyebut Reno berpeluang besar untuk menang. "Gaya balapnya cukup kalem dan punya strategi untuk balas menyalip kalau ketinggalan," kata sang ayah.

Anak muda kelahiran Jakarta ini memulai karier balapnya sejak usia 12 tahun dengan mengikuti balap gokart. Ia sempat jadi juara di beberapa balapan, di antaranya juara nasional Touring Car 1997. Dia juga sempat ikut serta dalam Formula Asia 2000.

Dan tahun ini, untuk balapan Formula BMW, ia terbilang "telat mendaftar" sebagai pembalap tim Minardi Asia. Para rekan setimnya dari Filipina, Dado Pena dan Tyson Sy, yang sudah bergabung lebih awal, Februari lalu, kontraknya baru ditandatangani tiga minggu sebelum balapan pertama di Shakir itu. Keterlambatan ini di antaranya karena awal Maret ayah Reno baru mendapat kepastian dari sponsor Telkomsel dan Oli Top 1, yang membantu sekitar US$ 150 ribu untuk seluruh seri balapan.

Melihat catatan waktunya saat balapan di Shakir kemarin, Reno berpeluang besar naik podium di balapan berikutnya di Sepang, Malaysia, awal Mei ini. Kini, di sela kuliahnya di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta, ia serius mempersiapkan diri.

Tinton, yang saat balapan di Shakir kemarin terlihat kecewa berat, berusaha menghibur diri. "Memang susah juara di Formula. Yah, minimal Moreno sudah ikut balapan di trek yang sama, hari dan penonton yang juga sama dengan balapan Formula Satu," ujarnya, getir.

Endah W.S. (Shakir)




Tuesday, September 11, 2007

Memburu Sirip, Mendapat Cokelat

Banyak nelayan Indonesia ditangkap patroli laut Australia karena melanggar batas laut antarnegara. Mereka memburu sirip ikan hiu yang harga jualnya mahal.


Tak ada tawa di sekitar meja biliar itu. Juga saat bola terakhir disundul meluncur masuk lubang. Stik bola sodok bertukar tangan, bola dikumpulkan, permainan dimulai lagi. Begitu seterusnya, tanpa sorak kemenangan. Meja biliar di sudut halaman Konsulat Jenderal RI di Darwin, Australia, itulah satu-satunya hiburan bagi para nelayan dalam masa tahanan. "Kami tidak boleh keluar pagar. Hanya

boleh bermain di sini," kata Roni Rahanwatty, nelayan asal Saumlaki, Maluku.
Inilah mimpi buruk para nelayan yang terdampar di Darwin. Mereka ditangkap oleh patroli laut Australia dengan tuduhan berlayar melewati batas laut antarnegara dan mencuri ikan di perairan Australia. Setiap hari mereka diharuskan melapor ke Konsulat; menjelang sore kembali ke kapal layar untuk tidur. "Sampai pekan ini ada delapan kapal nelayan Indonesia yang masih ditahan. Enam kapal di Gove Nhulunbuy, dua kapal di Thursday Island," ujar Teguh Wiweko, wakil konsul jenderal yang mengurusi kasus ini.

Menurut dia, sebulan ada sekitar 30 kapal tertangkap di Northern Territory Australia. Salah seorang yang tertangkap itu, Husen Tata Ishak, kapten kapal Kharisma asal Rote, Nusa Tenggara Timur. Ia memang sudah diizinkan pulang, tapi karena itu hatinya remuk. "Pedih rasanya ingat keluarga di rumah. Sebab, tak ada yang bisa saya bawa pulang selain baju yang saya pakai ini," ujar ayah tiga anak itu.

Berbekal beras tujuh kilogram, mi instan, dan empat drum air tawar, Agustus lalu ia berlayar ke selatan bersama lima awaknya. Sial, baru sekitar seminggu mencari sirip ikan hiu, Kharisma dicegat patroli laut Australia. "Saya dianggap memasuki perairan Australia sejauh 14,5 mil. Padahal saya masih di perairan netral, masih di sisi utara Challis Venture," tuturnya.

Challis Venture adalah anjungan pengeboran minyak lepas pantai milik Australia. "Kalau sudah mendekati anjungan itu berarti sudah melewati tapal batas yang diperbolehkan," kata Teguh. Itu memang patokan batas laut berdasarkan kesepakatan Indonesia-Australia. Dalam perjanjian 14 Maret 1997 itu disebutkan, di selatan tapal batas resmi RI-Australia ada kawasan netral (gray area) untuk menangkap ikan (kecuali teripang dan tiram) bagi nelayan tradisional maupun modern. Posisi anjungan Challis Venture di luar kawasan netral.

Namun tidak semua nelayan tahu. Husen Tata, nelayan tradisional yang cuma tamat SD itu, misalnya, hanya berbekal kompas biasa dan selembar peta yang dibeli dari Dinas Perikanan Rote. Selebihnya, ia mengandalkan naluri saja. "Kecepatan kapal layar saya lima mil per jam; butuh waktu 24 jam untuk sampai pas di ujung garis netral itu," ujarnya polos.

Tapi Roni, yang memiliki kapal mesin Mega Star yang dibekali peralatan navigasi lengkap seperti GPS (Global Positioning System) dan peta kedalaman laut, masih juga dianggap melanggar batas laut antarnegara. "Kalau yang melanggar nelayan tradisional, saya maklum. Tapi, untuk nelayan modern, saya sudah menyebar peta dan titik-titik koordinat ke berbagai pihak, termasuk ke TNI-AL Armada Timur, yang seharusnya memperingatkan para nelayan," ujar Teguh, yang sempat dituduh sebagai broker dalam pembebasan nelayan dan penebusan kapal.

Selama ini para nelayan Indonesia bisa ditahan sampai berbulan-bulan, terutama sebelum ada kebijakan Australia mengenai percepatan pemulangan bagi nelayan yang tertangkap, yang dikeluarkan awal Juli lalu. Kini, berkat kebijakan buah negosiasi Indonesia-Australia itu, mereka bisa dipulangkan setelah ditahan beberapa hari.

Kapal yang ditahan harus ditebus para pemilik kapal?biasa disebut cukong?kepada pemerintah Australia. Harganya tergantung usia dan fasilitas kapal. Yang termahal bisa mencapai puluhan ribu dolar.

Rugikah sang cukong jika kapalnya tertangkap? Tidak selalu. Menurut Paul Clark, pakar maritim di Darwin, seorang cukong biasa melayarkan 5-6 kapal sekaligus. "Kalau satu tertangkap, mereka masih tetap untung," kata Paul.

Dengan sirip ikan hiu berharga US$ 500-800 (Rp 4,5 juta-7,2 juta) per kilogram di pasar London dan Hong Kong, para cukong memang bisa untung besar. Dari nelayan mereka hanya membayar Rp 950 ribu per kilogram. Satu kali panen, sebuah kapal bisa mendapat 45 kilogram.
Yang melongo adalah para nelayan yang tertangkap. Husen Tata, misalnya, harus kehilangan 15 kilogram sirip ikan yang diperolehnya karena disita patroli Australia. Tak membawa pulang uang, untung ia mendapat tiga batang besar cokelat Cadburry dari kawan sekampung yang menetap di Darwin. "Lumayan, daripada pulang dengan tangan kosong," katanya.

Endah W.S. (Darwin)

Tuesday, June 12, 2007

Ketika Kembang Opium Bersemi

Panen opium Afganistan mencapai puncaknya tahun ini. Penyemprotan padang opium menyebabkan petani sesak napas dan pingsan.


Sebuah padang bunga di Jalalabad tak menyebarkan semerbak sebuah musim. Bukan karena Afganistan tak percaya pada puisi atau keindahan, melainkan karena padang bunga itu bernama poppy, setangkai bunga dengan getah kelopak yang mematikan.


Nun di Jalalabad dan seluruh Afganistan, yang mencoba membangun negara yang runtuh oleh perang yang tak berkesudahan, ada perang lain yang harus mereka hadapi: opium. Syahdan, seorang petani dari sebuah desa di Distrik Rohdat, Jalalabad, tengah bersikukuh bahwa di ladangnya hanya ada gandum dan bawang. Namun, jelas tanaman yang berserakan di ladangnya itu bekas panenan opium. "Semua petani di distrik ini menanam opium. Hanya orang bodoh yang tidak mau menanamnya," ujar seorang guru, tetangga Sowab.

Kebohongan ini adalah teknik biasa sejak PBB dan pemerintah Afganistan beberapa pekan silam menyalak. Mereka tidak hanya mengancam akan menangkapi petani seperti Sowab, tapi juga mengancam akan membumi-hanguskan ladang opium dengan semprotan udara. Cara ini dikenal efektif saat dipakai di Kolombia membasmi ladang kokain. "Kami memang akan membasmi ladang opium dari udara," ujar Presiden Afganistan, Hamid Karzai, dua pekan lalu.


Maka, dua pekan silam zat pelumat tanaman itu benar-benar disemprotkan dari udara. Pesawat-pesawat berseliweran di wilayah pedesaan, termasuk di Desa Sowab, memuntahkan butiran serupa salju. Alih-alih semprotan itu membasmi ladang opium, berbondong-bondong penduduk di utara menderita akibat sesak napas dan pingsan karena semprotan. "Di klinik saya saja ada 30 petani yang saya rawat setelah ladangnya disemprot," ujar Mohammed Rafi Safi, dokter di sebuah desa di Provinsi Nangarhar.

Betapa berangnya Karzai mendengar laporan ini. Pasalnya, dia mengaku belum mengeluarkan perintah penyemprotan. "Masalah ini jadi serius tidak cuma karena merusak tanaman lain, tapi juga mengancam integritas nasional lantaran dampaknya banyak melukai petani," ujar juru bicara Karzai, Jawed Ludin.


Parahnya, siapa pembawa pesawat itu masih misteri. "Tak ada yang mengaku. Yang pasti, Angkatan Udara Afganistan sendiri masih di bawah kontrol Amerika," ujar Gubernur Nangarhar, Din Mohammed. Karzai pun mempertanyakan hal ini secara resmi pada pihak Amerika. "Tentara AS tidak terlibat sama sekali," ujar juru bicara militer AS di Afgan, Mayor Mark McCann.

Apa pun itu, panen raya opium ini memang menakutkan banyak pihak. Tidak hanya ladang Sowab yang ditanami opium, tapi di seantero Afganistan, 15 ribu hektare ladang di 32 provinsinya, juga ditanami opium. Tanaman yang getah bunganya (poppy) menjadi bahan mentah morfin dan heroin ini juga ditanam oleh lebih dari 2,3 juta petani di sana.


Menurut laporan resmi PBB, produksi opium Afganistan memang melonjak dua pertiga kali tahun 2003, sebanding dengan heroin 4,2 juta kilogram. "Afganistan memecahkan dua rekor tahun ini, produksi opium terbanyak dalam sejarah Afganistan dan menjadi pemasok terbesar dunia saat ini," ujar Antonio Maria Costa, Direktur Eksekutif Narkotik dan Kriminal PBB, saat mengungkapkan laporannya dua pekan lalu. Tahun ini memang Afganistan menjadi pemasok opium terbesar (87 persen) dunia, melebihi produksi negara golden triangle Laos, Burma, dan Thailand.

"Kekhawatiran Afganistan akan menjadi negara narkotik seperti Kolombia (kokain) akan
menjadi kenyataan, apalagi didukung pemerintahan yang ko-rup," Costa menambahkan. Tidak bisa disangkal, hasil penjualan opium yang tahun ini saja yang mencapai US$ 2,8 miliar kini telah menjadi mesin penggerak utama ekonomi Afganistan, setara dengan 60 persen GDP (gross domestic product) Afganistan tahun lalu.


Kekhawatiran Costa masuk akal. Opium—di Indonesia dikenal salah satunya sebagai bahan shabu-shabu—memang tumbuh subur di daratan Afganistan. Opium sendiri bukan barang baru di Afganistan. Sebelum Taliban tumbang tiga tahun lalu, opium bahkan telah menjadi komoditas primadona. Masa transisi, setelah Taliban tumbang, membuat pengawasan melemah. Ini menjadikan siapa saja bisa menanam opium.

Apalagi, menurut penelitian PBB, opium kini telah menjadi kultur yang bahkan rantai bisnisnya sulit diputus. Mulai dari petani sekelas Sowab Khan hingga para baron (warlord), bahkan pejabat pemerintah sendiri, "terbius" bisnis opium ini.


Sowab, misalnya. Dengan hasil jual opium yang harganya bisa mencapai 10 kali harga gandum, dia bisa menghidupi keluarganya. "Saya tidak mau kembali ke kamp pengungsian di Pakistan. Dengan opium, saya bisa bertahan hidup di atas tanah saya sendiri," ujar Sowab.

Sejak kembali dari kamp pengungsi tiga tahun lalu, Sowab meminjam sejumlah modal dari baron setempat. Uang itu dipakainya membeli bibit dan memulai budidaya opium. Dengan harga jual opium $ 92 per kilogram, dia bisa melunasi utang sekaligus menghidupi keluarganya.


Yang paling diuntungkan tentu saja para baron. Mereka, selain menerima piutang, juga menarik pajak 10 persen dari para petani, 15 persen dari pemilik laboratorium opium, dan 18 persen dari distributor atau pengekspor. Belum terhitung termasuk pejabat pemerintah. "Merekalah yang justru secara resmi setiap tahun mengimpor 10 ribu ton bahan kimia pengolah opium menjadi heroin," ujar seorang anggota lembaga swadaya masyarakat.


Menurut Costa, dari total produksi opium, tiga perempatnya diolah di Afganistan dan diekspor dalam bentuk heroin. Rute ekspor gelap utamanya adalah melalui perbatasan Iran dan Turki. "Saya pernah menyaksikan iringan 64 truk pembawa heroin dan opium dalam kawalan tentara baron setempat," ujar seorang intel negara Iran kepada PBB.

Dari sana, heroin dan opium mentah dibawa ke pusat distribusinya di Istanbul dan Kota Tirana di Albania. Rute lain yang biasa diambil adalah melalui Pakistan dan menyeberangi perbatasan Tajikistan, atau Turkmenistan, lalu ke Kirgizstan dan Rusia. Semua bermuara di Belanda dan pusat distribusi utama heroin di Eropa. Dan ini tidak bisa dihindari karena, ironisnya, semakin dilarang, harga opium malah makin mendaki. Berita penyemprotan opium, misalnya, kini mendongkrak lima kali lipat harga opium di tingkat petani.


Endah W.S. (Reuters, AP, AFP, Belfast Telegraph)
Sepotong Makassar di Tanah Arnhem

Di Marege, pesisir utara Arnhem Land, para pelaut Sulawesi Selatan melabuhkan padewakang, perahu layar khas Makassar, sekitar empat abad silam. Di belahan Northern Territory itu (salah satu negara bagian Australia), mereka mencari teripang pada setiap musim berlayar setelah menempuh perjalanan panjang melintasi benua. Di sana, mereka bercampur-gaul dengan penduduk Aborigin—mempertalikan budaya, bahasa, dongeng, tradisi, dari kedua suku yang berbeda rumpun dan sejarah.
Hampir seabad sudah lewat sejak padewakang terakhir membuang sauh di Arnhem Land—dan meninggalkan jejak yang masih kuat terpatri hingga kini. Inilah catatan perjalananku menjelajah Arnhem Land pada Agustus 2004 dan merekam warisan leluhur para daeng pelaut Makassar di Benua Australia.

***

Jadi inilah Arnhem Land, tanah air suku Aborigin. Terpatri di semenanjung utara Benua Australia, kawasan itu terlihat seperti oasis tropikal dari balik jendela Cessna—pesawat mungil dengan 12 tempat duduk—yang tengah menerbangkan Aku ke Pulau Elcho. Terumbu karang menerawang di perairan dangkal dengan warna air yang kian biru di laut dalam. Tak ada buih ombak, entah kenapa. Mungkin ombak telah pecah di tengah laut, hingga riaknya sudah pupur begitu menyapu pasir pantai. Hutan tropis dan dataran sabana sedikit kabur oleh kristal embun yang menguap di bawah matahari bulan Agustus.

Inilah Arnhem Land, tanah tempat dongeng-dongeng warisan para daeng pelaut dari Makassar berabad lampau masih dituturkan dengan setia oleh kaum tua-tua kepada generasi muda Aborigin. Di bawah sana, panorama alam sungguh mengajuk hati untuk mendekat. Sesekali jalan tanah merah yang meliuk menyembul di antara rimbun pepohonan. Dan sederet tebing cokelat tiba-tiba mengingatkan kita pada pemandangan di kartu-kartu pos.

”Indah tidak tanah kelahiranku?” ujar Charles Yunupinju kepadaku. Di antara enam penumpang, lelaki Aborigin ini satu-satunya penumpang yang bisa duduk manis selama dua jam penerbangan Darwin-Pulau Elcho. Lima penumpang lain, termasuk Aku , serasa ingin meloncat dari jendela dan segera menyatu dengan panorama alam yang memanggil-manggil dari bawah sana. Sesaat kemudian, pesawat menjejak landasan kecil di Pulau Elcho. Ini salah satu pulau dari gugusan pulau kecil di lingkungan Arnhem Land di Negara Bagian Northern Territory.
Dari tanah ini, satu pertalian sejarah dan budaya dapat ditarik melintasi benua dan samudra menuju Makassar, nun jauh di Sulawesi Selatan. Alkisah, pelaut-pelaut Makassar membuang sauh di sana pada berabad-abad silam. Marege, demikian para daeng (panggilan lelaki dari Makassar) menyebut Arnhem Land. Pada musim tertentu, mereka meninggalkan Sulawesi dengan padewakang (perahu layar khas Makassar—Red.) untuk mencari teripang.
Teripang yang mereka ambil dari perairan dangkal di Arnhem konon besarnya mencapai ukuran paha orang dewasa dan berkualitas wahid untuk diekspor ke Cina. Alhasil, daeng-daeng pelaut ini bisa tinggal berbulan-bulan di pesisir. Mereka membangun perkampungan, hidup rukun bersama warga Aborigin. Sebagian menikah dengan wanita setempat dan memperanakkan keturunan Makassar-Aborigin. Darah campuran itu masih bertahan sampai sekarang

Menurut catatan sejarah, padewakang terakhir berlayar ke sana pada 1907. ”Saat itu pemerintah kolonial Inggris di selatan mulai merecoki mereka dengan menarik pajak kepada setiap kapal yang masuk perairan Australia,” ujar Peter Spillet, sejarawan Australia. Maka rombongan daeng pelaut pun mulai berhenti melawat ke Tanah Arnhem. Pantai-pantai yang sunyi di pesisir utara kini seolah menjadi saksi bisu pertalian erat dua suku yang dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer.

Tapi, di Pulau Elcho, legenda Makassar itu masih tertanam kuat. Terletak di pucuk utara Arnhem, pulau kecil berjarak 550 kilometer dari Darwin ini mirip ulat hijau yang berbaring malas di tengah laut. Galiwinku, ibu kota Elcho, mirip desa dengan sekitar seratus rumah. Pulau itu memiliki belasan desa. Jumlah penduduk seluruhnya sekitar 1.500 orang—mereka menyebut diri Yolngu, kaum Aborigin dari Arnhem Land.

”Datanglah ke Galiwinku. Di sana ada keturunan langsung orang Makassar yang masih hidup,” pesan Peter Spillet kepadaku saat bertemu di Darwin. Selain Spillet, sedikit sekali warga Australia yang berkunjung ke pulau ini. Beverly Mercer, misalnya. Konselor Kebudayaan Australian Indonesian Institute (lembaga yang menjadi tuan rumah kunjungan Aku ke Australia pada Agustus lalu) itu belum pernah bertandang ke Arnhem atau Galiwinku. Informasi tentang kawasan ini pun amat minim, terutama soal transportasi.

Selain alamnya masih perawan, warga Aborigin yang tinggal di sana pun konon cenderung masih garang terhadap pendatang. ”Anda benar-benar yakin mau ke sana?” Elizabeth O’Neill, Atase Pers Kedutaan Besar Australia di Jakarta, sempat ragu saat mendengar niat Aku mengunjungi Arnhem Land. Kawasan ini memang tidak mudah dimasuki. Dibutuhkan izin masuk—dan prosesnya bisa makan waktu satu bulan. Itu pun setelah mendapat restu dari komunitas Aborigin setempat. Tanpa itu, jangan harap bisa turun dari pintu pesawat.

Untungnya, Charles Yunupinju, yang kebetulan ”Camat” (dia pemimpin Galiwinku Community Incorporated) Pulau Elcho, memberikan izin masuk setelah dikontak Aku lewat telepon. Kebetulan pula wartawan mingguan ini naik satu pesawat dengan Yunupinju dari Darwin. ”Tak perlu ragu. Orang Aborigin di sana amat ramah dengan orang Indonesia. Mereka akan menyebut Anda macassara,” Spillet memastikan.

Benar saja. Di setiap pojok jalan hingga ambang rumah, mereka tak pernah luput menyapa sambil menebar senyum. ”Ah, mainmark (sapaan yang artinya hidup atau selamat—ews.) macassara, yappa! (Halo—ews.),” seorang ibu berkulit legam yang tengah makan angin di bangku lusuh di depan rumahnya memberikan salam kepada Aku .

Pertalian erat nenek moyang mereka dengan pelaut Makassar rupanya masih langgeng. Para sesepuh klan mengisahkan legenda-legenda leluhur mereka dari negeri seberang itu lewat kidung, dongeng, tarian, torehan di kulit pohon, dan warna kulit. ”Anda tahu kenapa kulit saya cokelat tua? Ini pemberian leluhur saya, macassara,” ujar Don Winimba dengan bangga. Salah satu penduduk Galiwinku ini mengaku neneknya kawin dengan pelaut Makassar.
Jejak Makassar juga banyak tertanam dalam bahasa sehari-hari. Kata ”Takarena” (bahasa Makassar yang berarti ”tempat tetirah”) masih dipakai hingga kini. Takarena adalah sebuah teluk yang tenang di seputar Galiwinku. ”Di teluk itu ada sebuah mata air tempat pelaut Makassar mengambil persediaan air tawar,” ujar Jessica de Largyhealy. Wanita ini adalah penggagas Knowledge Center di Galiwinku untuk mencari pertautan sejarah Makassar-Aborigin.

Selain ada Takarena, di Galiwinku terdapat Kampung Marungga dan Lamuru Point—nama-nama tempat yang berbau Makassar. Beberapa kata yang dibawa para pelaut Makassar diadaptasi dalam bahasa sehari-hari warga Aborigin. ”Saya tak punya ’rupiah’ untuk mengunjungi keluarga di Makassar,” ujar Matjuwi Burarrwanga. Kakek buyutnya adalah pelaut Makassar bernama Husaen Daeng Rangka .

Rupiah yang dimaksud Matjuwi adalah uang. Keluarga Matjuwi tertawa geli ketika aku mencocokkan beberapa kata. Di antaranya bajo (baju), sendhok (sendok), berrata (beras), dharipang (teripang), galiwang (klewang), padang (pedang), dan dhambaku (tembakau). ”Nah, itu pohon jamblang,” ujar Datjing Burarrwanga, anak tertua Matjuwi, sambil menunjuk pohon asam di halaman rumah mereka. Pelaut Makassar dulu membawa bibit pohon asam ke tanah Marege sebagai bumbu masak. Biji-biji pohon asam itu kini beranak-pinak hingga ke halaman rumah Matjuwi.

Selama 40 ribu tahun usia peradaban Aborigin di Benua Australia, pelaut Makassar pencari teripang adalah orang luar yang rajin menyambanga mereka. Memang mereka bukan yang pertama. Menurut Jennifer Isaacs dalam bukunya Australian Dreaming: 40.000 Years of Aboriginal History, ada orang-orang Baiini—yang konon juga dari Kepulauan Indonesia—yang masuk ke Arnhem Land sebelum para pelaut Makassar. ”Tapi jumlah mereka tak sebanyak orang Makassar,” tulis Isaacs dalam bukunya. Setelah perginya orang-orang Baiini, puluhan perahu layar Makassar datang setiap tahun.

Ada perdebatan tentang kapan tepatnya pelaut Makassar ini datang ke Arnhem. C. Campbell McKnight dalam catatan antropologisnya memperkirakan abad ke-17 atau ke-18. Saat itu ada pertemuan antara pelaut Inggris, Kapten Matthew Findlers, dan Daeng Pobasso, pada 1803. Isaacs serta Spillet punya pendapat lain. Pelaut Makassar telah berlayar ke Arnhem jauh sebelum itu. Versi Jennifer Isaacs adalah tahun 1650 berdasarkan temuan arkeologis. Sedangkan Spillet menduga mereka tiba satu abad sebelumnya. ”Dari prasasti di fondasi benteng Somba Opu yang dibangun pada 1550 di Makassar, saya menemukan gambar padewakang dan teripang besar,” ujar Spillet.

Yang pasti, setiap kali angin utara mengawali musimnya pada bulan Desember, para daeng pelaut itu berbondong-bondong berlayar ke Arnhem. Jumlahnya 30-60 perahu. Setiap perahu diawaki kurang-lebih 30 orang. Setelah buang sauh, para perantau dari Makassar ini mengeluarkan lepa-lepa, kano dari batang pohon yang ditatah sebagai sekoci untuk ke pantai. ”Lepa-lepa yang kini digunakan masyarakat Aborigin benar-benar pengaruh dari pelaut Makassar. Sebelumnya, mereka hanya mengenal perahu dari kulit kayu,” ujar Joanna Barrkman, kurator Museum and Art Gallery of the Northern Territory (MAGNT).

Dengan bantuan orang Aborigin, lepa-lepa juga digunakan untuk mengumpulkan teripang dari dasar laut. Teripang direbus dalam periuk-periuk tanah, lalu dibelah. ”Sisa-sisa periuk ini masih banyak ditemukan di pantai-pantai Arnhem,” tulis Jennifer Isaacs dalam bukunya. Para daeng ini juga membangun rumah-rumah asap guna memproses teripang sebelum membawanya pulang ke Makassar untuk diekspor ke Cina.

Pelaut Makassar biasanya tinggal sekitar lima bulan di Arnhem saban musim lawatan. Pada masa inilah terjalin interaksi yang intens dengan warga Aborigin. Selain mengawini wanita-wanita Aborigin, mereka terkadang membawa lelaki Aborigin ke Makassar untuk bekerja di sana. Sebagian tak pernah kembali lagi. Dan kalaupun kembali, mereka tak lupa menorehkan pengalaman di rantau pada dinding batu (rock painting) di gua-gua.

”Di Groote Eylant ada yang menggambar padewakang dengan amat detail,” ujar George Chaloupka, pakar rock painting dari MAGNT, ”Ada juga gambar wanita Makassar memakai sarung, serta pertemuan mereka (para perantau Aborigin—Red.) dengan monyet-monyet.” Pertalian dengan Makassar bisa pula ditemukan di Yirkalla, Gove, Millingimbi, Maningrida, Port Essington, serta Pulau Kiwi (di luar Arnhem). Menurut catatan Spillet, ada sekitar 96 titik yang didatangi pelaut Makassar di sepanjang pesisir Arnhem.

Sejatinya, lawatan-lawatan pertama ke Arnhem Land bukan hal yang mudah bagi para pelaut Makassar. Raga, bahasa, dan budaya yang tak dimengerti satu sama lain terkadang menimbulkan pertumpahan darah. Richard Ghanduwuy Ganawurra, penduduk Galiwinku, masih ingat cerita kakeknya tentang dua awak kapal yang berlabuh di Takarena dibantai Aborigin. Itu hanya karena pelaut Makassar ini mengambil tali yang biasa dipakai untuk upacara adat Aborigin di pantai buat memancing ikan. Peristiwa itu terjadi sekitar akhir abad ke-19.

”Semua dibantai, kapal dibakar, dan keluarga kakek saya hanya menyelamatkan seorang bocah dan memeliharanya,” Ghanduwuy mengenang sambil membawa diriku ke lokasi tempat pelaut Makassar dibantai itu, berupa dua tonggak kayu tua, di tepi pantai.

Toh, legenda hitam itu tenggelam di antara kenangan manis Makassar yang terukur dalam suasana damai. ”Mereka memperlakukan leluhur kami seperti saudara, memberikan bajo, dhambaku, pedang, galiwang, serta beras. Ini berbeda dengan Cook (maksudnya Kapten James Cook), yang memperlakukan kami seperti monyet,” tutur Datjing.

Menurut Datjing pula, hal itulah yang membuat mereka kurang ramah terhadap pendatang kulit putih. Tapi tidak semua anak suku Aborigin bersikap demikian. Di Pulau Elcho, misalnya, mereka hidup rukun dengan penetap kulit putih. Apalagi kesejahteraan hidup mereka di Arnhem Land lumayan terjamin. Ada rumah yang layak dan santunan bulanan dari pemerintah Australia.

”Warga Aborigin di sini jauh lebih ramah ketimbang kaum Aborigin di kota-kota besar Australia,” ujar Michael Newton, wakil pemerintahan Australia yang sudah empat tahun tinggal di Pulau Elcho. Newton juga betah karena bisa menikmati dengan cuma-cuma anugerah alam yang berlimpah ruah: keindahan panorama di sekujur Arnhem Land.

Sesak rasanya hati ketika pesawat Cessna mungil itu lepas landas meninggalkan Galiwinku, membawa Diriku kembali ke Darwin. ”Mainmark Aborigin!”

Bersambung…

Endah W.S. diterbitkan di Majalah TEMPO , 26 September 2004

Sunday, June 10, 2007

Edisi. tempo 23 Maret 2003

Di Antara Luka dan Harapan

Desain baru WTC belum lama diumumkan. Kompromi sebuah dilema antara trauma sejarah dan harapan.

Lebih dari satu dekade lalu Tembok Berlin runtuh. Berlin telah lama bersolek, tapi beberapa butir peluru masih tampak tersimpan, tertanam di dinding-dinding lama. Sejarah tak berhenti sebagai memori, catatan-catatan pribadi, dan di kota itu ada Potsdamer Platz, simbol kembalinya Berlin sebagai metropolis Eropa. Memang tak banyak yang tahu Platz dibangun di atas sebuah ground zero. Tapi di antara dilema mempertahankan luka sejarah dan membangun peradaban baru itulah sebuah rekonstruksi didirikan.

Dilema ini seperti berulang satu dasawarsa kemudian, saat situs reruntuhan World Trade Center (WTC) New York di Amerika Serikat akan dibangun kembali. Tidak mudah memang membangun di atas sebuah luka sejarah (baca, Ground Zero). Jarak antara peristiwa horor itu dan rekonstruksi masih terlalu pendek, sementara opini masyarakat New York terbelah: membangun yang baru atau mengabadikan yang lama. Di antara dilema ini, muncul Daniel Libeskind, 56 tahun, arsitek yang menang dalam kompetisi perancangan WTC bulan lalu. Ia menangkap kedua opsi itu, menuangkannya dalam landmark baru yang sangat kontekstual terhadap sejarah: ada memori, ada harapan.

Lubang raksasa yang menganga dibiarkan terbuka sebagian, demikian juga tembok penahan yang tersisa untuk menahan Sungai Hudson, tanda kekuatan dan ketabahan. Sebuah museum bernama Wedge of Light akan dibangun di tengah ground zero, dan ini memungkinkan sinar matahari menerobos masuk setiap pagi. "Ini akan mengingatkan orang pada serangan teroris yang merenggut kehidupan di pagi yang cerah," ujar arsitek kelahiran Polandia ini di dalam memoar rancangannya.

Ini semua akan memberi ruang publik baru bagi masyarakat New York. Dan seperti sebuah prosesi, mereka bisa turun ke bawah, tanpa harus kehilangan suasana meditatif dan spiritual, melewati dinding penahan dengan takzim. Untuk menghidupkan landmark bisnis di WTC, Libeskind merancang lima buah gedung di sekitar ground zero dengan tinggi tak lebih dari 70 lantai (sekitar 280 meter)—dengan begini, risiko menjadi sasaran serangan teroris semakin kecil. Kota New York pun akan kembali mendapatkan skyline landmark-nya dari tower setinggi hampir 600 meter (akan menjadi tertinggi dunia). Menara antena itu sendiri nantinya hanya akan berisi taman dan restoran.

Konsep inilah yang menjadi pertimbangan kenapa rancangan Libeskind yang dipilih pemerintah Lower Manhattan New York (penyelenggara kompetisi). Saingannya, THINK, yang dipimpin Rafael Viñoly dan Frederick Schwartz, membangun dua menara baja baru di atas ground zero. Memorial site dibangun di puncak dua menara tersebut, dan ground zero yang menganga ditutup beton.

Sepertinya memang pemerintah New York mempertimbangkan opini masyarakat. "Biasanya dilema memang tidak hanya terjadi pada arsiteknya, tapi juga masyarakat dan pemerintahnya," ujar pengamat tata kota Marco Kusumawijaya kepada TEMPO. Saat Platz dibangun pun masyarakat Kota Berlin terpolarisasi antara menghidupkan kembali Berlin di masa lalu dan membangun sebuah megapolitan baru. Apalagi berabad lalu Platz sempat menjadi saksi bagaimana Berlin menjadi landmark bisnis di Eropa. Di sana pernah berdiri bangunan hotel, plaza, perkantoran, dan pusat perbelanjaan. Bahkan di areal Platz inilah lampu lalu-lintas pertama kali dipakai di Jerman pada tahun 1924.

Kejayaan Platz hancur ketika pasukan sekutu membombardirnya. Platz sempat dijadikan pusat kendali oleh rezim Hitler. Tapi, belum lagi megapolitan itu bangkit kembali, Tembok Berlin telah melindas dan membelah Platz menjadi dua pada 1961. Peristiwa itu menjadikan wilayah ini tak bertuan selama puluhan tahun.

Kini, setelah pembangunannya yang dimulai pada tahun 1994 dan selesai tahun 2000 itu, areal seluas 6,8 hektare itu kembali menjadi landmark. Bangunan-bangunan baru berdiri. Rancangannya, yang juga disayembarakan, melibatkan arsitek sekaliber Renzo Piano, Richard Rogers, dan Helmut Jahn. Masa lalu sendiri hanya dipertahankan melalui grid lanskap, ruang terbuka, dan fungsi bangunan sebagai pusat komunitas bisnis.

Dibanding New York, Berlin memang memiliki luka sejarah yang lebih dalam. Hampir seluruh bagian kota hancur akibat perang. Saat Tembok Berlin runtuh, Berlin memerlukan waktu yang panjang untuk membangun kembali kota yang utuh. Sebagian dibangun ulang persis seperti aslinya, lainnya direstorasi seperti Platz. "Berikutnya akan dibangun sebuah museum mengenang kekejaman Nazi, bernama Topography of Teror, yang akan dibangun di atas bekas kantor Gestapo," ujar Marco.

Tak ada konsep yang kaku dalam membangun kembali situs yang rusak dan memiliki luka sejarah yang dalam. Tapi, menurut guru besar tata kota ITB, Prof. Dr. Danisworo, biasanya selalu ada bagian penting yang dipertahankan dalam upaya restorasi. "Untuk dijadikan semacam simbol," ia menambahkan. Ada bermacam cara untuk mencapainya, termasuk menggabungkan dengan konsep arkeologi. Pembangunan Kota Hiroshima di Jepang, misalnya. Kota yang luluh-lantak akibat bom atom pada Perang Dunia II itu memang dibangun ulang. Kecuali pada Hiroshima Memorial Peace Park, tempat gedung "A Bomb Dome" dibiarkan apa adanya dalam puing. Gedung bergaya Eropa yang dibangun pada 1915 ini sempat menjadi landmark, sesuai dengan fungsi sebagai pusat eksibisi.

Pada rancangan Libeskind, landmark WTC pun seperti dihidupkan kembali. Ini sepertinya
karena imigran asal Polandia itu sendiri memiliki akar yang kuat terhadap Kota New York. Usianya baru 13 tahun saat kapalnya masuk Kota New York. Ingatan yang sangat membekas sampai kini adalah skyline New York.

Menurut Danisworo, desain Libeskind jugalah yang paling logis secara ekonomis. Dengan biaya pembangunan diperkirakan mencapai US$ 350 juta, kemungkinan besar Amerika Serikat tidak akan membangun seluruh rencana dalam wilayah 7,5 hektare itu. Kalaupun terjadi "pemotongan", konsep landmark tetap akan hidup. "AS tidak punya dana. Nantinya yang dibangun biasanya konsep-konsep dasar saja," ujar Danisworo, yang amat menyayangkan bahwa konsep di atas belum pernah ditempuh di Tanah Air.

Dan yang paling penting, desain Libeskind-lah yang akhirnya paling diterima masyarakat New York. Mereka yang memang diikutsertakan dalam proses sayembara itu memuji sensitivitas Libeskind dalam rancangannya. Seperti dituturkan Monica Iken, yang suaminya hilang terkubur dalam reruntuhan WTC, kepada harian The Washington Post. Ia membayangkan suaminya akan tenang dalam kubur. "Saya kira dia akan bangga tempat peristirahatan adalah tempat yang menyembuhkan luka," katanya.

Endah W.S.

Monday, June 04, 2007

wanita 24 karat.

Hari ini aku bertemu seorang ibu. namanya Ernawati. pakaiannya kumal bercampur oli. bagian pinggul sebelah kanannya sampai ke dengkul basah. tangan kanannya terbungkus sarung tangan kumal. kaos golkar membalut kepalanya dengan bagian leher kaos diikat sedemikian rupa sehingga hanya mukanya yang menyembul.

"Yu.. mbakyu...mau dijahit nggak karungnya. punyaku sudah ditimbang.." teriaknya pada seorang kawan sesama pengangkut sambil menaikkan karung plastik kecil ke pinggulnya. Air laut menetes dari ujung karung membasahi celananya. Hanya sampai di pinggul itulah rupanya dia mampu memanggulnya. Bukan apa-apa. walaupun kecil, karung itu isinya adalah karat besi, hasil dia mengerok dinding kapal tua di pantai Cilincing.

ya, ibu Wati kini lagi dapat 'borongan' mengangkut karat besi dari kapal kiloan. Di pantai Cilincing sendiri saat ini ada 5 kapal yang sedang dibongkar. Ini adalah bisnis kapal kiloan. - bisnis orang madura -. ternyata bisnis besi tua madura tidak hanya di darat, tapi juga merambah kelaut. Kapal-kapal tongkang dan tanker tua baik yang terdampar ataupun karam diseret ke pantai ini.

Disini, kapal di bongkar, dibelah, di potong-potong dan dikilo, untuk dilebur ulang. " jangan salah mbak, satu untai rantai jangkar ini harganya sama dengan satu buah kijang innova lho " ujar haji Taufik, salah satu pengawas pembongkaran kapal.

Tidak semua baja dari kapal-2 tua itu bisa dikilo. untuk menaikkan harganya, biasanya karat-karatnya harus dikerok dulu.
nah, karat-karat dari Baja kapal yang sudah berbentuk serpihan inilah yang menjadi jatah rejeki bagi ibu Wati. sebagai catatan, tidak tiap hari ada kapal datang.

Dua hari ini dia behasil mengumpulkan puluhan karung. Karung-karung kecil yang diangkutnya bolak-balik itu dimasukkan dalam karung besar untuk ditimbang.

Sore ini, juragan penge-pool karat besi datang, untuk membeli hasil karungan mereka. Biasanya satu kilo dihargai 300 perak. "mudahan-mudahan ada satu ton ini " ujar ibu Wati. Nantinya kalo dapat 300 ribu, uang itu masih harus dibagi dua dengan pemilik kapal. Jadi jatah si ibu hanya 150 ribu.

Dia terduduk lelah di pojok timbangan, peluh dan kotoran menjadi sahabat kulitnya. sementara sang suami, menjahit karung-karung hasil panggulannya untuk ditimbang. Kenapa bukan suaminya yang mengangkut karung-karung itu, karena dia terlihat segar bugar dan kuat. " suami saya tulangnya nggak kuat" ujarnya.
walah... modus bu !.

Suaminya sendiri pengangguran, sementara empat anak mereka masih kecil-kecil. (mbok ya.. sedikit mbantu ngangkut.. pak..)

enam karung besar hasil angkutnya selama dua hari sudah semua ditimbang.
"berapa ...?" ujarnya ke tukang timbang.
"hanya 830 kg bu..."

(.. lewat sudah targetnya untuk dapat 150 ribu untuk makan sekeluarga selama sebulan).

Thursday, February 22, 2007

Edisi. TEMPO - 22 Juni 2003
Heruka, yang Menari Tantrik di Atas Mayat

Temuan arkeologis tentang Tantrayana di Sumatera Arca Durga Mahishasuramardini masih ditelusuri hingga kini. TEMPO mengikuti penggaliannya di situs Tanjung Medang, Sumatera Barat.

"Wanwawanwanâgî
Bukângrhûgr
Hûcitrasamasyasâ
Tûnhahâhahâ
Hûm Hûhûhehai Hohauhaha
Om âh hûm"

Mereka merapal mantra berulang-ulang. Anyir darah menyeruak di antara mereka yang menari di atas mayat bergelimpangan. Kulit dikupas, dipakai sebagai baju. Mereka tertawa, mendengus, hum! Darah manusia diminum hingga mereka mencapai puncak tantrik, menjadi sakti, suci. Sesuci dewa.

Berabad lalu, ritual Tantrayana itu masih dilakukan oleh penganut agama Buddha Wajrayana. Mantra tantrik di atas tertulis di prasasti dari lempengan emas yang ditemukan di Biaro (Candi) Tandihat II di Padang Lawas, Tapanuli Selatan, Sumatera. W.F Stutterheim, peneliti asal Belanda, yang berhasil membaca prasasti itu pada tahun 1930-an. (Kini prasasti itu tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.) Prasasti itu berisi lirik-lirik mantra yang harus dibacakan saat ritual Tantrayana Bhairawa. Menurut dia, bunyi hum adalah dengusan banteng dan ha adalah lafal tertawa. Ritual itu dilakukan dengan cara menari di atas mayat-mayat.

Ritual sadistis itu berkembang di zaman Kerajaan Melayu akhir hingga abad ke-14 di Sumatera. Sebelumnya, semasa Sriwijaya dan Melayu awal, ajaran Buddha Mahayana-lah yang banyak dianut. Salah seorang arkeolog yang tekun dalam Tantrayana kini adalah Bambang Budi Utomo, arkeolog UI. "Dari beberapa tulisan pada lempengan emas di banyak situs, terbuktilah bahwa agama yang menjalankan ritual Tantrayana adalah Buddha Wajrayâna," ujar Bambang Budi Utomo.

Beberapa minggu lalu TEMPO sempat mengikuti Bambang Budi Utomo melakukan penggalian di situs Tanjung Medan, Pasaman, Sumatera Barat. Pencarian temuan Tantrayana masih terus dilakukan di situs seluas 2 hektare ini. Situs yang ditemukan pada tahun 1876 dengan enam situs candi dari batu bata ini sempat terbengkalai. Tahun 1991, penggalian baru dimulai saat Dinas Pekerjaan Umum menemukan runtuhan bata.

Di sana pernah didapati temuan arkeologis, di antaranya berupa piringan-piringan emas dari abad ke-13. Di antaranya kepingan piring emas yang menggambarkan bekas 8 kelopak daun padma, simbol 8 tokoh dengan Dhyani Budhhi Aksobhya. Dari penggalian sedalam 30 sentimeter, Bambang berhasil mengumpulkan pecahan keramik dan gerabah. Bambang juga menemukan sisa bangunan dan arca. Semua ini diduga menunjukkan gejala adanya kegiatan ritual agama Wajrayana. Semua temuan itu dibawa ke Pusat Arkeologi Nasional untuk diteliti lagi. "Untuk memperkuat dugaan adanya aktivitas agama Buddha Wajrayana di sana," ujar Bambang.

Selain di Tanjung Medan, ajaran-ajaran agama Wajrayana itu sendiri memang banyak ditemukan di situs Bumi Ayu, Padang Lawas, dan Padang Roco. Menurut Bambang, di Padang Lawas tiga kelompok biaro yang mempunyai sifat Buddha Tantrik adalah kelompok Biaro Si Pamutung, Biaro Si Joreng Belangah, dan Biaro Si Sangkilon. Sementara itu, pada biaro lainnya, Biaro Si Pamutung, banyak ditemukan arca ataupun hiasan bangunan (makara) yang merupakan indikator Wajrayâna.

Pada halaman biaro ditemukan sebuah arca buaya yang digambarkan dengan wajah bengis. Selain itu ditemukan juga dua buah arca raksasa dalam sikap añjalimudrâ. Dari mulutnya keluar dua pasang taring. Kedua bola matanya digambarkan melotot. Artefak arca dan relief yang ditemukan di sana memang banyak menggambarkan wajah-wajah raksasa yang menyeramkan dan sadistis. Kebanyakan arca berdiri di atas mayat atau tengkorak manusia. Bahkan, selain beraksesori kalung tengkorak, mereka juga memegang batok kepala manusia sebagai mangkuk darah.

Selain itu ditemukan juga beberapa prasasti singkat yang bertuliskan mantra-mantra aliran Tantris. Pada tahun 1950-an, di Padang Lawas (Biaro Bahal 2) bahkan pernah ditemukan arca Heruka, dewa terpenting dalam agama Buddha aliran Wajrayâna. "Jenis arca ini merupakan yang paling langka baik di Jawa maupun Sumatera," ujar Bambang. Menurut Bambang, dewa ini dipuja pada saat upacara Bhairawa. Arca Heruka ini digambarkan sedang menari-nari di atas mayat dengan tangan kirinya memegang mangkuk berupa tengkorak manusia. Rambutnya digambarkan menyala-nyala seperti lidah api. Bahkan dia menggunakan selendang untaian tengkorak.

Bernert Kempers dalam buku Indonesian Art mengatakan Heruka juga berdiri di atas mayat-mayat. Sayangnya, kini arca ini hilang tak berbekas. Apa tujuan ritual demonis itu dilakukan? Ritual mabuk-mabukan hingga pesta orgi, seperti pada Tantrayana di zaman Kertanegara abad ke-14 di Singosari, sebenarnya bertujuan mengajarkan penganutnya mendapatkan kesaktian. Juga mendapat mukjizat untuk dilahirkan kembali dengan kekuasaan dewa. Tantrayâna sendiri menurut Bambang digambarkan sebagai suatu perbuatan yang sadistis dan tidak lepas kaitannya dengan mayat serta darah manusia. Upacara yang terpenting dalam aliran Wajrayâna adalah upacara Bhairawa, yang dilakukan di atas ksetra (suatu tempat penimbun mayat sebelum dibakar). "Sayangnya, berbeda dengan Tantrayana yang ada di relief candi di Borobudur yang dijelaskan lagi oleh naskah Tantrayana di Jawa, di Sumatera hampir tidak ada naskah yang mendukung," ujar Noerhadi Magetsari, yang melakukan penelitian tentang Tantrayana di Jawa.

Meskipun demikian, setidaknya Bambang Budi Utomo bisa menghubungkan maksud penggambaran Heruka dengan mengambil kutipan pada kitab Sudhamala, yang berkembang di Jawa. "Seorang penganut Tantrayâna harus membayangkan Heruka," tutur Bambang. Heruka sendiri dalam agama Buddha adalah dewa "Pantheon"-nya. Tapi, di Wajrayana, ia digambarkan berupa raksasa yang menari.

Petikan pada Sudhamala itu berbunyi: "Berdiri di atas mayat dalam sikap ardhaparyañka (setengah bersila), berpakaian kulit manusia, tubuhnya dilumuri abu, tangan kanannya menggenggam sebuah vajra yang berkilauan, dan tangan kirinya menggenggam sebuah khatwañga, berhiaskan panji yang melambai-lambai, serta sebuah mangkuk tengkorak yang berisi darah; selempangnya berhiaskan rantai dari 50 kepala manusia, mulutnya sedikit terbuka karena taring, sedangkan nafsu berahi tampak dari sorot matanya, rambutnya yang kemerah-merahan berdiri ke atas; arca Aksobhya menghiasi mahkotanya, dan anting-anting menghiasi telinganya; ia berhiaskan tulang-tulang manusia dan kepalanya berhiaskan tengkorak manusia; ia memberi kebuddhaan dan dengan semadinya melindungi terhadap mara-mara di dunia." Ada beberapa ajaran Tantrayana yang menarik.

Bambang juga menemukan penjelasan yang hampir sama pada kakawin Sutasoma, yang ditulis pada zaman Majapahit. Misalnya bahwa dia makan bukan karena dia ingin memuaskan nafsu makannya, melainkan demi membersihkan kesadarannya. Diharapkan, para tantris dapat bersatu dengan Jinapati, puncak kebebasan. Yang tak kalah penting adalah temuan patung-patung Bhairawa dari berbagai situs itu. Arca terbesar adalah Bhairawa setinggi 4,41 meter dari hulu Sungai Langsat di situs Padang Roco. Diduga, patung itu berasal dari abad ke-14, saat puncak kejayaan Kerajaan Melayu akhir di bawah Raja Adityawarman. Patung disebutkan juga sebagai perwujudan Adityawarman itu sendiri. Patung raksasa itu menginjak mayat lelaki yang badannya ringsek ketekuk kakinya.

Paling bawah, berjajar delapan tengkorak manusia. Raut mukanya tidak utuh lagi, juga bagian kirinya. Tangannya, selain menggenggam pisau, juga menggenggam mangkuk dari batok kepala manusia. Bukti bahwa patung ini adalah patung keagamaan adalah adanya patung Buddha kecil, Aksobhya, di rambutnya yang menjulang. Patung itu kini di tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Di sana, tersimpan juga arca dan relief patung yang menggambarkan Tantrayana yang diambil dari situs Padang Lawas. Di antaranya tiga arca penari yang berasal dari abad ke-13-an. Ada juga relief penari berkepala lembu seukuran 40 x 40 cm. Arca Bhairawa juga ditemukan di situs padang Lawas.

Menurut Bambang, pecahan Bhairawa ditemukan dalam Biaro Bahal 3. Dari catatan penelitian, patung ini berasal dari masa yang lebih tua. Pada halaman biaro ditemukan sebuah fragmen arca Bhairawa bagian atas. Arca Bhairawa ini digambarkan dengan muka yang menyeramkan, mata melotot, dan sepasang gigi taringnya keluar. Bertangan dua, tiap tangannya memegang gada pada tangan kanan, dan sebuah benda yang sudah patah pada tangan kiri.

Hiasan yang dipakainya berupa anting-anting berbentuk tengkorak manusia dan hiasan kelat bahu yang juga berbentuk tengkorak manusia. Hampir semua Tantrayana di Sumatera tergambar sebagai sosok sadistis, liar, dan menyeramkan. Kebanyakan mereka berupa raksasa yang menari di atas tengkorak manusia, raksasa dengan mata melotot dan berbaju kulit manusia. Ini sangat berbeda dengan Tantrayana yang ada di Borobudur, misalnya. "Yang di Borobudur itu lebih tenang," ujar Noerhadi Magetsari. Hal itu wajar saja, karena Tantrayana adalah aliran dalam agama Buddha yang penerjemahannya bisa bermacam. Menurut Noerhadi, ada sekitar 20 macam Tantrayana dalam ajaran Buddha. Tantrayana di Singosari, yang dianut oleh Kertanegara pada abad ke-14 sendiri, hampir sama dengan yang dianut di Sumatera. Kertanegara disebutkan biasa mengadakan ritual Tantrayana yang meliputi acara minum minuman keras. Inilah yang sempat menimbulkan polemik. Terutama karena Tantrayana yang di Sumatera berusia lebih tua, yaitu sejak abad ke-10 hingga ke-11. Ada dugaan Tantrayana di Singosari, Jawa Timur, berasal dari Sumatera. Hal ini belum bisa dibuktikan, tapi pada abad ke-13 Singosari memang pernah berhubungan dengan Kerajaan Melayu, yang saat itu mencapai puncak kejayaannya (masa Adityawarman). Saat itu Kertanegara mengirim arca Amogapacha yang ketiga sisinya berprasasti. Arca ini dikirim sebagai wujud persahabatan. Wujud diplomasi agar Kerajaan Melayu membantu Kertanegara dari serangan Ku Blai Kahn dari Mongol. Prasasti itu bukti pendukung yang sangat langka Yang tidak diketahui hingga kini adalah bagaimana aliran Buddha Wajrayana ini datang di Sumatera.

Sejauh ini temuan arkeologisnya sangat terbatas. Sumber arkeologi tertulis sendiri mengatakan agama ini datang dari India dan Nepal. Sedangkan di Sumatera hanya diketahui Wajrayana paling tua ditemukan di situs Bumi Ayu Selatan, yaitu pada abad ke-10. Dan bagaimana Wajrayana sampai pertama kali di Bumi Ayu tidak terjelaskan. Di Tanjung Medan itulah Bambang bersama timnya berusaha merunut dan mengungkap teki-teki itu beberapa waktu lalu.

Usahanya itu merupakan rangkaian dari penelitian yang sudah dilakukan di Padang Lawas tahun lalu oleh tim lain. Padang Lawas sendiri lebih muda dari Bumi Ayu, yaitu dari abad ke-11. "Dari Tanjung Medan, saya berusaha setidaknya ada sampel yang menunjukkan dari mana agama Buddha Wajrayana pertama kali diajarkan di Sumatera," kata Bambang kepada TEMPO. Penelitian akan dilanjutkan tahun depan dengan melakukan penggalian di Bumi Ayu. Ini berarti, temuan-temuan baru tentang Tantrayana masih akan terus terungkap di masa depan.

Endah W.S

Sunday, February 18, 2007


12 AGUSTUS

Pesawat take off jam 2 malam dari Denpasar, membuatku tak bisa tidur. Tepatnya kurang tidur. Apalagi perjalanannya pendek cuma 2,5 jam kearah timur, melawan pagi. Saking ngantuknya aku bahkan nggak makan apa-apa di pesawat.
Pesawat akhirnya sampai di Darwin sekitar jam 6 pagi. Bingung mau kemana, karena aku belum memesan hotel manapun. Gila emang..

Celingukan di pagi buta, akhirnya kuputuskan untuk menginap di FrogsHollow, hostel untuk backpacker yang alamatnya kudapat dari internet. Aku naik taksi.

Darwin jam 6 pagi masih gelap dan sepi. Pohon willow dimana-mana. Hijau dan sejuk kayak di Bali. Kata supir taksi, suasana Darwin memang tak jauh beda dengan Indonesia..

Sampai di frogshollow, - yang di internet tertulis sebagai hostel backpackers terbersih - ternyata nggak ada single room yang kosong.

So, aku terpaksa chek in di dorm, a room with 8 beds.
“ mau yang mix atau yang khusus cewek ? “ tanya frontdesknya. Gila apa ya khusus cewek dong.

Akhirnya dengan gembolan 2 ransel aku masuk dorm, yang sudah terisi 4 cewek... hmm mereka masih pada ngorok waktu aku masuk, jadi mudahan nggak denger krasak kresek waktu aku bongkar tas. Apalagi aku dapat jatah di atas bunkbed).

Setelah pasang seprei, cuci muka, terus tidur.

Bangun-bangun ternyata udah jam ½ 12 siang dan udah sepi. Baru deh keliatan tuh hostel emang bersih. Ada kolam renang. Dapur besar.
Setiap orang diberi kebebasan untuk masak sendiri. Lucu juga. Kayaknya nggak ada hostel model begini di Jakarta.

Keliling-keliling, pikir-pikir. Asyik juga nih hotel. Akhirnya kuputuskan untuk stay disini selama aku di Darwin. Apalagi ratenya Cuma AU$23.

Siang bolong, ngayuh sepeda sewaan dengan perut keroncongan keliling kota Darwin. Kupikir di jam makan siang gini, Darwin bakal ramai. Ternyata sepi banget. Memang ternyata ini kota kecil. Nggak ada bangunan tinggi, sementara jalan raya lebar-lebar. Well, ini kota emang well propered from my architecture view..at least after Bogota.
Kukayuh sepeda menyusuri Chavenagh street. Ada restoran Sari Rasa disana. Punya orang Indonesia.

Semua pedestrian dibuat nyaman.. bahkan senyaman mungkin untuk dilalui disable people, kereta bayi, dan bicycles. Nggak ada motor disana. No crowded, no rubbish on the street, definitely clean and neat. Dan sepi. Ternyata memang nggak banyak penduduknya. Populasinya, bayangkan, 1 orang per 8 km persegi.

Aku ikutin kemana sepeda mengayuh, setelah makan siang di restoran China.
Di Bicentenial park, wheres the sound ”bump.. bump !! “ come, I found a new stage installed in the middle of thepark with the aboriginal drum on it.
“ Oh.. there will be a Darwin festival today..” kata seorang perempuan yang kutemui.

Bicentenial park terletak di pinggir tebing yang menghadap kelaut. Pemandangannya sangat indah. Lalu kulihat ada 2 orang gadis yang sedang piknik di atas rumput. Mereka segera ringkes-ringkes begitu seorang aborigin tua, hitam dan kusut mendatangi mereka.
Inilah mungkin pemandangan yang hanya mncul disini. Diantara orang-orang bule yang ’snob’, aborigin people memang terlihat sebagai fenomena sosial yang sangat jomplang.

Tak pernah kulihat di seluruh sudut kota, di bis, di mall, dimana saja, orang aborijin memakai sepatu. Tak pernah kulihat mereka duduk dibelakang setir mobil mewah yang sliweran di Mitchell atau Chavenagh street.

Entah kenapa. Belakangan baru terjawab.

Malam hari ketika kembali ke hostel, barulah aku kertemu dengan teman-teman sekamarku. 2 cewek asal Sydney, 1 cewek Jepang, dan seorang nenek dari Norway, Sissel. Aku sempet ngobrol panjang dengan Sissel setelah masak makan malam. Dia ternyata punya kesan pertama yang sama tentang orang aborigin di Darwin.

Sissel, 55 tahun, wanita yang sangat sinis terhadap segala sesuatu. Terhadap ibunya yang harus dia jaga seumur hidup, yang membuatnya terdampar di Darwin, melarikan diri. Terhadap Indonesia yang katanya tidak akan dia kunjungi sampai kapanpun, karena penuh teroris.

Terhadap sikap Australia pada orang Aborigin. ” mereka selalu diperlakukan sebagai second citizen, even, they dont give them a chance. I bet, if the ausy government let them equal, they are more brilliant then any other Australian “ begitu katanya.

Well Sissel I agree with u about this.

Tuesday, February 13, 2007

SLAMET

Mendung. Sungai meluap dan coklat. Pintu air sudah dibuka sejak kemarin. Tapi Ini adalah berkah. Setidaknya bagi mereka yang kini sudah siap berjajar di bilah baja jembatan. Menyerok apapun yang hanyut di bawah mereka. Yang laku dijual.

Mereka adalah para pemulung yang tinggal di‘apartemen gantung’- itulah sebutan yang mereka berikan pada tempat tinggal mereka -. “Atas mobil, bawah kolam renang, ditengah-tengah saya ngapung “ ujar Mamah Butet salah seorang penghuni.

Ya, kolong jembatan. Rangka baja yang menyangga beton jembatan Manggarai , menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal dan hidup. Kuat,fleksibel, aman, dan tersembunyi. Puluhan tahun mereka tinggal disini, dan berprofesi sebagai pemulung. Sekilo botol aqua laku dijual Rp.1200 per kg. Lumayan... untuk menyambung hidup.

Salah satunya adalah Uwo, 16 tahun. Dia adalah generasi ketiga yang lahir disini. Tepatnya cucu pak Asad, orang terlama -sudah tiga puluhan tahun- tinggal disini.

Tangan kanan Uwo memegang serok, sementara tangan kiri menggenggam buku ‘1421, saat China menemukan Dunia’. Karangan GAVIN MENZIES

“ Wwwooo, taroh bukunya !!!, banyak yang lewat dibawah elu tuh !. Ato tempat lo sini buat gw..” teriak mamah Butet, yang tak sabar melihat Uwo yang lebih banyak membaca buku daripada nyerok sampah. Sementara tempat duduk sangat berharga.

“Nih, buku elo..ntar gw pinjem lagi…” buku itu dilempar Uwo ke bocah dibelakangnya yang sedang melamun. Di tangan bocah itu, Slamet, 14 tahun sudah ada buku ‘Karl Marx, Revolusi dan Sosialisme’ karangan Ken Budha Kusumandaru, yang sudah lecek.

Aku yang sedari tadi duduk memperhatikan mereka semua sambil mengisap sebatang Marlboro putih, terusik. Pikirku… sampai juga ‘buku’ itu ke tempat seperti ini. apalagi di tangan seorang Slamet.

Bocah ini memang bukan penghuni tetap kolong jembatan ini. dia hanya anak jalanan. Kadang ngamen, kadang mulung, atau sekedar jadi ‘pak ogah’ di putaran jalan. Dia tinggal dimana saja dia mau, salah satunya selewat saja mampir ke komunitas kolong jembatan ini.

Kisah hidup Slamet sendiri cukup unik. Homeless, borderless, putus sekolah…. tepatnya tragis.

Tahun lalu, saat heboh berita tertangkapnya seorang pedofil asal Australia Peter W Smith di JaKarta, adalah Slamet yang mengadu ke polisi. Dia bersama tujuh temannya sesama anak jalanan menjadi korban si bule ‘freak’ ini.

Modusnya apalagi kalau bukan iming-iming uang. Dan gilanya si bule goblok ini sudah melakukan pedofilia sejak tahun 2003. Slamet sebagai korban terakhir, mengadukan si bule ke polisi dan kemudian diikuti teman-2nya itu. Kini si bule itu udah di penjara.

AKu sendiri nggak sengaja bertemu Slamet disini. Mungkin karena kasusnya itu jugalah yang membuat Slamet terbiasa dengan orang-orang ‘berkamera’.

“ Kak.. aku Slamet “ ujarnya menghampiri ketika kami sibuk menset peralatan. “ sedang apa kak ? “ rasa ingin tahunya ternyata juga besar. Dan kami ngobrol panjang di sela-sela shooting.

Hari-hari berikutnya terkadang dia nongol, kadang raib entah kemana selama kami mengambil gambar di kolong jembatan.

Kini, aku kembali terusik olehnya. Dia melamun diatas sungai yang keruh sambil menggenggam 2 buku tadi.

“ Siapa yang ngajarin lu baca buku-2 itu ..” tanyaku.
“ kakak-kakak di lsm ..” jawab Slamet. Slamet memang kini, dilindungi satu LSM anak jalanan di Jakarta
“ punya buku apa aja ?
“ lumayan mbak.. ada komik juga.. kakak2 yang beliin “
“ yang itu udah abis loe baca? “
“ udah sih…Cuma… mmm…”
“ kenapa, coba aku ingin tahu isinya apa yang Karl Marx itu…”
“ yah… ada tentang ideology-ideologi gitulah.. aku sih nggak terlalu ngerti .. bacanya susah “
“lho..terus ngapain elo bawa-bawa itu dua buku..”
“ anu… kak, mau saya jual ke SENEN entar siang. Lumayan satu buku laku 20 ribu kak..”

(slamet tetaplah slamet)
(2007, ews).

Monday, February 12, 2007

PESAN MASA SILAM DI ILAS KENCENG

Sang Walet lemah kepakan sayapnya
Dalam hati gundah gulana
Sang walet tetap di angkasa
Mengenang karya pecah segala
……
Burung walet dia menggantung sendu
Hati pedih menjerit pilu tinggal bertengger di tepi batu

Hai manusia.. kusulam lembaran untukmu jua
Tapi tunggulah hingga darahku terbang bersama
Demi kelanjutan hidupmu jua
(dinyanyikan o/ masy.Tepian Langsat, para pemburu sarang Walet, Mei 2004)

Perahu ketinting meraung-raung tak tertandingi. Mesinnya memekak keheningan hutan di pedalaman sungai Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Ini hari kedua, jam ke sepuluh, -entah menit keberapa- , kami meringkuk di atas perahu berbadan sempit itu. Dan kami belum juga sampai ke tujuan. “lihat itu, ada monyet-monyet berlompatan di atas pohon” teriak Raung, motorist ketinting kami berusaha menandingi raungan mesin ketinting yang bersusah payah melawan arus ke arah hulu sungai .

Kami, yang sempat tertidur diatas perahu - maklum, tak ada gunanya ngobrol dengan suara mesin ketinting sekeras itu– sontak terjaga. Mencari-cari arah yang di tunjuk Eddi, puluhan monyet –macaca fascicularis - tampak bercanda meningkahi cabang-cabang semak di bibir tebing. “dua jam lagi kita sampai, kita sudah masuk kawasan karst Marang ..!”ujar PIndi Setiawan, peneliti spesialis lukisan prasejarah, penjelajah gua, sekaligus pemimpin rombongan kami. Perahu ketintingnya merapat ke perahu kami yang melambat.

Benar saja, tak jauh di belakang hutan, menyembul tebing-tebing menjulang. Ratusan gunung kapur atau karst itu terpacak dan puncak-puncaknya yang tajam dan lancip menjulang mencakar langit. Semkin ke hulu, tebing-tebing itu semakin dekat, bahkan membentengi sungai.

Sungguh kontras dengan pemandangan sehari sebelumnya, dimana hanya hutan yang memagari perjalanan kami. Dan berada di titik terendah diantara tebing-tebing ini kami terasa begitu kerdil. “mirip kalau kita berjalan diantara gedung-gedung di apartemen Jakarta ya… “ celetuk Wowo Sujarwo, salah seorang anggota kru film dokumenter kami.

Bagiku sebaliknya. Tebing-tebing pucat itu tak hanya tinggi menjulang. Tapi juga menyimpan sejuta misteri. Tak banyak yang tahu di perut tebing-tebing itu, didalam kegelapan gua-guanya tersimpan peninggalan prasejarah, berupa lukisan tapak-tapak tangan purba berusia lebih dari 10 ribu tahun !. Tertua yang pernah ada di Indonesia. “di daerah lain di Indonesia lukisan gua, sekurang hanya berusia sekitar 3000 hingga 4000 tahun saja” ujar Pindi (W-***) yang telah melakukan penelitian di kawasan karst Marang ini selama sepuluh tahun.

Dari hasil penelitian Pindi bersama tim peneliti dari Perancis, sekurangnya terdapat 28-an gua yang di dinding-dinding kapurnya terdapat lukisan purba. Dan Pindi akan membawa kami ke dua gua yang menyimpan ‘masterpiece’ dari lukisan purga tadi, gua Tewet dan Ilas Kenceng. “disana kalian akan menemukan misteri alam yang paling indah” tutur Pindi saat kami melakukan brifing di Jakarta.

Rasa ingin tahu yang besar, serta keinginan untuk membuat dokumenternya (telah tayang di RCTI, dalam program GAPURA, pada Juni 2005), membawa kami hingga ke arah hulu Bengalon ini. Enam perahu ketinting, 26 anggota tim – termasuk porter, motorist, pejabat setempat, dan para peneliti -, puluhan koli perbekalan, dan segenggam semangat.

“ itu gua Tewetnya” teriak Eddy sambil menunjuk ke arah tebing. Gua yang dimaksud tidak terletak di atas permukaan tanah, tapi nun jauh di atas sana. Tepatnya di ceruk dinding tebing, tersembunyi dibalik semak. Gila!. Itu berarti besok kami harus memanjatnya. Gelegak adrenalin terasa memuncak.

Awalnya kami akan membuat base camp tak jauh dari gua Tewet, tapi urung. Kami akan bermalam di Liang Unak, di arah hulu. Bergabung bersama tim peneliti arkeologis Indonesia-Perancis yang sedang melanjutkan penelitian disana. “Bengalon sedang pasang, jadi besok kita hanya butuh waktu satu jam untuk turun ke sini” ujar Pindi.

Dan matahari hampir habis sinarnya ketika perahu-perahu ketinting kami di belokan ke arah anak sungai kecil, sungai Danum. Sesuai namanya, sungai jernih, dasar-dasar sungai terlihat memantul ketika perahu kami satu persatu memasukinya.

Kami akhirnya sampai di Liang Unak, base camp para peneliti. Kami disambut Jean-Michael Chazine, Julian Espagne, dan para arkeolog. “ kabar kedatangan kalian sudah kami dengar, selamat datang!” ujar papi-Mike, panggilan akrab Jean-Michael Chazine.

*@*

Sudah kami duga, memanjat Gua Tewet bukanlah perkara mudah. Sebelum sampai di dasar tebing, kami terlebih dahulu harus mendaki hutan terjal. Terjal karena pepohonon tumbuh diantara batuan karst yang tajam.

bak pemanjat tebing ulung, sesekali kami harus merambati dinding tebing. Tanpa bantuan tali, untungnya banyak akar-akar pohon dan ceruk-ceruk tebing yang menjadi pegangan kami. “ayo.. sedikit lagi..sampai !” seru Pak Akim, tetua adat Tepian Langsat, yang bergabung bersama kami menyemangati dari atas. Usia uzur bukanlah halangan baginya untuk tetap lincah menapaki tebing-tebing batu.

Baginya, urusan manjat-memanjat adalah masalah periuk nasi. Pak Akim, serta masyarakat sekitar pegunungan marang adalah para pengumpul sarang walet. Ribuan gua di gunung kapur ini tentunya sudah seperti ladang bagi mereka.

Bahkan, nama gua Tewet sendiri diambil dari nama seorang penduduk setempat yang pertama kali mengantar tim penelitian Pindi kesana. Pak Tewet, mengaku pernah melihat gambar-gambar cadas, saat mereka mencari sarang walet “mereka sendiri telah mengetahui keberadaan gambar-gambar cadas itu sejak puluhan tahun silam.Tapi mereka tak menyadari betapa pentingnya gambar cadas ini” kisah Pindi.

Satu jam berlalu kami akhirnya sampai di dasar tebing tegak lurus. Bukan waktu yang singkat, mengingat jumlah rombongan kami, plus kamera DVC-pro, tripod, batere-batere, dan perbekalan.

Seutas tali menjulur dari atas. Pindi dan Ham terlihat menunggu di atas sana, sekitar 30 meter. Sementara Fathul ‘Toink’ Arifin –anggota HIKESPI- menggantung di tengah jalur tali, menjadi belayer. Mereka memang berangkat lebih dahulu membuat jalur.

Sementara itu, kami mendokumentasikan kegiatan ekskavasi para arkeolog di liang Akim – tak jauh dari Liang Unak -. Disana para peneliti melakukan ekskavasi kerangka manusia yang diduga berusia ribuan tahun. “kerangka ini akan diteliti lebih jauh, mungkin akan menjawab teka-teki siapa penggambar lukisan cadas itu” ujar Papi-Mike.

“Inilah gua Tewet…” ujar Pindi ketika kaki ini menjejak ceruk sempit di ujung tali. Sang waktu seolah berhenti berdenyut saat kami memasuki gua Tewet. Tapak-tapak tangan berwarna merah menyapa hangat dari kegelapan masa silam.

Sublim, ramah namun sakral dan misterius. Tapak-tapak tangan itu memenuhi Langit-langit, dinding, hingga tubir-tubir gua. Sungguh, rasanya tak ada kata-kata yang sebanding untuk dapat melukiskan suasana saat itu. “ gila… gila.. memang gila…” hanya decak-decak itulah yang keluar dari mulut kami.

Diamati lebih teliti, cap tapak-tapak tangan seukuran sebenarnya dari tapak tanagn manusia dewasa itu, sepertinya dibuat dengan cara meletakan tangan di dinding gua, lalu menyemburkan cairan berwarna (batuan hematit merah yang ditumbuk dan di beri cairan) disekelilingnya. Uniknya di tengah telapak tangannya yang tersisa putih, tertoreh lukisan lain. Sepintas menyerupai tato. Bentuk-bentuknya berbeda.

Ada yang berupa strip-strip, titik-titik, atau gabungan keduanya. “ kami sudah menghitungnya, diantara ratusan tapak tangan ini, ada sekitar 125 tapak tangan yang bertato” tutur Pindi.

Semua saling terjalin memenuhi langit-langit. Ada juga gambar yang menyerupai rusa, yang digambar dengan outline garis-garis berwarna hitam.

Adakah semua ini memiliki arti ? manusia gua seperti apa yang melukiskan semua ini ? dan pesan apa yang berusaha mereka sampaikan dengan melukis semua ini ?

Seribu pertanyaan memenuhi benak kami. Dan tidak semuanya terjawab, karena hingga kini penelitian memang belum selesai. Seperti manusia gua seperti apa yang menghuni gua-gua ini, hingga kini masih menjadi teka-teki. Apalagi budaya melukis pada dinding gua tak terwariskan sedikit pun pada masyarakat Kutai Timur atau masyarakat dayak sekalipun. Ada semacam jaman yang terputus.


“yang pasti, berbeda dengan tapak tangan di gua lain, tapak tangan disini sepertinya merupakan penyataan kelompok ” ujar Pindi yang dalam penelitianya pernah mencoba bermalam dan menyalakan api unggun di Gua Tewet. Ini dilakukan untuk mengetahui efek cahaya api pada lukisan itu.

Dari sekian banyak teka-teki, para peneliti diantaranya berhasil menyimpulkan usia dari tapak-tapak tangan ini, yaitu sekitar 10.000 tahun silam. Ini berarti gambar-gambar ini dibuat saat pulau Kalimantan masih bersatu dengan benua asia, termasuk pulau jawa dan sumatra. Pulau Kalimantan sendiri memisahkan diri saat jaman es berakhir sekitar 15 ribu tahun silan “temuan itu memperkuat dugaan kami sebelumnya, ada gambar figur-figur binatang seperti tapir purba yang kini telah punah, dalam kurun waktu yang hampir bersamaan” lanjut Pindi.

Menerjemahkannya sendiri adalah bagian tersulit. Para peneliti berusaha mengelompokannya dalam bentuk goresan, warna, cara menggambarnya. Mereka membagi dua jenis gambar imaji konkrit dan simbolik. Simbolik, seperti tapak-tapak tangan ini, juga rusa jantan yang selalu di gambar transparan. “ itu menandakan roh” ujar Pindi.

Sementara imaji konkrit adalah gambar sebenarnya. Ikan, adegan perburuan, atau rusa betina. “di gua Ilas Kenceng nanti akan lebih banyak variasi bentuk, dan akan lebih mudah menjelaskannya” kata Pindi “ bersiaplah, karena perjalanan kesana lebih berat dan butuh waktu satu hari penuh berjalan kaki”

-@*@*@-

Kenyataannya, bagi kami butuh waktu tiga hari untuk mencapai gua Ilas Kenceng. Bukan apa-apa, dengan Dengan jumlah anggota ekspedisi sebanyak itu –tidak semuanya siap di lapangan - tentunya tak mudah menembus Ilas Kenceng. Apalagi letaknya yang sulit dijangkau, plus kawasan ini memang paling jarang di rambah para pemburu sarang walet.

Medannya pun beragam. Ke arah hulu sungai Bengalon, kami harus berbelok ke arah cabang sungai Marang. Di titik gua sungai, perahu ketinting tak bisa lagi terus kehulu karena kandas. Dari situ kami pun mulai berjalan kaki. Melewati hutan yang berbaur dengan batu cadas. Jangan salah, di hutan seperti ini, harus lebih hati-hati. “batuan tajamnya kayak pisau. Sol sepatu aja koyak, kalau kita jatuh, wassalam…nih “ ujar Wayan Astapala, kameraman kami.

Belum lagi seribu macam cobaan yang dihadapi tim. Mulai dari tersengat lebah, diserang serangga tertentu hingga seluruh badan melepuh, kaki sobek, hingga porter pembawa genset yang terkapar. Dan hampir seluruh anggota kru film kami kebagian sakit, termasuk aku yang sempat terserang demam tinggi. “ tapi entah mengapa, setiap kali saya ada niat ke sana, selalu saja muncul halangan-halangan” kata Pindi.

Menjelang puncak Ilas Kenceng, turun hujan badai. Tapi justru inilah yang membakar semangat kami – mungkin karena puncak sudah dekat -.
Puncak Ilas Kenceng yang sejatinya tak seberapa tinggi itu,-XXX m- menjadi pelipur lara, walaupun “ yah… guanya masih jauh lagi ya dari puncak sini…” kecewa Dhika Shakiya, presenter kami, karena masih harus melipir, dan merambati tebing lagi.

Tapi di gua Ilas Kenceng semua itu sirna. Sumpah ! berada di dasar gua ini, kami serasa berada dalam bangunan ibadah. Luas, lapang, tinggi dan takzim. Langit-langit tinggi, sekitar 50 meter di atas kam, meyerupai kubah . Sementara dari mulut-mulut gua (ada tiga) cahaya matahari mencercah menyinari seluruh ruangan kubah. Dan tapak-tapak tangan itu kembali menyapa kami dari kegelapan masa silam.

Di gua Ilas Kenceng inilah, ditemukan adanya gambar tapir purba, pohon purba dengan rusa jantan ber-outline transparan, adegan berburu, hingga ikan yang menyerupai ikan duyung.

Bahkan penentuan usia lukisan gua ini ditemukan di gua ini. Di dalam salah kegelapan ceruk gua yang tak lagi ‘tumbuh’ ini, terdapat tapak tangan yang tertindih batu gorden, -salah satu bentuk ornamen gua-. Aliran air yang membentuk batu itu telah berhenti, dan kering. “dari penelitian unsur karbon batu itu sendiri berumur 10 ribu tahun” ujar Pindi “ sementara pewarna tapak tangan itu tak memiliki unsur karbon sehingga tak bisa diketahui usianya”

Dan memang yang terindah ada disini. Berupa sekumpulan tapak tangan sebanyak enam buah, berwarna merah darah. ‘Sebuket’ tapak tangan ini terpisah dari tapak lainnya, dan agak tersembunyi. “ kami para peneliti menganggap inilah ‘masterpiece’ -nya “ ujar Pindi.

Dan senja menjelma, ketika kami mulai mempersiapkan alas tidur di dasar gua, dan memasak. Dalam temaram gua, suara satwa-satwa malam mulAi menggema, kelelawar, monyet, hingga burung wallet yang kembali pulang. Ya, burung-burung walet itu tidak hanya memberikan rumahnya pada manusia, tapi sepertinya merekalah juga yang turut menjaga tapak-tapak tangan itu terus menyapa, hingga kini.

Hai manusia.. kusulam lembaran untukmu jua
Tapi tunggulah hingga darahku terbang bersama
Demi kelanjutan hidupmu jua


(BW, ews, 2005)

Saturday, February 28, 2004

Old Shrines of Jakarta

Old temples, mosques and churches are dotted across Jakarta, some retaining their original architecture, most having undergone imprudent renovation. TEMPO retraces the origins of Jakarta’s old houses of worship, examines the work of historian Adolf Heuken in the area, and draws attention to the need for better conservation programs.

THE old house looks more like a vihara than a church. The two ends of the red roof curve sharply upward. Two baogushi (stone lions), one male, one female, stand guard on the terrace, Chinese motifs carved on the front door.

If one recognizes the house in the city’s Chinatown district of Glodok as a church, it’s because of a large cross perched on the rooftop and the words Gereja Katolik St. Maria de Fatima inscribed on the main door. Or perhaps because of a bell tower decorated with a tiny statue of Jesus, while a replica of the Virgin Mary in white stands in the inner yard.

Here is an old, unique church, originally the house of a Chinese nobleman. Built in the Fukien architectural style of South China, the house was used by Chinese Catholics at the beginning of the 19th century for mass services. As the traditional house of a Chinese nobleman, it consists of three buildings set in a row. Between the first and main building and the second building is an open space where the family would have prayed. After the house was bought by the church, this space was turned into the church altar.

Three books published recently by Yayasan Cipta Loka Caraka, a private foundation dedicated to the preservation of old buildings in Jakarta, are replete with stories on the origin of many of the old churches, temples, and mosques of Jakarta. The books published by the foundation, established by Father Adolf Heuken, S.J., are Gereja-Gereja Tua di Jakarta (Old Churches of Jakarta) and Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta (Old Mosques of Jakarta) and Kelenteng-Kelenteng dan Masyarakat Tionghoa (Chinese Temples and Community). The first two books were written by Heuken, and the third by two French scholars, Denys Lombard and Claude Salmon, a book first published in 1985.

The books retrace the origins of most of the old mosques, temples and churches built in Jakarta from the 17th century, providing a detailed account not only of the ornaments decorating the houses of worship but also of the different architectural styles of the buildings. Lombard, for instance, describes the different iconographic images found in the Chinese temples in Jakarta. He began research on the city’s kelenteng in 1966, the year the Indonesian Government broke diplomatic relations with China after the failed alleged communist coup the previous year and launched a campaign of assimilation, banning Chinese rituals and closing Chinese schools. Lombard, therefore, had no first-hand experience watching the city’s temples in their days of glory.

Still, the book written by Lombard serves as a seminal guide for whoever wishes to retrace the origin of the many temples in Jakarta, including a detailed description of the deities and unique character of each of them. Lombard also analyzed the state of the city’s temples under the New Order. "After G30S (the failed coup) all kelentengs were united with the vihara with a damaging effect on the architecture of the building. Political intervention added to the damage," said Chaksana Said, a University of Indonesia archeologist.

Lombard’s extensive knowledge of temples in Jakarta is recognized by Husein, a senior administrator of Wihara Dharma Widjaya, a temple on Jalan Kemenangan III in Central Jakarta. One day in the 1980s, recalled Husein, a tourist visited the temple, one of the oldest in Jakarta. He seemed very knowledgeable about the kelenteng which was built in 1751. Walking toward the left side of the building, he knocked on the wall. "Here’s the inscriptions," he said pointing to one part of the wall. "And here too," he continued pointing to the altar. "Under the putty you will find Chinese calligraphy written on the wall," he added.

Temple assistants who accompanied Lombard on a tour of the temple were surprised and curious. Who was this man who seemed to know more about the kelenteng than the resident experts?

"At first I wasn’t convinced of this man," said Husein, a respected elder at the kelenteng. But he soon changed his mind when the stranger produced an illustrated book in Dutch about the kelenteng. After the man left, Husein and his assistants knocked on the wall and carefully pried loose the putty. Behind the putty the inscriptions on the wall were revealed, as the stranger had told them. Turning to the altar and again carefully scratching the table top, they found the same inscriptions. "We scratched the top of the table very carefully," said Husein. The men did not continue, afraid of damaging the table. They called for a Chinese carving expert from a kelenteng in Semarang, Central Java.

For two weeks the carver from Semarang worked removing the putty from the wall and the altar. "There we saw the Chinese calligraphy," said Husein. Husein and his assistants only vaguely remembered the stranger who introduced himself as Mr Lombard from France. Only later in the 1990s did Husein come to know the man as Doctor Denys Lombard, a well-known Sinologue.

Both Heuken’s and Lombard’s books lay emphasis on the fact that most of the old houses of worship in Jakarta have endured uncontrolled renovation. Continued growth in the number of worshippers has necessitated expansion of the places of worship. The Prophet’s Mosque in Medina has experienced a growing number of pilgrims on the annual haj, necessitating such expansion. In many places of worship, expansion has been at the expense of the buildings with historical value.

"Places of worship are given priority for renovation. Since the old buildings are a common heritage of every one of us, any plan for renovation should be discussed with the city government," said Husnizon Nizar, Head of the Jakarta Historical and Archeological Office. Still, many renovation works have been carried out without proper management and coordination.
The Angke or al-Anwar Mosque in Tambora, West Jakarta is such an example. The mosque is a product of acculturation, one of the most beautiful examples of its size in Jakarta. According to mosque administrator Supriatna, al-Anwar was built by a Chinese woman—a Muslim from Tartar who married a Bantenese. In its time, the mosque was located in an area inhabited by many communities, Chinese, Balinese and Bantenese. Little wonder the mosque is a combination of such diverse architectural elements. The floor plan is specifically Javanese, the carvings are Chinese, the window and door frames Dutch, and the punggel Balinese.

To accommodate overflowing worshippers for Friday prayers, an additional building was constructed which also serves as a Qur’anic learning centre, and circumcision and wedding venue. Construction was financed by the city government, including the purchase of a water pump and the building of an iron fence. The additional building, however, was located right in front of the mosque, thereby obstructing part of the mosque from view.
The Kebon Jeruk Mosque on Jalan Hayam Wuruk in Central Jakarta suffered a similar fate. To meet the need for more space for worshippers, office administration and a dormitory, additional buildings have been constructed in a patchwork fashion, each competing for a higher floor level than the other. What is left of the original mosque is only the limasan-style roofs and a 10x10-meter space for prayer under the mosque dome. All original tiles on the walls have been removed.

Nothing remains of the original backyard, now a two-story building housing the dormitory and administration office. The Kebon Jeruk Mosque has been the headquarters of Jammaah Tabligh, an Islamic propagation center since the 1940s. Recently, Arab, Bangladeshi and local preachers have found quarters in the mosque. A minaret that once stood at the back of the mosque is gone.
The Gereja Katolik St. Maria de Fatima, in the city’s Chinatown district of Glodok, was also subject to renovation from 1999 to 2002. This saw the inner part of the temple expanded to enable the church to accommodate up to 700 worshipers. The floors are now covered with shiny brown and red marble tiles. The renovation raised the floor of the veranda 40 centimeters, the inner part 10 centimeters and the altar 10 centimeters higher than the road outside in anticipation of the annual flooding in the area. But higher floors resulted in the lowering of the ceiling from a height of four to just three meters. Worse, most of the timber used in the renovation work is prone to termite damage.

"After renovation, we found many wooden parts had been eaten by termites. In the past no such thing happened. I suspect the termites originate from the woods used in the renovation work," said Yusup Tujiyana, catechist of the parish. To treat the termite problem, the church then fumigated the entire building at a cost of Rp14 million.

The Luar Batang Mosque in northern Jakarta similarly undertook renovations in a bid to fend off annual flooding. The floors of the mosque, located close to the shore, were raised to a level higher than the water at high tide, which on many occasions reached knee height. When the tiles eventually proved to be too fragile, the floor was rendered with earth and mortar, leaving only the ponds and old beams in the ceiling in their original state.

"Each renovation should be preceded by a study to determine which parts of the building should be preserved," said Wisnu Muntiardjo, head of the Jakarta Renovation Office which advises museums and city planners of renovation work.

Wisnu cites Gereja Santo Yosef on Jalan Matraman in central Jakarta as an example of well-planned renovation. When worshippers could no longer be accommodated directly in front of the altar, a section of the building formerly used as an auditorium was dismantled. A new building was constructed, connected to the main part of the church in an "L" formation. The altar was shifted diagonally to a position where worshippers could still view it.

Another example of well-planned renovation lies in the Jakarta Cathedral on Lapangan Banteng, a three tower neo-gothic construction. Renovation of the church in the 1980s followed a thorough study of its construction. "To incorporate modern elements, we must not diametrically renovate against the character of the church," said Han Awal, the architect in charge of the project. Not content with the available literature in Jakarta, Han and his team of architects sourced more information from the headquarters of the Dutch Jesuit Order in Nijmegeen.

Renovation work should not end upon completion of construction, but should continue with the maintenance of the completed work. "And, of course, we should not cause the building to lose its original identity. A hodgepodge job, as they did with the Kebon Jeruk Mosque, should be avoided," said Wisnu.

SJS, ENDAH WS