Saturday, December 05, 2009
taubatan nashuhah
Wednesday, June 24, 2009
sebuah cerpen
ah...
secepat itu...?
lalu untuk siapa kita menjadi. merasa. dan memiliki. lalu untuk apa semua ini diawali.
lalu kemana aku harus membuang remah dari serpih hati yang lantak ini...
ketika itu mulai menjajah, dan pandora sudah terbelah.
huh.
akuyangmerasabodoh.
Tuesday, May 27, 2008
SLAMET
Mendung. Sungai meluap dan coklat. pintu air sudah dibuka sejak kemarin. Tapi Ini adalah berkah. Setidaknya bagi mereka yang kini sudah siap berjajar di bilah baja jembatan. Menyerok apapun yang hanyut di bawah mereka. Yang laku dijual.
Mereka adalah para pemulung yang tinggal di'apartemen gantung'- itulah sebutan yang mereka berikan pada tempat tinggal mereka -. "Atas mobil, bawah kolam renang, ditengah-tengah saya ngapung " ujar Mamah Butet.
Ya, kolong jembatan. Rangka baja yang menyangga beton jembatan Manggarai , menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal dan hidup. Kuat,fleksibel, aman, dan tersembunyi. Puluhan tahun mereka tinggal disini, dan berprofesi sebagai pemulung. Sekilo botol aqua laku dijual Rp.1200 per kg. lumayan untuk menyambung hidup.
Salah satunya adalah Uwo, 16 tahun. Dia adalah generasi ketiga yang lahir disini. Tepatnya cucu pak Asad, orang terlama -sudah tiga puluhan tahun- tinggal disini.
Tangan kanan Uwo memegang serok, sementara tangan kiri menggenggam buku '1421, saat
" Wwwooo, taroh bukunya !!!, banyak yang lewat dibawah elu tuh !. Ato tempat lo sini buat gw.." teriak mamah Butet, yang tak sabar melihat Uwo yang lebih banyak membaca buku daripada nyerok sampah. Sementara tempat duduk sangat berharga.
"Nih, buku elo..ntar gw pinjem lagi…" buku itu dilempar Uwo ke bocah dibelakangnya yang sedang melamun. Di tangan bocah itu, Slamet, 14 tahun sudah ada buku 'Karl Marx, Revolusi dan Sosialisme' karangan Ken Budha Kusumandaru, yang sudah lecek.
Aku yang sedari tadi duduk memperhatikan mereka semua sambil mengisap sebatang Marlboro putih, terusik. Pikirku… sampai juga 'buku' itu ke tempat seperti ini. apalagi di tangan seorang Slamet.
Bocah ini memang bukan penghuni tetap kolong jembatan ini. dia hanya anak jalanan. Kadang ngamen, kadang mulung, atau sekedar jadi 'pak ogah' di putaran jalan. Dia tinggal dimana saja dia mau, salah satunya selewat saja mampir ke komunitas kolong jembatan ini.
Kisah hidup Slamet sendiri cukup unik. Homeless, borderless, putus sekolah…. pokoknya tragis.
Tahun lalu, saat heboh berita tertangkapnya seorang pedofil asal Australia Peter W Smith di JaKarta, adalah Slamet yang mengadu ke polisi. Dia bersama tujuh temannya sesama anak jalanan menjadi korban si bule 'freak' ini.
Modusnya apalagi kalau bukan iming-iming uang. Dan gilanya si bule goblok ini sudah melakukan pedofilia sejak tahun 2003. Slamet sebagai korban terakhir, mengadukan si bule ke polisi dan kemudian diikuti teman-2nya itu. Kini si bule itu udah di penjara.
AKu sendiri nggak sengaja bertemu Slamet disini. Mungkin karena kasusnya itu jugalah yang membuat Slamet terbiasa dengan orang-orang 'berkamera'.
" Kak.. aku Slamet " ujarnya menghampiri ketika kami sibuk menset peralatan. " sedang apa kak ? " rasa ingin tahunya ternyata juga besar. Dan kami ngobrol panjang di sela-sela shooting.
Hari-hari berikutnya terkadang dia nongol, kadang raib entah kemana selama kami mengambil gambar di kolong jembatan.
Kini, aku kembali terusik olehnya. Dia melamun diatas sungai yang keruh sambil menggenggam 2 buku tadi.
" Siapa yang ngajarin lu baca buku-2 itu .." tanyaku.
" kakak-kakak di lsm .." jawab Slamet. Slamet memang kini, dilindungi satu LSM anak jalanan di
" punya buku apa aja ?
" lumayan mbak.. ada komik juga.. kakak2 yang beliin "
" yang itu udah abis loe baca? "
" udah sih…Cuma… mmm…"
" kenapa, coba aku ingin tahu isinya apa yang Karl Marx itu…"
" yah… ada tentang ideology-ideologi gitulah.. aku sih nggak terlalu ngerti .. bacanya susah "
"lho..terus ngapain elo bawa-bawa itu dua buku.."
" anu… kak, mau saya jual ke SENEN entar siang. Lumayan satu buku laku 20 ribu kak.."
(Walah..! slamet tetaplah slamet)
(februari 2007, ews).
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Monday, May 26, 2008
Dicari : Sahabat yang Hilang
Dimana kau sahabat?
Terakhir kudengar kau bekerja di sebuah perusahaan pemrogaman komputer di belantara jakarta ini. Entah dimana.
Disela kesibukanmu membahasakan peranti lunak (mungkin), masih ingatkah kau, belasan tahun silam, orangtua kita berdua pernah dipanggil guru BP, karena kita berdua bolos 2 hari untuk ikut naik gunung Salak bersama kelompok PA kita (tahun 90, kita ikut pendidikan pencinta alam ‘amatir’ SMA kita SMA 1 Bogor, Satya Sudirman. Waktu itu kita masih kelas satu sma). Ibuku mengomel habis2an dan melarangku naik gunung lagi..
Aku sempat kapok.Tapi kau tidak. Kaulah yang kemudian menyemangatiku untuk ikut bertualang lagi. Kala itu, beberapa bulan kemudian, kami merencanakan petualangan ke Situgunung Sukabumi selama satu hari. Gilanya, supaya ongkosnya murah, kau menyarankan tetap memakai seragam putih abu-abu. - ya, otomatis bolos dong, masak anak sekolahan keluyuran hari minggu-.
Perjalanan ke Situgunung sukses, tapi kita kehabisan uang, karena kebanyakan jajan. Uang yang tersisa hanya cukup untuk ongkos pulang. Menjelang sore kita pulang naik bis miniarta jurusan Sukabumi-Bogor-Cimanggis - kuingat bisnya butut warna coklat- dengan perut keroncongan.
Di Parung Kuda, tiba-tiba ada seorang bapak naik dengan dua karung plastik putih ditumpuk di sebelah bangku kita. Entah apa isinya. Tapi rupanya kau yang duduk di sebelah karung itu mulai mengenali isinya lewat baunya. Dan mulailah jari-jarimu bekerja memperlebar sebuah lubang kecil di karung itu. Hingga cukup lebar untuk bisa menggelindingkan dua butir kedondong keluar. ” nih makan..” ujarmu saat itu membagi hasil kerjamu. Si Bapak pemilik karung masih berdiri di belakang tak kebagian tempat duduk, sementara kita mengunyah kedondongnya. Hahahhaa.. makasih pak, jasamu abadi.
Linda, dimana kau sahabat?
Masih ingatkah kau, petualangan-petualangan gila kita tetap berlanjut hingga kita lulus sma meskipun terpisah. Kau di Jakarta aku di Bandung. Namun Kita tetap semangat merencanakan perjalanan-perjalanan kita saat liburan kuliah.
Kala itu, ditahun keduaku di Bandung aku mengajakmu naik puncak Semeru, karena aku ingin sekali melihat nisan Soe Hok Gie di puncak Mahameru . Kita berangkat dari Bandung. Namun kita gagal naik kereta ke Malang, karena kita bangun kesiangan. Dan akhirnya kita naik bis. Ingatkah kau kita sempat ditipu calo di terminal, setelah membayar ongkos Bandung-Surabaya, tapi kita diturunkan di terminal Cirebon. Hahahha... aku ingat kau marah2 saat itu diterminal. Dan akhirnya tiket itu bisa diganti dengan tiket bus ekonomi ke Surabaya. Sengsara banget..karena nggak nyampe2.
Tapi kita berdua akhirnya menginjakkan kaki di Ranupane (lewat Tumpang). Pihak BKSDA (waktu itu belum taman nasional kayaknya) awalnya tidak mengijinkan kita naik, karena saat itu sedang terjadi kebakaran hutan di Semeru. Apalagi mereka saat itu sepertinya meragukan kita. Bagaimana tidak, dua orang perempuan muda, satu orang berbadan kecil, satu tinggi kurus dengan ransel-ransel besar, sok tangguh bin nekat. Tapi akhirnya kita diijinkan naik, setelah kita meyakinkan akan menunggu di Ranukumbolo hingga kebakaran mereda. Mereka setuju dan meminta kita bergabung dnegan 3 orang pendaki dari Trupala Jakarta -semuanya laki-laki-. Mungkin bapak-bapak petugas itu yakin, kami akan saling menjaga disana.
Kami memang saling menjaga. Bersahabat dengan mereka -aku sudah lupa siapa saja nama-nama mereka-, berbagi makanan dan cerita selama tiga hari di Ranu Kumbolo. Sementara kalau malam kami menonton (tepatnya berjaga) api membakar hutan dan rumput-rumput kering di sekeliling. Kita merasa aman, karena rumput disekeliling kita telah menghitam terbakar sejak dua minggu sebelumnya, jadi tak mungkin tenda kita akan turut hangus.
Akhirnya api memadam, dan kami semua mulai mendaki. Kami memutuskan untuk berpisah, karena mereka memburu waktu. Tinggallah hanya kita berdua lagi, mendaki perlahan. Untungnya kita sempat mencapai Cemoro Tunggal saat menjelang senja. Menginap semalam, karena besok harus bangun subuh untuk mendaki bukit pasir Mahameru (kita menargetkan saat sunrise minimal kita mencapai puncak).
Disitulah untuk pertama kalinya aku melihat kau patah arang. Putus asa, karena setiap tiga langkah mendaki, kami merosot dua langkah di pasir yang gembur. Nggak.... nyampe-nyampe. Sementara diatas kita tim trupala hampir mencapai puncak. Kau hampir memutuskan untuk berhenti disitu. Tapi akhirnya kita berhasil. - aku ingat kau menangis dipuncak, sambil ditertawakan anak2 Trupala itu, yang menyambut kita dengan sebotol air minum -.
Masih ingatkah semua itu kau sahabat ?
Tak terhitung petualangan yang telah kita lewati bersama setelah Semeru itu. Saat kita masih beranjak dewasa (dalam berpikir), belasan tahun silam. Jauh sebelum aku mengenal arogansi sebuah organisasi kepecinta-alaman, jauh sebelum kita mengenal kerasnya kehidupan usai lulus kuliah, jauh sebelum kita mengenal patah hati.
Namun, justru saat aku mulai mengenal semua itulah kita mulai terpisah. Entah oleh apa.
Dimana kau Sahabat?
Kurindu semua petualangan kita.
Monday, April 07, 2008
Requiem for the Departed
The maritime culture of the Macassans permeates life in the land of the Aborigines. Ancient paintings of padekawang abound in caves in Arnhem Land.
The sail at the masthead dips from side to side.
As the boat comes up from the south…
The sail unfurled at the masthead flaps in the wind.
It stands upright and flaps, as the boat goes on.
The wind tosses the sail, up on the mast,
And the masthead moves, dipping from side to side
The sail on the mast flaps, dancing, and ‘talks’ in the wind..
(Gurmatjh Clan, Yirkala)
Fresh flowers of all colors are planted at the head of the grave, flags flapping at every corner. No tombstone, except for a totem pole 2 meters tall. On its top an iron anchor stands out against the sky. "The flag and the head of the totem pole bear strong influences from the Macassan ships," Steve Westley, manager of the Galiwinku Art Center in Galiwinku, told me.
There’s a sense of liveliness, warmth and dynamism. Here is a legacy of the Macassans’ maritime tradition coloring the life of the Aborigines in Arnhem. The song of the Gumatj, originally sung to say farewell to Macassan sailors returning home to Sulawesi, turns into a requiem. They danced and sang around a bonfire in farewell parties of bygone days. Today the requiem is sung at funeral rites within the Gumatj clan from Yirkella to Elcho in Arnhem Land. "The song is sung repeatedly on the demise of a relative," says anthropologist C. Brendt.
In the beliefs of the Aborigines death is a journey home. Sails are unfurled, the flags flapping, the anchors weighed—this is a death ritual for the Aborigines. Dozens of flags and poles decorate funeral grounds in Galiwinku. "We call the poles wuramu," says Datjing Burarrwanga, a descendant of the Macassan sailors in Arnhem Land.
The wuramu takes many forms, including the totem pole, the top of which is painted and carved in the form of a human head. Set up under asam trees in Arnhem Land, the pole resembles a tombstone in Makassar. In an article titled Macassar and the Aborigines, McKnight writes: "Some poles are fashioned in the form of a tripod mast of a padewakang."
Wuramu also has another meaning in the life of the Aborigines in the spirit of the Creator. In the coming-of-age ritual among members of the Burarrwanga family, for instance, the word of praise barokallah (blessings of Allah) is repeatedly sung, the same word of praise uttered by the Macassan sailors. "If they have barokallah in Makassar, here our creator is wurakamu," says Datjing, explaining the song sung by his father Matjuwi. This proves that the Macassans, who were Muslims, never forced their faith on the Aborigines.
Macassans’ influences are evident not only in the Aborigine songs, but also in their dances, notably the dance of the flags. A dance festival held in Darwin in August featured a group called the Red Flag Dancers which stole the show with the performers, their bodies painted and dressed only in loincloths, dancing wit flags of all colors.
"Originally the flags were flown on the topmast of a ship on departure or to show the direction of the wind. No idea of flags was known to the Aborigines before," says Joanna Barrkman, curator at the Northern Territory Museum of Art and Gallery in Darwin.
Flags also feature in Aboriginal paintings, whether done on canvasses, tree bark or other media. Paintings by Matjuwi Burarrwanga, for instance, give much emphasis on images of padewakang complete with its sails and tripod masts, and pedang, parang, Macassans’ houses and teripang.
The images are depicted figuratively in two dimensions in four basic colors: yellow, brick red, black and white, typical for thousands of years of Aboriginal paintings. The basic colors are drawn from natural materials, including lime, coal, and ochre red and yellow rocks pounded into fine grains and mixed with water into paint. Each clan has its own characteristics, depending on the materials available. On Elcho Island, which is rich in lime, white is dominant in the paintings by the local artists.
Images of life in Makassar are found in many rock paintings. George Chaloupka, a rock painting researcher, discovered such paintings in Groote Eylandt, including dozens depicting padekawang the Macassans traditional sailboat. Sadly, Chaloupka could not determine the date of the paintings for lack of carbon material in them. "But judging by the theme of the paintings, one can conclude that they were done between the 17th and 18th centuries," says Chaloupka.
Images of monkeys climbing trees, for instance, were clearly done by an Aborigine who had been to Makassar. Other than monkeys and padekawang, he also painted light-skinned Macassan women dressed in sarongs. "It’s his way of expressing himself of what he had seen for posterity," Chaloupka says.
There’s growing appreciation of Aboriginal paintings in Australia with the annual presentation of the National Aboriginal and Torres Strait Islander Art Award. The winner carries a cash prize of US$40,000, which is equivalent to Rp360 million. "Works of art have become a main source of income for many Aborigines, without which they can only rely on government aid," says Joanna.
Today many Aboriginal works of art are on display in galleries in Australia, fetching prices many times over the original paid the artists.
Sitting on the ground, the Aboriginal families gather to listen to legends recited by the elders of the community of visitors from across the seas—from an island far away in Sulawesi. The centuries-old legends tell of a seafaring tradition of the Macassan sailors who brave the stormy seas to visit the Land of the Aborigines.
It hangs down, that rigging, like falling rain.
They were looking at the rigging,
hanging down from the cross-bar,
from the top of the mast…
They looked at the rigging,
ropes dangling downward…
Looked at it,
hanging down from the cross-bar,
from the mast, like falling rain…
On top of the cross-bar,
hanging down to the deck,
the sail at the mast…
Endah WS (GAliwinku, Arnhemland Australia)
A Tearful Reunion
Matjuwi Burarrwanga and Mansjur Muhayang were separated by circumstances for decades until they were brought back together in a tearful reunion.
THE old Land Rover sped through the dense forests of Arnhem Land in Australia’s Northern Territory one afternoon last August. At the wheel was Datjing Burarrwanga, smoking and enjoying the tune sung over the car radio by Bob Marley: "One love, one heart…. Let’s get together and feel all right… hear the children crying."
Suddenly everyone was jolted by the cry of a child squeezed between passengers as the overcrowded jeep shook over the bumpy road. In the car were Datjing and all members of his family: wife, children and grandchildren. "We’ll soon be in Gulumari, the gravesite of our grandma. Move the child up here," he called out as he stepped on the accelerator. Datjing was taking Tempo on a visit to the grave of Gunanong, the family’s great grandmother.
The grave is located on the coast of Gulumari, about 30 kilometers from Galiwinku. The dirt road traversed by the old jeep was the only decent road on Elcho Island. From the air the island, 50 kilometers long and 6 kilometers wide, looks like an elongated snake. "The Macassan blood in my body flows from Gunanong," said Datjing as he cleared the tombstone of sand and leaves.
Gunanong was the daughter born of the marriage of Husein Daeng Rangka, a Macassan, and Yalyarrambu, an aborigine woman. Records show that Husein was among the last sailors to visit Arnhem Land. "He took Yalyarrambu with him to Makassar where she died and was buried," says Matjuwi, Datjing’s father.
Matjuwi, 74, chose to stay home and did not join the visit because of failing health. Age has also robbed him of eyesight. But the old man has a strong memory of members of his family in Makassar. "How is Mansjur Muhayang? I miss him," he said inquiring about his stepbrother in Makassar. The question was translated by one of his grandchildren. Unlike his son, Matjuwi doesn’t speak English.
Accompanied by Australian historian Peter Spillet, Matjuwi went to Makassar in 1987 to retrace the journey taken by the Macassan sailors to Arnhem Land centuries ago. In Makassar, Matjuwi rebuilt ties with the family of his ancestors in Sulawesi, paying homage to the grave of Husein Daeng Rangka, who in his aborigine tongue was called Yotjing (sometimes spelled "Ocing").
Mansjur Muhayang is a great grandchild of Yotjing. "Mansjur joined the voyage to Galiwinku on board a padewakang called Hati Marege," says Peter Spillet. Spillet described the reunion between Mansjur and Matjuwi as an emotional one with the two brothers crying in each other’s arms.
Some of Matjuwi’s children later in the late 1900s also went to see uncle Mansjur Muhayang in Makassar. At that time, Andrish Saint-Clare, an Australian choreographer, expressed an interest in producing a performance reliving the voyages of the Macassan sailors to Arnhem Land.
Before going to Makassar, Matjuwi knew of his roots in Sulawesi only through stories recited by Nona, a name by which Husein addressed Gunanong. "Nona is a Makassarese name given by Yotjing to Gunanong," Datjing explained. Datjing itself is a corruption of Daeng Gassing, a Makassarese name which means a big daeng. Daeng is a name by which a male person is called in Makassar.
It was Spillet and Michael Cook, lecturer at Batchelor College in Darwin, who brought the idea of taking Matjuwi to Makassar. "Without such a visit, little of the puzzle would have been solved," writes Michael Cooke in his report. In his book A Voyage to Marege, McKnight writes that Gunanong was born and died in Makassar and never returned to Galiwinku. On the contrary, Matjuwi says his grandmother never went to Makassar. She was born and died in Galiwinku when Matjuwi was about 10 years old.
Datjing said he has a good record of the family tree. His father never ceased to recount stories about his roots in Makassar in songs and paintings. Matjuwi is a gifted painter. His works have been displayed in exhibitions in many countries, including America, Canada, and Japan.
One of his most famous paintings is on display at the Museum Art and Gallery Northern Territory in Darwin. It’s a painting about the abduction of an aunt by Macassan sailors. "My aunt was abducted to Makassar and never returned. They are all members of the family," Matjuwi writes in the synopsis of the painting.
Matjuwi’s painting talent is inherited by his children. Only the Burarrwanga clan seems to possess such talent on Elcho Island. Their paintings, done on all kinds of media, from tree trunk, bark to canvas, are on regular display at the Galiwinku Art Center. Buyers come from all over Australia.
The Matjuwi family lives a relatively comfortable life in a well-furnished house complete with electronic goods and home appliances: television, video player, refrigerators, gas stove. No sofas, however, are seen in the house because by tradition aborigines generally sit on the floor.
On return from their visit to the grave in Gulumari, Datjing and members of his family later in the afternoon joined Matjuwi for the initiation of one of the boys into manhood in a ceremony held under the jamblang trees at the back of the house.
Matjuwi, who has been elected chief of the Gumatj clan—consisting of the Burarrwanga and Yunupinju families—sat on an iron bed with an old mattress. Bare-chested and with a bottle of Sprite in his hand he began singing. Accompanied by yidoki, an aborigine wind instrument, and the beats of two pieces of wood called bilmark. Members of the clan, coming from all parts of Arnhem Land, then joined Matjuwi singing and dancing. "The songs tell of the myths of our ancestors, including those from Makassar," Datjing told Tempo in whispers.
As the beats from the bilmark intensified and the singing reached a crescendo, a sense of sacredness and mysticism filled the air. Red paints were rubbed all over the boy’s chest and back as the women danced around. Suddenly one of the women seized the hands of this reporter and shouted: "Come join the dance. You are part of the family. Indonesians are the family."
Endah WS (Galiwinkku, Arnhemland Austalia)
Venice, 23rd December 1953
".. I wish to tell you how interesting the stand of your country has been for me. This is why I would like The Exprezione Internazionale Biennale d'Arte at Venetia to be the first to show to Italy such a high level artist as Affandi. The Biennale di Venice will put your disposal a room, if you are willing to accept our offer. "
The Secretary General
Prof. Rudolf Palluchène
Potongan surat di atas seperti menjadi saksi. Datang dari salah seorang kurator di Venesia untuk Affandi, setengah abad lalu. Saat itu kota air ini akan disesaki seniman dari segala penjuru dunia. Pembicaraan orang-orang di gondola pun tak jauh dari sebuah hajat besar yang sedang digelar di kota itu, "La Biennale di Venice". Bienal Venesia, sebuah ajang pameran seni internasional dua tahunan, tertua, dan terbesar. Tak kurang dari pelukis-pelukis besar seperti Picasso hadir di sana.
Jauh dari keriuhan nama-nama besar itu, seorang pelukis dari sebuah negara Asia yang baru merdeka hadir di sana. Affandi mendapat undangan langsung untuk mengikuti Bienal Venesia dari sang profesor seorang. Potongan suratnya menunjukkan bagaimana minat Rudolf terhadap karya-karya Affandi, yang sebelumnya sukses mengikuti Bienal Sao Paulo di Brazil. Surat itu sendiri terekam di buku Corat-coret Affandi, yang ditulis Mochtar Apin.
Menurut Kartika, putri sulung Affandi, saat itu ayahnya sedang berada di London, mengunjungi Kartika yang melahirkan cucu pertamanya. Ia menerima dua undangan: dari profesor itu dan dari Menteri Kebudayaan Indonesia saat itu, Priyono. Mereka ingin Affandi mengikuti Bienal Venesia, mewakili Indonesia.
Berangkatlah Affandi ke Venesia. Menurut Kartika, Affandi membawa sekitar 40 lukisan. Semua merupakan hasil garapannya sepanjang 1938-1953, tatkala si pelukis melawat ke India dan Eropa. Semua bergaya ekspresionis, di antaranya Gadis Inggris, London Bridge, dan Kelahiran Cucuku Pertama.
Seingat Kartika, di acara bienal itu Affandi tidak mendapat penghargaan dari penyelenggara. Tapi opini publik yang diperlihatkan dari media massa justru mengatakan seharusnya Affandi yang menerima penghargaan. Namanya, menurut Kartika, memenuhi media massa setempat saat itu. Penghargaan datang juga dari Bung Karno untuk Affandi, yang setelah bienal itu menetap di Italia. "Bung Karno mengirim telegram kepada Affandi, mengucapkan selamat dan terima kasih karena sudah membawa nama bangsa," cerita Kartika kepada TEMPO.
Sayangnya, tidak ada dokumentasi sejarah yang menegaskan kehadiran Affandi di acara bienal itu. Misalnya, selain undangan dari sang profesor, tidak ada katalog atau catatan kurator Affandi saat itu. Inilah yang membuat ragu pengamat seni Jim Supangkat. "Buktinya hanya undangan profesor itu," ujar Jim Supangkat. Menurut Jim, kemungkinan besar, kalaupun Affandi berangkat ke bienal, dia tidak mengikuti pameran utamanya (core exhibition) yang biasanya diikuti oleh maestro dunia sekelas Picasso. Ada kemungkinan Affandi hanya ikut pameran di sebuah galeri di Venesia.
Apa pun itu, yang pasti Affandi memang pernah mewakili Indonesia dan tidak pernah merasa minder berada di tengah seniman dunia, apalagi di sebuah perhelatan bienal internasional. Seperti yang ditulis Affandi dalam surat kepada sahabatnya, Muhamad Arsath Rois, pada 15 Juni 1954 di Amsterdam. Surat itu ditulisnya dari Roma setelah bienal itu: " tetapi ondanks det allis, kesenian Indonesia tida kalah dengan negri-2 ketjil seperti Portugal, Sweden, Noorwegen, Finland, Egypt?."
Endah W.S.
Wednesday, January 23, 2008
Aki Otto
Ketika semua orang ‘tergagah-gagah’ menggunakan land rover, dia memilih berjalan kaki dari barak Situ Lembang menuju Cicaruk. Bukan jarak yang dekat untuk orang seusia dia, 83 tahun. “ saya ini sudah tua, tapi bukan berarti saya tidak mampu “ tutur abah Iwan mengungkapkan alasan Aki Otto saat menolak diantar landrover.
Aki Otto tidak mengada-ngada. Aku masih teringat sekitar dua tahun silam, bagaimana Cahyo Alkantana (ketua himpunan kegiatan Speleologi Indonesia, HIKESPI) ketar-ketir menanggapi permintaannya. Bagaimana tidak, saat itu Aki Otto memohon turun – lebih tepatnya ‘memaksa’ – ke luweng grubug. “ saya ini orang lingkungan, buat apa kalau saya nggak turun langsung ke lapangan, saya mampu ! ” ujar Aki Otto yang di masa mudanya sempat menjadi mualim kapal kayu ini.
Tapi masalah ‘turun langsung’ inilah yang membuat Cahyo mengurut keningnya memutar otak. Bukan apa-apa. Luweng Grubug adalah gua vertical sedalam 90 meter, yang hanya bisa dituruni secara professional oleh seorang caver dengan cara single rope technique (SRT), atau turun menggantung dengan satu tali saja. cara termudah adalah turun dari Luweng Jomblang yang dalamnya hanya 60 meter, lalu berjalan kaki sejauh 500 meter di dalam gua horizontal yang gelap gulita.
Akhirnya cara kedualah yang ditempuh Cahyo dan kawan-kawan Hikespi. Aku masih ingat bagaimana kawan-kawan Hikespi rapat selama 3 jam semalam sebelumnya, memperhitungkan segala kemungkinan dan safety procedure bagai penjelajahan Aki Otto ini. Ini semua dilakukan demi mengantar begawan ekologi Indonesia ke Luweng Grubug.
Ahli Ekologi mana yang tak ingin turun langsung ke lapangan menyaksikan fenomena alam Luweng grubug.
Tak banyak yang tahu, di tengah tandusnya tanah karst Gunung Kidul, air berlimpah ruah di perut bumi. Mengalir menembus lorong-lorong gua di bawah tanah, menjadi sebuah sungai bernama kali Suci. Nah, kali Suci ini menggelegar mengalir deras di dasar luweng grubug. Di kedalaman 90 meter di bawah permukaan tanah ini, riak air Kali Suci berkilat-kilat disinari cahaya matahari yang menembus masuk melalui lubang di mulut Luweng Grubug.
Ahli ekologi mana yang tak ingin menyaksikan langsung fenomena alam ini. Termasuk Aki Otto.
Akhirnya tibalah hari dimana Aki Otto harus turun dengan peralatan SRT melalui Luweng Grubug. Segala pengaman dipasang di tubuhnya, mulai dari body-harness, hingga tali dan karabiner pengaman berlapis-lapis. Cahyo mendampingi langsung proses turunnya Aki Otto dengan jalur tali yang berbeda disisinya. SAtu tali pengaman dihubungkan dengan Cahyo langsung.
Kami yang sudah menunggu di dasar luweng grubug, berdebar menanti aki Otto, ‘dikerek’ setinggi 60 meter. Begitu sampai di dasar, tak sedikitpun raut pucat terlihat diwajahnya. “sekarang saya jadi mengerti kenapa kalian-kalian senang keluar masuk gw “ ujarnya sambil tersenyum lebar.
Begitu juga Sepanjang perjalanan di dalam luweng Jomblang-Grubug, tak sedikitpun Aki Otto mengeluh. Dengan serius dia menyimak semua penjelasan Cahyo yang dengan telaten menuntunnya. Sore hari, semua bernapas lega, ketika Aki Otto kembali ke permukaan tanah. Cahyo hanya berkomentar, “ saya salut dengan beliau, belum tentu nanti, di seusia dia saya masih mau turun langsung ke lapangan. Hebat ! “
Penjelajahan itu sendiri bukan sekedar ‘jalan-jalan’ bagi Aki Otto. Di bibir Luweng, dia masih sempet memberi ‘kuliah lingkungan’ bagi kami. Menurutnya Luweng Grubug adalah sebuah harta karun yang luar biasa bagi warga Gunung Kidul yang melarat dan kesulitan air. Debit air yang mengalir deras di Kali Suci, bisa dimanfaatkan menjadi sumber air bagi warga Gunung Kidul. Tidak hanya itu, fenomena alam, di Luweng Jomblang-Grubug bisa diolah menjadi ekowisata. Bukan para pecinta alam yang mengantar para ‘turis lingkungan’ masuk kedalam Luweng nantinya. Tapi penduduk desa disekitar Luweng lah yang harus diberdayakan.
Hampir dua tahun berlalu, teladan sang Bratasena tak berakhir di Luweng Grubug. Di Situ Lembang, dia menolak ketika diminta menyaksikan upacara penanaman pohon di barak Situ Lembang. “ Saya tidak mau hanya melihat orang menanam pohon saja. Buat apa. Yang terpenting adalah bagaimana menyaksikan bagaimana pohon yang tanam itu dirawat dan tumbuh menjadi besar “ demikian.
Dengan jiwanya yang bersih dan tulus, sungguh, dialah Begawan Bratasena sejati itu.
Tuesday, October 02, 2007
Secarik Sejarah yang Raib
Notulensi pidato Bung Karno tanggal 6 Oktober 1965 lenyap tak berbekas. Betulkah karena memuat pembelaan Nyoto terhadap peristiwa G30S?
Bogor, 6 Oktober 1965. Negara genting. Rabu pagi itu Bung Karno menelepon semua menteri supaya menghadiri sidang Kabinet Dwikora di Istana Bogor. Inilah rapat kabinet pertama yang diadakan Presiden setelah peristiwa G30S meletus. Sepekan baru berlalu sejak tujuh perwira tinggi TNI tewas dibunuh di Lubang Buaya. Jakarta diliputi pertanyaan besar: apa yang sesungguhnya terjadi? Betulkah Partai Komunis Indonesia terlibat? Betulkah Bung Karno melindungi PKI?
Semua menteri segera bergegas ke Bogor. Perjalanan dua jam ditempuh para menteri dengan mobil dinas mereka. Beberapa di antaranya bahkan dikawal panser militer. Dua orang yang juga meluncur ke Bogor adalah Nyoto dan M.H. Lukman—keduanya menteri negara yang juga pengurus teras PKI, partai yang dituding tentara berada di belakang prahara G30S. Ketua PKI, D.N. Aidit, yang juga salah satu menteri, telah hengkang ke Solo pada 1 Oktober pagi.
Sidang sendiri baru dimulai menjelang siang. "Ada sekitar empat puluh menteri hadir," kata Mohamad Achadi, mantan Menteri Transmigrasi Kabinet Dwikora, yang juga hadir di Istana Bogor. Termasuk di sana adalah Menteri Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Udara Omar Dhani dan Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto. Menteri Koordinator Hankam, Jenderal A.H. Nasution, tak hadir. Suasana tegang. Achadi, kini 72 tahun, masih ingat setiap orang di ruangan itu saling waswas dan curiga satu sama lain.
Tak lama kemudian, Sukarno membuka sidang. Ia lalu memberi kesempatan kepada Nyoto sebagai Wakil Ketua II PKI untuk bicara. "Saudara Nyoto, kamu punya statement untuk disampaikan, silakan," ucap Sukarno seperti ditirukan Achadi. Ada dugaan Sukarno mempersilakan Nyoto bicara—bukan Lukman, yang juga adalah Wakil Ketua I PKI—karena Sukarno merasa dekat dengan Nyoto. Selain menteri, Nyoto adalah orang yang kerap menulis naskah pidato untuk Presiden.
Nyoto lalu mengeluarkan secarik kertas berisi tulisan tangan. Ia kemudian menyatakan bahwa PKI tidak bertanggung jawab atas peristiwa berdarah G30S. "Kejadian itu adalah masalah internal Angkatan Darat," kata Nyoto, seperti ditirukan Setiadi Reksoprodjo, mantan Menteri Listrik dan Energi Kabinet Dwikora, kepada TEMPO.
Usai pernyataan Nyoto, Sukarno menyambung dengan pidato pendek. "Tak lebih dari 30 menit," ujar Achadi, yang pernah mendekam dalam penjara Orde Baru selama 12 tahun. Sumber lain menyebutkan rapat itu berlangsung lima setengah jam. Isi pidato Sukarno, menurut Achadi, adalah pembelaan Presiden bahwa tragedi ini adalah hal biasa dalam perjalanan sejarah bangsa.
"Selalu ada peruncingan-peruncingan kekuatan. Kalau Darul Islam merupakan peruncingan kanan, Permesta peruncingan nasionalis, maka ini peruncingan kiri," tutur Sukarno. Pada bagian lain, Sukarno menyebutkan peristiwa G30S hanyalah riak kecil dalam revolusi Indonesia. "Jika benar G30S didalangi PKI, tentu PKI bertindak kekanak-kanakan," kata Bung Karno. Ucapan ini pernah pula dikatakan Bung Karno pasca-pemberontakan PKI di Madiun, 1948.
Tak seperti pidato-pidato Bung Karno lainnya yang rapi didokumentasi oleh Sekretaris Negara dan Arsip Nasional, pidato 6 Oktober itu tak berbekas. "Saya sudah berusaha mencari ke Arsip Nasional dan Sekneg, dan tidak ditemukan," ujar sejarawan Asvi Warman Adam.
Dua buku Revolusi Belum Selesai, yang memuat pidato Bung Karno pasca 30 September 1965, tak memuatnya. Di sana pidato Bung Karno yang disusun secara kronologis melompat dari pidato tanggal 3 Oktober 1965 langsung ke pidato 10 Oktober 1965. Asvi, mengutip seorang bekas menteri Kabinet Dwikora, menduga naskah itu sengaja dihilangkan karena memuat "pembelaan" Nyoto.
Betulkah? Tak jelas. Amarzan Loebis, wartawan senior yang hadir di Istana Bogor pada saat itu, mengakui bahwa Nyoto memang menyampaikan pidato pendek untuk menjelaskan posisi PKI dalam tragedi G30S. Sukarno berkali-kali pula menyebut nama Nyoto untuk mendapatkan pembenaran tentang pandangan Presiden terhadap G30S. "Sukarno menunjuk Nyoto dan bilang, masa orang seperti ini mau berontak," kata Amarzan.
Sebelum berangkat ke Bogor, Lukman sempat mampir ke rumah Nyoto di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Di sana mereka saling menyatakan tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. "Mereka berpelukan hanya dua meter dari hadapan saya," kata Amarzan Loebis lagi (lihat, Sang Orator di Senja Masa).
Sayangnya, tak ada dokumentasi yang bisa menjelaskan drama dalam rapat di Istana Bogor itu dengan lengkap. Saat itu memang beberapa wartawan Istana datang meliput. Tapi tak semua berani menuliskannya di koran. Maklum saja, saat itu semua media tiarap di bawah bayang-bayang kekuasaan Angkatan Darat. "Padahal sidang itu penting karena merupakan pertemuan resmi Nyoto dengan Sukarno," kata Achadi.
TEMPO, yang berusaha menelusuri keberadaan dokumen itu, tak mendapatkan hasil yang memuaskan. Laporan wartawan Radio Republik Indonesia, Darmo Sugondo (alm.), yang hadir dalam rapat itu, tak jelas keberadaannya. RRI hanya menyimpan dokumen mereka periode lima tahun terakhir.
Satu-satunya media yang memuat secuil berita tentang rapat bersejarah itu adalah Kompas
edisi 7 Oktober 1965. Berita ini dibuat berdasarkan keterangan pers usai sidang yang dibacakan Wakil Perdana Menteri I Dr. Subandrio.
Kompas menuliskannya dalam tiga kolom pendek. Bukan notulensi lengkap pidato Bung Karno, melainkan garis besarnya saja. Di antaranya, Bung Karno mengutuk pembunuhan buas G30S dan pelakunya. Presiden juga mengatakan tidak membenarkan pembentukan Dewan Revolusi Indonesia. Ia juga menegaskan hanya dirinyalah satu-satunya orang yang berwenang mendemisionerkan Kabinet Dwikora.
Seperti keterangan Achadi, laporan Kompas itu juga menegaskan penjelasan Bung Karno bahwa peristiwa G30S adalah bagian dari rangkaian revolusi Indonesia yang belum selesai. "Supaya rakyat Indonesia tidak pecah dan menyeret munculnya nekolim (neokolonialisme dan imperialisme) baru, supaya rakyat Indonesia tidak diadu-domba dan dikemudikan oleh perasaan dendam, insya Allah saya (akan) mencari penjelasan politik yang adil demi keselamatan revolusi Indonesia," tutur Sukarno.
Apa penjelasan politik itu? Menurut Amarzan, dalam pertemuan yang lain, Bung Karno pernah menyebut akan membubarkan PKI, mengadili semua orang PKI yang terlibat dalam G30S, dan membentuk partai baru untuk menampung sisa-sisa PKI yang tidak terlibat. "Partai baru itu dasarnya adalah Sukarnoisme dan akan dipimpin oleh Nyoto," kata Amarzan. Sukarno tampaknya sudah patah arang terhadap D.N. Aidit, yang secara tersirat pernah ditudingnya sebagai pimpinan PKI yang keblinger. "Saat menerima delegasi sebuah organisasi pemuda nasionalis, dekat menjelang G30S, Bung Karno pernah bilang, 'Aidit itu makin kurang ajar. Nanti saya hajar dia'," kata Amarzan lagi.
Tapi sejarah tinggal sejarah. Nyoto, seperti juga D.N. Aidit dan Sukarno, tak pernah bisa menjelaskan sejarah dalam versi mereka. Pidato si Bung Besar bahkan tak bisa dibaca publik hingga buku Revolusi Belum Selesai ini diterbitkan. Tak semuanya lengkap: pidato 6 Oktober 1965 kini tetap jadi misteri.
Endah W.S.
Friday, September 21, 2007
Revolusi dari Kamar Mayat
Grup metal Korn tampil di Jakarta pekan lalu. Mengalirkan gelegar musik paling gres: nu-metal.
Imut dan lembut, delapan boneka domba yang berjajar di panggung itu seperti menatap kerumunan penonton yang gelisah karena Jonathan Davis dan guyuban metalnya tak kunjung muncul. Barangkali ada yang abai, mungkin juga ada yang menatapnya dan memikirkan tentang domba-domba tersesat. Histeria penonton meluap ketika seorang teknisi panggung menaruh tongkat mikrofon. Masih terselubungi kain hitam. Tapi semua tahu, bila kain disingkap, tongkat mikrofon berbentuk patung perempuan telanjang yang akan tampak. " We want Korn, we want Korn...," teriakan ini membahana, berulang-ulang.
Penonton tak menunggu lebih lama lagi. Begitu personel Korn muncul, ingar-bingar pun meledak. Davis, sang vokalis, langsung menggeber Right Now. Ia seperti hendak membuang habis seketika energinya. Kocokan pick di tangan James "Munky" Shaffer dan Brian "Head" Welch pada gitar mereka yang berdawai tujuh bergemuruh keruh dan berat, betotan bas Reginald "Fieldy" Arvizu berdentam-dentam, dan gebukan drum David Silveria menderu. Semuanya menghambur dari tata suara berdaya ribuan volt. Udara dan tanah terasa bergetar, bergelombang.
Bagai terhipnotis, penonton serentak melakukan ritual yang lazim dalam konser metal. Mereka bergerak serempak, dari saling adu dan dorong badan (moshing) hingga mengentak-entakkan kepala (head banging). Dan bukan tanpa korban. Ada yang nyaris pingsan. Mereka ini segera diangkut tim medis ke luar arena. Mereka yang bertahan terus mengikuti "sang nabi", Davis, dengan meneriakkan setiap bait lagu yang dinyanyikan. Mereka seperti merapal requiem—lagu pengiring kematian. "...I think it's time to bleed/I'm gonna cut myself/ and watch the blood hit the ground/Right now...."
Sambil menggenggam mikrofon andalannya, Davis bergerak ke sana-sini. Tubuhnya yang agak tambun tak mengurangi kelincahannya. Berbeda dengan harapan sebagian penonton, ia hanya mengenakan kostum sederhana, celana training dan jaket olahraga. Begitu pula teman-temannya. Belakangan jaket itu dilepas, berganti kaus berlengan buntung dan bergambar salib.
Jakarta sejatinya mendapat kehormatan disinggahi Korn, grup yang kini tengah menjadi big star musik metal genre paling gres. "Dalam jajaran grup metal dunia, posisi mereka kini ada di paling atas," kata Denny M.R. Keistimewaan itu kian lengkap karena Korn juga baru saja merilis album Take a Look in the Mirror, November lalu. Di antara grup-grup sealiran, misalnya Limp Bizkit atau Linkin' Park, Korn-lah yang oleh media dan kritikus musik dijuluki sebagai pelopor nu-metal (baca "niu" metal, dari kata new = baru).
Dalam peta musik metal, nu-metal tergolong kontroversial. Ada yang menganggapnya sama sekali bukan turunan metal yang dasar-dasarnya diletakkan pada 1970-an oleh grup-grup seperti Led Zeppelin atau Black Sabbath, yang lalu dikembangkan dan dimodernkan antara lain oleh Iron Maiden, Metallica, dan Dream Theater. Tapi pendukungnya tak peduli. Pandangan yang lebih netral merujuk pada dominasi tata suara gitar yang distortif, bergemuruh lagi keruh dan berat, dengan seteman nada yang jauh lebih rendah dari normal. Inilah, kata mereka, ciri utama metal.
Korn, yang resmi terbentuk pada 1992 di Bakersfiled, California, kenyang mengunyah semua pendahulunya itu. Masuk juga dalam menu mereka musik hip-hop, rap, bahkan pop. Begitu santapan itu mereka muntahkan, lahirlah nu-metal. Debut album mereka, Korn, diluncurkan pertama kali pada 1994, setelah mengembara dari festival ke festival. "Mereka tidak lagi hanya mengandalkan kecepatan dan kerasnya musik metal. Tapi mereka menggali lagi dinamika melodi dan performans musik metal," ujar Denny. Ini terasa sekali ketika Korn memasukkan petikan melodi lagu klasik London Bridges is Falling Down untuk kemudian ditrabrakkan dengan gemuruh gitar listrik.
Dalam konser di area depan Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, itu Davis juga sempat memainkan bag pipes, alat musik tiup khas Skotlandia, dengan nada yang sangat liris dan sublim untuk kemudian diikuti entakan dan gerungan vokal dan raungan gitar Munky dan Head. "Butuh keberanian menggabungkan hal-hal seperti itu dalam musik metal, dan Korn selalu jeli mencari sesuatu yang baru," kata Denny pula.
Korn sendiri tak peduli akan gelar pelopor nu-metal. Bagi Korn, "Revolusi musik dapat dimulai dari mana saja, dari tanah tertua di Athena hingga kota kecil kumuh Bakersfield, California, tempat kami semua tumbuh," ujar Fieldy, dalam biografi resmi mereka yang dirilis di situs Korn.
Davis bahkan mengaku memulai revolusinya dari kamar mayat. Ketika terpilih menjadi vokalis Korn, dia praktis meninggalkan profesinya sebagai pegawai autopsi dan penjaga kamar mayat, pekerjaan yang sudah digelutinya lebih dari tujuh tahun (Davis sempat mengambil gelar kesarjanaan di San Francisco's School of Mortuary Science). "Membedah, mengorek-ngorek, memandikan, hingga membalsam mayat adalah latar belakang saya," ujar Davis kepada TEMPO dalam jumpa pers.
Hal itulah yang sebenarnya melandasi musik mereka, terutama lirik-lirik lagu mereka yang menyuarakan kemarahan dan pemberontakan, acap kematian—tema-tema yang menurut Denny "berangkat dari keseharian mereka sendiri dan tidak dibuat-buat". Dan itulah pula yang sepertinya menyihir sekitar 7.000 penggila musik metal Indonesia. Mereka, yang kebanyakan di bawah usia 30-an, datang dari pelosok-pelosok. Baeng Setiawan,18 tahun, misalnya, berasal dari sebuah kampung di Tangerang. Demi membeli tiket festival di bagian belakang seharga Rp 150 ribu, ia merelakan uang jajan selama sebulan. Ia puas menikmati sekitar 15 hit Korn, yang kebanyakan diambil dari album terakhir.
Sebuah sukses yang tentu membuat lega sang promotor, Adrie Soebono. Apalagi konser mulus berakhir tanpa kerusuhan. Padahal, "Selama konser, jantung saya mau copot," kata bos Java Musikindo itu seusai konser yang dibuka oleh band lokal asal Bandung, /rif.
Di tempat karantina penonton yang pingsan, di samping kanan panggung, TEMPO menyaksikan kegilaan tak seketika berakhir. Daya sihir Korn tak hilang sampai mereka benar-benar menghilang ke balik panggung. Penonton yang sudah lemah berbaring bagai mayat-mayat hidup bangkit lagi ketika Davis menyanyikan lagu favorit mereka. Dan mereka pun merapal jeritan hati Davis: "I'm sick mom Where's a fight Dad?! /Dealing with your life/Dead bodies everywhere...."
Endah W.S.
Thursday, September 20, 2007
Anak Kebayoran di Lintasan Shakir
MORENO Soeprapto, 21 tahun, terduduk lesu. Balapan Formula BMW Asia seri kedua baru setengah jalan, mobilnya harus didorong masuk pit. Anggota tim Minardi Asia ini memang ketiban sial. Setelah menggeber empat lap dan sempat memimpin, mesinnya tiba-tiba ngadat dan ia gagal menyelesaikan 10 putaran balapan. "Kenapa saya yang ketiban sial? Kalau enggak ada masalah mesin, seharusnya Indonesia Raya akan mengumandang di podium," ujarnya kepada TEMPO.
Pemuda yang tinggal di Kebayoran, Jakarta, ini tidak sesumbar. Minggu siang pekan lalu itu peluangnya majang di podium sangat besar. Saat berbalap, posisinya sempat melorot, tapi dengan meyakinkan ia berhasil menyodok lagi ke posisi pertama. "Sebelum tiba-tiba mobil saya ngederedet," ujar Reno, nama panggilannya. Apa boleh buat, podium pertama direbut pembalap tim Meritus, Marchy Lee.
Sebelumnya, saat kualifikasi kedua (dipakai untuk race kedua ini), Reno berhasil merebut posisi start terdepan. Dari 30 menit yang disediakan untuk 17 pembalap saat kualifikasi kedua itu, ia mencatat 2 menit 10,8 detik. Hanya berbeda 0,215 detik dari rekan setimnya, Tyson Sy, yang asal Filipina. Formula BMW terdiri dari dua seri balap dengan dua kualifikasi berbeda.
Dengan posisi start terdepan, Reno merasa sangat siap, meski baru mempersiapkan diri tiga minggu sebelum balapan di Shakir. Apalagi, pada kualifikasi pertama untuk race pertama Sabtu pekan kemarin, ia juga mencatat waktu dan posisi lumayan. Dia start di posisi kelima dan finish di posisi keempat.
"Bagus untuk ukuran dia, yang sudah tiga tahunan enggak ikut balap Formula. Terakhir dia ikut Formula Renault di Italia, 2001," kata ayahnya, Tinton Soeprapto, yang mendampingi Reno di Shakir bersama Ananda Mikola, kakaknya.
Bahkan manajer tim Minardi Asia, Piers Hunnisett, sebelumnya sama sekali tak menjagokan Reno. Ketika ia mendapat pole position pada race kedua, semuanya dianggap aset tim. Banyak kalangan menyebut Reno berpeluang besar untuk menang. "Gaya balapnya cukup kalem dan punya strategi untuk balas menyalip kalau ketinggalan," kata sang ayah.
Anak muda kelahiran Jakarta ini memulai karier balapnya sejak usia 12 tahun dengan mengikuti balap gokart. Ia sempat jadi juara di beberapa balapan, di antaranya juara nasional Touring Car 1997. Dia juga sempat ikut serta dalam Formula Asia 2000.
Dan tahun ini, untuk balapan Formula BMW, ia terbilang "telat mendaftar" sebagai pembalap tim Minardi Asia. Para rekan setimnya dari Filipina, Dado Pena dan Tyson Sy, yang sudah bergabung lebih awal, Februari lalu, kontraknya baru ditandatangani tiga minggu sebelum balapan pertama di Shakir itu. Keterlambatan ini di antaranya karena awal Maret ayah Reno baru mendapat kepastian dari sponsor Telkomsel dan Oli Top 1, yang membantu sekitar US$ 150 ribu untuk seluruh seri balapan.
Melihat catatan waktunya saat balapan di Shakir kemarin, Reno berpeluang besar naik podium di balapan berikutnya di Sepang, Malaysia, awal Mei ini. Kini, di sela kuliahnya di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta, ia serius mempersiapkan diri.
Tinton, yang saat balapan di Shakir kemarin terlihat kecewa berat, berusaha menghibur diri. "Memang susah juara di Formula. Yah, minimal Moreno sudah ikut balapan di trek yang sama, hari dan penonton yang juga sama dengan balapan Formula Satu," ujarnya, getir.
Endah W.S. (Shakir)
Tuesday, September 11, 2007
Banyak nelayan Indonesia ditangkap patroli laut Australia karena melanggar batas laut antarnegara. Mereka memburu sirip ikan hiu yang harga jualnya mahal.
Tak ada tawa di sekitar meja biliar itu. Juga saat bola terakhir disundul meluncur masuk lubang. Stik bola sodok bertukar tangan, bola dikumpulkan, permainan dimulai lagi. Begitu seterusnya, tanpa sorak kemenangan. Meja biliar di sudut halaman Konsulat Jenderal RI di Darwin, Australia, itulah satu-satunya hiburan bagi para nelayan dalam masa tahanan. "Kami tidak boleh keluar pagar. Hanya
boleh bermain di sini," kata Roni Rahanwatty, nelayan asal Saumlaki, Maluku.
Inilah mimpi buruk para nelayan yang terdampar di Darwin. Mereka ditangkap oleh patroli laut Australia dengan tuduhan berlayar melewati batas laut antarnegara dan mencuri ikan di perairan Australia. Setiap hari mereka diharuskan melapor ke Konsulat; menjelang sore kembali ke kapal layar untuk tidur. "Sampai pekan ini ada delapan kapal nelayan Indonesia yang masih ditahan. Enam kapal di Gove Nhulunbuy, dua kapal di Thursday Island," ujar Teguh Wiweko, wakil konsul jenderal yang mengurusi kasus ini.
Menurut dia, sebulan ada sekitar 30 kapal tertangkap di Northern Territory Australia. Salah seorang yang tertangkap itu, Husen Tata Ishak, kapten kapal Kharisma asal Rote, Nusa Tenggara Timur. Ia memang sudah diizinkan pulang, tapi karena itu hatinya remuk. "Pedih rasanya ingat keluarga di rumah. Sebab, tak ada yang bisa saya bawa pulang selain baju yang saya pakai ini," ujar ayah tiga anak itu.
Berbekal beras tujuh kilogram, mi instan, dan empat drum air tawar, Agustus lalu ia berlayar ke selatan bersama lima awaknya. Sial, baru sekitar seminggu mencari sirip ikan hiu, Kharisma dicegat patroli laut Australia. "Saya dianggap memasuki perairan Australia sejauh 14,5 mil. Padahal saya masih di perairan netral, masih di sisi utara Challis Venture," tuturnya.
Challis Venture adalah anjungan pengeboran minyak lepas pantai milik Australia. "Kalau sudah mendekati anjungan itu berarti sudah melewati tapal batas yang diperbolehkan," kata Teguh. Itu memang patokan batas laut berdasarkan kesepakatan Indonesia-Australia. Dalam perjanjian 14 Maret 1997 itu disebutkan, di selatan tapal batas resmi RI-Australia ada kawasan netral (gray area) untuk menangkap ikan (kecuali teripang dan tiram) bagi nelayan tradisional maupun modern. Posisi anjungan Challis Venture di luar kawasan netral.
Namun tidak semua nelayan tahu. Husen Tata, nelayan tradisional yang cuma tamat SD itu, misalnya, hanya berbekal kompas biasa dan selembar peta yang dibeli dari Dinas Perikanan Rote. Selebihnya, ia mengandalkan naluri saja. "Kecepatan kapal layar saya lima mil per jam; butuh waktu 24 jam untuk sampai pas di ujung garis netral itu," ujarnya polos.
Tapi Roni, yang memiliki kapal mesin Mega Star yang dibekali peralatan navigasi lengkap seperti GPS (Global Positioning System) dan peta kedalaman laut, masih juga dianggap melanggar batas laut antarnegara. "Kalau yang melanggar nelayan tradisional, saya maklum. Tapi, untuk nelayan modern, saya sudah menyebar peta dan titik-titik koordinat ke berbagai pihak, termasuk ke TNI-AL Armada Timur, yang seharusnya memperingatkan para nelayan," ujar Teguh, yang sempat dituduh sebagai broker dalam pembebasan nelayan dan penebusan kapal.
Selama ini para nelayan Indonesia bisa ditahan sampai berbulan-bulan, terutama sebelum ada kebijakan Australia mengenai percepatan pemulangan bagi nelayan yang tertangkap, yang dikeluarkan awal Juli lalu. Kini, berkat kebijakan buah negosiasi Indonesia-Australia itu, mereka bisa dipulangkan setelah ditahan beberapa hari.
Kapal yang ditahan harus ditebus para pemilik kapal?biasa disebut cukong?kepada pemerintah Australia. Harganya tergantung usia dan fasilitas kapal. Yang termahal bisa mencapai puluhan ribu dolar.
Rugikah sang cukong jika kapalnya tertangkap? Tidak selalu. Menurut Paul Clark, pakar maritim di Darwin, seorang cukong biasa melayarkan 5-6 kapal sekaligus. "Kalau satu tertangkap, mereka masih tetap untung," kata Paul.
Dengan sirip ikan hiu berharga US$ 500-800 (Rp 4,5 juta-7,2 juta) per kilogram di pasar London dan Hong Kong, para cukong memang bisa untung besar. Dari nelayan mereka hanya membayar Rp 950 ribu per kilogram. Satu kali panen, sebuah kapal bisa mendapat 45 kilogram.
Yang melongo adalah para nelayan yang tertangkap. Husen Tata, misalnya, harus kehilangan 15 kilogram sirip ikan yang diperolehnya karena disita patroli Australia. Tak membawa pulang uang, untung ia mendapat tiga batang besar cokelat Cadburry dari kawan sekampung yang menetap di Darwin. "Lumayan, daripada pulang dengan tangan kosong," katanya.
Endah W.S. (Darwin)
Tuesday, June 12, 2007
Panen opium Afganistan mencapai puncaknya tahun ini. Penyemprotan padang opium menyebabkan petani sesak napas dan pingsan.
Sebuah padang bunga di Jalalabad tak menyebarkan semerbak sebuah musim. Bukan karena Afganistan tak percaya pada puisi atau keindahan, melainkan karena padang bunga itu bernama poppy, setangkai bunga dengan getah kelopak yang mematikan.
Nun di Jalalabad dan seluruh Afganistan, yang mencoba membangun negara yang runtuh oleh perang yang tak berkesudahan, ada perang lain yang harus mereka hadapi: opium. Syahdan, seorang petani dari sebuah desa di Distrik Rohdat, Jalalabad, tengah bersikukuh bahwa di ladangnya hanya ada gandum dan bawang. Namun, jelas tanaman yang berserakan di ladangnya itu bekas panenan opium. "Semua petani di distrik ini menanam opium. Hanya orang bodoh yang tidak mau menanamnya," ujar seorang guru, tetangga Sowab.
Kebohongan ini adalah teknik biasa sejak PBB dan pemerintah Afganistan beberapa pekan silam menyalak. Mereka tidak hanya mengancam akan menangkapi petani seperti Sowab, tapi juga mengancam akan membumi-hanguskan ladang opium dengan semprotan udara. Cara ini dikenal efektif saat dipakai di Kolombia membasmi ladang kokain. "Kami memang akan membasmi ladang opium dari udara," ujar Presiden Afganistan, Hamid Karzai, dua pekan lalu.
Maka, dua pekan silam zat pelumat tanaman itu benar-benar disemprotkan dari udara. Pesawat-pesawat berseliweran di wilayah pedesaan, termasuk di Desa Sowab, memuntahkan butiran serupa salju. Alih-alih semprotan itu membasmi ladang opium, berbondong-bondong penduduk di utara menderita akibat sesak napas dan pingsan karena semprotan. "Di klinik saya saja ada 30 petani yang saya rawat setelah ladangnya disemprot," ujar Mohammed Rafi Safi, dokter di sebuah desa di Provinsi Nangarhar.
Betapa berangnya Karzai mendengar laporan ini. Pasalnya, dia mengaku belum mengeluarkan perintah penyemprotan. "Masalah ini jadi serius tidak cuma karena merusak tanaman lain, tapi juga mengancam integritas nasional lantaran dampaknya banyak melukai petani," ujar juru bicara Karzai, Jawed Ludin.
Parahnya, siapa pembawa pesawat itu masih misteri. "Tak ada yang mengaku. Yang pasti, Angkatan Udara Afganistan sendiri masih di bawah kontrol Amerika," ujar Gubernur Nangarhar, Din Mohammed. Karzai pun mempertanyakan hal ini secara resmi pada pihak Amerika. "Tentara AS tidak terlibat sama sekali," ujar juru bicara militer AS di Afgan, Mayor Mark McCann.
Apa pun itu, panen raya opium ini memang menakutkan banyak pihak. Tidak hanya ladang Sowab yang ditanami opium, tapi di seantero Afganistan, 15 ribu hektare ladang di 32 provinsinya, juga ditanami opium. Tanaman yang getah bunganya (poppy) menjadi bahan mentah morfin dan heroin ini juga ditanam oleh lebih dari 2,3 juta petani di sana.
Menurut laporan resmi PBB, produksi opium Afganistan memang melonjak dua pertiga kali tahun 2003, sebanding dengan heroin 4,2 juta kilogram. "Afganistan memecahkan dua rekor tahun ini, produksi opium terbanyak dalam sejarah Afganistan dan menjadi pemasok terbesar dunia saat ini," ujar Antonio Maria Costa, Direktur Eksekutif Narkotik dan Kriminal PBB, saat mengungkapkan laporannya dua pekan lalu. Tahun ini memang Afganistan menjadi pemasok opium terbesar (87 persen) dunia, melebihi produksi negara golden triangle Laos, Burma, dan Thailand.
"Kekhawatiran Afganistan akan menjadi negara narkotik seperti Kolombia (kokain) akan
menjadi kenyataan, apalagi didukung pemerintahan yang ko-rup," Costa menambahkan. Tidak bisa disangkal, hasil penjualan opium yang tahun ini saja yang mencapai US$ 2,8 miliar kini telah menjadi mesin penggerak utama ekonomi Afganistan, setara dengan 60 persen GDP (gross domestic product) Afganistan tahun lalu.
Kekhawatiran Costa masuk akal. Opium—di Indonesia dikenal salah satunya sebagai bahan shabu-shabu—memang tumbuh subur di daratan Afganistan. Opium sendiri bukan barang baru di Afganistan. Sebelum Taliban tumbang tiga tahun lalu, opium bahkan telah menjadi komoditas primadona. Masa transisi, setelah Taliban tumbang, membuat pengawasan melemah. Ini menjadikan siapa saja bisa menanam opium.
Apalagi, menurut penelitian PBB, opium kini telah menjadi kultur yang bahkan rantai bisnisnya sulit diputus. Mulai dari petani sekelas Sowab Khan hingga para baron (warlord), bahkan pejabat pemerintah sendiri, "terbius" bisnis opium ini.
Sowab, misalnya. Dengan hasil jual opium yang harganya bisa mencapai 10 kali harga gandum, dia bisa menghidupi keluarganya. "Saya tidak mau kembali ke kamp pengungsian di Pakistan. Dengan opium, saya bisa bertahan hidup di atas tanah saya sendiri," ujar Sowab.
Sejak kembali dari kamp pengungsi tiga tahun lalu, Sowab meminjam sejumlah modal dari baron setempat. Uang itu dipakainya membeli bibit dan memulai budidaya opium. Dengan harga jual opium $ 92 per kilogram, dia bisa melunasi utang sekaligus menghidupi keluarganya.
Yang paling diuntungkan tentu saja para baron. Mereka, selain menerima piutang, juga menarik pajak 10 persen dari para petani, 15 persen dari pemilik laboratorium opium, dan 18 persen dari distributor atau pengekspor. Belum terhitung termasuk pejabat pemerintah. "Merekalah yang justru secara resmi setiap tahun mengimpor 10 ribu ton bahan kimia pengolah opium menjadi heroin," ujar seorang anggota lembaga swadaya masyarakat.
Menurut Costa, dari total produksi opium, tiga perempatnya diolah di Afganistan dan diekspor dalam bentuk heroin. Rute ekspor gelap utamanya adalah melalui perbatasan Iran dan Turki. "Saya pernah menyaksikan iringan 64 truk pembawa heroin dan opium dalam kawalan tentara baron setempat," ujar seorang intel negara Iran kepada PBB.
Dari sana, heroin dan opium mentah dibawa ke pusat distribusinya di Istanbul dan Kota Tirana di Albania. Rute lain yang biasa diambil adalah melalui Pakistan dan menyeberangi perbatasan Tajikistan, atau Turkmenistan, lalu ke Kirgizstan dan Rusia. Semua bermuara di Belanda dan pusat distribusi utama heroin di Eropa. Dan ini tidak bisa dihindari karena, ironisnya, semakin dilarang, harga opium malah makin mendaki. Berita penyemprotan opium, misalnya, kini mendongkrak lima kali lipat harga opium di tingkat petani.
Endah W.S. (Reuters, AP, AFP, Belfast Telegraph)
Di Marege, pesisir utara Arnhem Land, para pelaut Sulawesi Selatan melabuhkan padewakang, perahu layar khas Makassar, sekitar empat abad silam. Di belahan Northern Territory itu (salah satu negara bagian Australia), mereka mencari teripang pada setiap musim berlayar setelah menempuh perjalanan panjang melintasi benua. Di sana, mereka bercampur-gaul dengan penduduk Aborigin—mempertalikan budaya, bahasa, dongeng, tradisi, dari kedua suku yang berbeda rumpun dan sejarah.
Hampir seabad sudah lewat sejak padewakang terakhir membuang sauh di Arnhem Land—dan meninggalkan jejak yang masih kuat terpatri hingga kini. Inilah catatan perjalananku menjelajah Arnhem Land pada Agustus 2004 dan merekam warisan leluhur para daeng pelaut Makassar di Benua Australia.
***
Jadi inilah Arnhem Land, tanah air suku Aborigin. Terpatri di semenanjung utara Benua Australia, kawasan itu terlihat seperti oasis tropikal dari balik jendela Cessna—pesawat mungil dengan 12 tempat duduk—yang tengah menerbangkan Aku ke Pulau Elcho. Terumbu karang menerawang di perairan dangkal dengan warna air yang kian biru di laut dalam. Tak ada buih ombak, entah kenapa. Mungkin ombak telah pecah di tengah laut, hingga riaknya sudah pupur begitu menyapu pasir pantai. Hutan tropis dan dataran sabana sedikit kabur oleh kristal embun yang menguap di bawah matahari bulan Agustus.
Inilah Arnhem Land, tanah tempat dongeng-dongeng warisan para daeng pelaut dari Makassar berabad lampau masih dituturkan dengan setia oleh kaum tua-tua kepada generasi muda Aborigin. Di bawah sana, panorama alam sungguh mengajuk hati untuk mendekat. Sesekali jalan tanah merah yang meliuk menyembul di antara rimbun pepohonan. Dan sederet tebing cokelat tiba-tiba mengingatkan kita pada pemandangan di kartu-kartu pos.
”Indah tidak tanah kelahiranku?” ujar Charles Yunupinju kepadaku. Di antara enam penumpang, lelaki Aborigin ini satu-satunya penumpang yang bisa duduk manis selama dua jam penerbangan Darwin-Pulau Elcho. Lima penumpang lain, termasuk Aku , serasa ingin meloncat dari jendela dan segera menyatu dengan panorama alam yang memanggil-manggil dari bawah sana. Sesaat kemudian, pesawat menjejak landasan kecil di Pulau Elcho. Ini salah satu pulau dari gugusan pulau kecil di lingkungan Arnhem Land di Negara Bagian Northern Territory.
Dari tanah ini, satu pertalian sejarah dan budaya dapat ditarik melintasi benua dan samudra menuju Makassar, nun jauh di Sulawesi Selatan. Alkisah, pelaut-pelaut Makassar membuang sauh di sana pada berabad-abad silam. Marege, demikian para daeng (panggilan lelaki dari Makassar) menyebut Arnhem Land. Pada musim tertentu, mereka meninggalkan Sulawesi dengan padewakang (perahu layar khas Makassar—Red.) untuk mencari teripang.
Teripang yang mereka ambil dari perairan dangkal di Arnhem konon besarnya mencapai ukuran paha orang dewasa dan berkualitas wahid untuk diekspor ke Cina. Alhasil, daeng-daeng pelaut ini bisa tinggal berbulan-bulan di pesisir. Mereka membangun perkampungan, hidup rukun bersama warga Aborigin. Sebagian menikah dengan wanita setempat dan memperanakkan keturunan Makassar-Aborigin. Darah campuran itu masih bertahan sampai sekarang
Menurut catatan sejarah, padewakang terakhir berlayar ke sana pada 1907. ”Saat itu pemerintah kolonial Inggris di selatan mulai merecoki mereka dengan menarik pajak kepada setiap kapal yang masuk perairan Australia,” ujar Peter Spillet, sejarawan Australia. Maka rombongan daeng pelaut pun mulai berhenti melawat ke Tanah Arnhem. Pantai-pantai yang sunyi di pesisir utara kini seolah menjadi saksi bisu pertalian erat dua suku yang dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer.
Tapi, di Pulau Elcho, legenda Makassar itu masih tertanam kuat. Terletak di pucuk utara Arnhem, pulau kecil berjarak 550 kilometer dari Darwin ini mirip ulat hijau yang berbaring malas di tengah laut. Galiwinku, ibu kota Elcho, mirip desa dengan sekitar seratus rumah. Pulau itu memiliki belasan desa. Jumlah penduduk seluruhnya sekitar 1.500 orang—mereka menyebut diri Yolngu, kaum Aborigin dari Arnhem Land.
”Datanglah ke Galiwinku. Di sana ada keturunan langsung orang Makassar yang masih hidup,” pesan Peter Spillet kepadaku saat bertemu di Darwin. Selain Spillet, sedikit sekali warga Australia yang berkunjung ke pulau ini. Beverly Mercer, misalnya. Konselor Kebudayaan Australian Indonesian Institute (lembaga yang menjadi tuan rumah kunjungan Aku ke Australia pada Agustus lalu) itu belum pernah bertandang ke Arnhem atau Galiwinku. Informasi tentang kawasan ini pun amat minim, terutama soal transportasi.
Selain alamnya masih perawan, warga Aborigin yang tinggal di sana pun konon cenderung masih garang terhadap pendatang. ”Anda benar-benar yakin mau ke sana?” Elizabeth O’Neill, Atase Pers Kedutaan Besar Australia di Jakarta, sempat ragu saat mendengar niat Aku mengunjungi Arnhem Land. Kawasan ini memang tidak mudah dimasuki. Dibutuhkan izin masuk—dan prosesnya bisa makan waktu satu bulan. Itu pun setelah mendapat restu dari komunitas Aborigin setempat. Tanpa itu, jangan harap bisa turun dari pintu pesawat.
Untungnya, Charles Yunupinju, yang kebetulan ”Camat” (dia pemimpin Galiwinku Community Incorporated) Pulau Elcho, memberikan izin masuk setelah dikontak Aku lewat telepon. Kebetulan pula wartawan mingguan ini naik satu pesawat dengan Yunupinju dari Darwin. ”Tak perlu ragu. Orang Aborigin di sana amat ramah dengan orang Indonesia. Mereka akan menyebut Anda macassara,” Spillet memastikan.
Benar saja. Di setiap pojok jalan hingga ambang rumah, mereka tak pernah luput menyapa sambil menebar senyum. ”Ah, mainmark (sapaan yang artinya hidup atau selamat—ews.) macassara, yappa! (Halo—ews.),” seorang ibu berkulit legam yang tengah makan angin di bangku lusuh di depan rumahnya memberikan salam kepada Aku .
Pertalian erat nenek moyang mereka dengan pelaut Makassar rupanya masih langgeng. Para sesepuh klan mengisahkan legenda-legenda leluhur mereka dari negeri seberang itu lewat kidung, dongeng, tarian, torehan di kulit pohon, dan warna kulit. ”Anda tahu kenapa kulit saya cokelat tua? Ini pemberian leluhur saya, macassara,” ujar Don Winimba dengan bangga. Salah satu penduduk Galiwinku ini mengaku neneknya kawin dengan pelaut Makassar.
Jejak Makassar juga banyak tertanam dalam bahasa sehari-hari. Kata ”Takarena” (bahasa Makassar yang berarti ”tempat tetirah”) masih dipakai hingga kini. Takarena adalah sebuah teluk yang tenang di seputar Galiwinku. ”Di teluk itu ada sebuah mata air tempat pelaut Makassar mengambil persediaan air tawar,” ujar Jessica de Largyhealy. Wanita ini adalah penggagas Knowledge Center di Galiwinku untuk mencari pertautan sejarah Makassar-Aborigin.
Selain ada Takarena, di Galiwinku terdapat Kampung Marungga dan Lamuru Point—nama-nama tempat yang berbau Makassar. Beberapa kata yang dibawa para pelaut Makassar diadaptasi dalam bahasa sehari-hari warga Aborigin. ”Saya tak punya ’rupiah’ untuk mengunjungi keluarga di Makassar,” ujar Matjuwi Burarrwanga. Kakek buyutnya adalah pelaut Makassar bernama Husaen Daeng Rangka .
Rupiah yang dimaksud Matjuwi adalah uang. Keluarga Matjuwi tertawa geli ketika aku mencocokkan beberapa kata. Di antaranya bajo (baju), sendhok (sendok), berrata (beras), dharipang (teripang), galiwang (klewang), padang (pedang), dan dhambaku (tembakau). ”Nah, itu pohon jamblang,” ujar Datjing Burarrwanga, anak tertua Matjuwi, sambil menunjuk pohon asam di halaman rumah mereka. Pelaut Makassar dulu membawa bibit pohon asam ke tanah Marege sebagai bumbu masak. Biji-biji pohon asam itu kini beranak-pinak hingga ke halaman rumah Matjuwi.
Selama 40 ribu tahun usia peradaban Aborigin di Benua Australia, pelaut Makassar pencari teripang adalah orang luar yang rajin menyambanga mereka. Memang mereka bukan yang pertama. Menurut Jennifer Isaacs dalam bukunya Australian Dreaming: 40.000 Years of Aboriginal History, ada orang-orang Baiini—yang konon juga dari Kepulauan Indonesia—yang masuk ke Arnhem Land sebelum para pelaut Makassar. ”Tapi jumlah mereka tak sebanyak orang Makassar,” tulis Isaacs dalam bukunya. Setelah perginya orang-orang Baiini, puluhan perahu layar Makassar datang setiap tahun.
Ada perdebatan tentang kapan tepatnya pelaut Makassar ini datang ke Arnhem. C. Campbell McKnight dalam catatan antropologisnya memperkirakan abad ke-17 atau ke-18. Saat itu ada pertemuan antara pelaut Inggris, Kapten Matthew Findlers, dan Daeng Pobasso, pada 1803. Isaacs serta Spillet punya pendapat lain. Pelaut Makassar telah berlayar ke Arnhem jauh sebelum itu. Versi Jennifer Isaacs adalah tahun 1650 berdasarkan temuan arkeologis. Sedangkan Spillet menduga mereka tiba satu abad sebelumnya. ”Dari prasasti di fondasi benteng Somba Opu yang dibangun pada 1550 di Makassar, saya menemukan gambar padewakang dan teripang besar,” ujar Spillet.
Yang pasti, setiap kali angin utara mengawali musimnya pada bulan Desember, para daeng pelaut itu berbondong-bondong berlayar ke Arnhem. Jumlahnya 30-60 perahu. Setiap perahu diawaki kurang-lebih 30 orang. Setelah buang sauh, para perantau dari Makassar ini mengeluarkan lepa-lepa, kano dari batang pohon yang ditatah sebagai sekoci untuk ke pantai. ”Lepa-lepa yang kini digunakan masyarakat Aborigin benar-benar pengaruh dari pelaut Makassar. Sebelumnya, mereka hanya mengenal perahu dari kulit kayu,” ujar Joanna Barrkman, kurator Museum and Art Gallery of the Northern Territory (MAGNT).
Dengan bantuan orang Aborigin, lepa-lepa juga digunakan untuk mengumpulkan teripang dari dasar laut. Teripang direbus dalam periuk-periuk tanah, lalu dibelah. ”Sisa-sisa periuk ini masih banyak ditemukan di pantai-pantai Arnhem,” tulis Jennifer Isaacs dalam bukunya. Para daeng ini juga membangun rumah-rumah asap guna memproses teripang sebelum membawanya pulang ke Makassar untuk diekspor ke Cina.
Pelaut Makassar biasanya tinggal sekitar lima bulan di Arnhem saban musim lawatan. Pada masa inilah terjalin interaksi yang intens dengan warga Aborigin. Selain mengawini wanita-wanita Aborigin, mereka terkadang membawa lelaki Aborigin ke Makassar untuk bekerja di sana. Sebagian tak pernah kembali lagi. Dan kalaupun kembali, mereka tak lupa menorehkan pengalaman di rantau pada dinding batu (rock painting) di gua-gua.
”Di Groote Eylant ada yang menggambar padewakang dengan amat detail,” ujar George Chaloupka, pakar rock painting dari MAGNT, ”Ada juga gambar wanita Makassar memakai sarung, serta pertemuan mereka (para perantau Aborigin—Red.) dengan monyet-monyet.” Pertalian dengan Makassar bisa pula ditemukan di Yirkalla, Gove, Millingimbi, Maningrida, Port Essington, serta Pulau Kiwi (di luar Arnhem). Menurut catatan Spillet, ada sekitar 96 titik yang didatangi pelaut Makassar di sepanjang pesisir Arnhem.
Sejatinya, lawatan-lawatan pertama ke Arnhem Land bukan hal yang mudah bagi para pelaut Makassar. Raga, bahasa, dan budaya yang tak dimengerti satu sama lain terkadang menimbulkan pertumpahan darah. Richard Ghanduwuy Ganawurra, penduduk Galiwinku, masih ingat cerita kakeknya tentang dua awak kapal yang berlabuh di Takarena dibantai Aborigin. Itu hanya karena pelaut Makassar ini mengambil tali yang biasa dipakai untuk upacara adat Aborigin di pantai buat memancing ikan. Peristiwa itu terjadi sekitar akhir abad ke-19.
”Semua dibantai, kapal dibakar, dan keluarga kakek saya hanya menyelamatkan seorang bocah dan memeliharanya,” Ghanduwuy mengenang sambil membawa diriku ke lokasi tempat pelaut Makassar dibantai itu, berupa dua tonggak kayu tua, di tepi pantai.
Toh, legenda hitam itu tenggelam di antara kenangan manis Makassar yang terukur dalam suasana damai. ”Mereka memperlakukan leluhur kami seperti saudara, memberikan bajo, dhambaku, pedang, galiwang, serta beras. Ini berbeda dengan Cook (maksudnya Kapten James Cook), yang memperlakukan kami seperti monyet,” tutur Datjing.
Menurut Datjing pula, hal itulah yang membuat mereka kurang ramah terhadap pendatang kulit putih. Tapi tidak semua anak suku Aborigin bersikap demikian. Di Pulau Elcho, misalnya, mereka hidup rukun dengan penetap kulit putih. Apalagi kesejahteraan hidup mereka di Arnhem Land lumayan terjamin. Ada rumah yang layak dan santunan bulanan dari pemerintah Australia.
”Warga Aborigin di sini jauh lebih ramah ketimbang kaum Aborigin di kota-kota besar Australia,” ujar Michael Newton, wakil pemerintahan Australia yang sudah empat tahun tinggal di Pulau Elcho. Newton juga betah karena bisa menikmati dengan cuma-cuma anugerah alam yang berlimpah ruah: keindahan panorama di sekujur Arnhem Land.
Sesak rasanya hati ketika pesawat Cessna mungil itu lepas landas meninggalkan Galiwinku, membawa Diriku kembali ke Darwin. ”Mainmark Aborigin!”
Bersambung…
Endah W.S. diterbitkan di Majalah TEMPO , 26 September 2004
Sunday, June 10, 2007
Di Antara Luka dan Harapan
Desain baru WTC belum lama diumumkan. Kompromi sebuah dilema antara trauma sejarah dan harapan.
Lebih dari satu dekade lalu Tembok Berlin runtuh. Berlin telah lama bersolek, tapi beberapa butir peluru masih tampak tersimpan, tertanam di dinding-dinding lama. Sejarah tak berhenti sebagai memori, catatan-catatan pribadi, dan di kota itu ada Potsdamer Platz, simbol kembalinya Berlin sebagai metropolis Eropa. Memang tak banyak yang tahu Platz dibangun di atas sebuah ground zero. Tapi di antara dilema mempertahankan luka sejarah dan membangun peradaban baru itulah sebuah rekonstruksi didirikan.
Dilema ini seperti berulang satu dasawarsa kemudian, saat situs reruntuhan World Trade Center (WTC) New York di Amerika Serikat akan dibangun kembali. Tidak mudah memang membangun di atas sebuah luka sejarah (baca, Ground Zero). Jarak antara peristiwa horor itu dan rekonstruksi masih terlalu pendek, sementara opini masyarakat New York terbelah: membangun yang baru atau mengabadikan yang lama. Di antara dilema ini, muncul Daniel Libeskind, 56 tahun, arsitek yang menang dalam kompetisi perancangan WTC bulan lalu. Ia menangkap kedua opsi itu, menuangkannya dalam landmark baru yang sangat kontekstual terhadap sejarah: ada memori, ada harapan.
Lubang raksasa yang menganga dibiarkan terbuka sebagian, demikian juga tembok penahan yang tersisa untuk menahan Sungai Hudson, tanda kekuatan dan ketabahan. Sebuah museum bernama Wedge of Light akan dibangun di tengah ground zero, dan ini memungkinkan sinar matahari menerobos masuk setiap pagi. "Ini akan mengingatkan orang pada serangan teroris yang merenggut kehidupan di pagi yang cerah," ujar arsitek kelahiran Polandia ini di dalam memoar rancangannya.
Ini semua akan memberi ruang publik baru bagi masyarakat New York. Dan seperti sebuah prosesi, mereka bisa turun ke bawah, tanpa harus kehilangan suasana meditatif dan spiritual, melewati dinding penahan dengan takzim. Untuk menghidupkan landmark bisnis di WTC, Libeskind merancang lima buah gedung di sekitar ground zero dengan tinggi tak lebih dari 70 lantai (sekitar 280 meter)—dengan begini, risiko menjadi sasaran serangan teroris semakin kecil. Kota New York pun akan kembali mendapatkan skyline landmark-nya dari tower setinggi hampir 600 meter (akan menjadi tertinggi dunia). Menara antena itu sendiri nantinya hanya akan berisi taman dan restoran.
Konsep inilah yang menjadi pertimbangan kenapa rancangan Libeskind yang dipilih pemerintah Lower Manhattan New York (penyelenggara kompetisi). Saingannya, THINK, yang dipimpin Rafael Viñoly dan Frederick Schwartz, membangun dua menara baja baru di atas ground zero. Memorial site dibangun di puncak dua menara tersebut, dan ground zero yang menganga ditutup beton.
Sepertinya memang pemerintah New York mempertimbangkan opini masyarakat. "Biasanya dilema memang tidak hanya terjadi pada arsiteknya, tapi juga masyarakat dan pemerintahnya," ujar pengamat tata kota Marco Kusumawijaya kepada TEMPO. Saat Platz dibangun pun masyarakat Kota Berlin terpolarisasi antara menghidupkan kembali Berlin di masa lalu dan membangun sebuah megapolitan baru. Apalagi berabad lalu Platz sempat menjadi saksi bagaimana Berlin menjadi landmark bisnis di Eropa. Di sana pernah berdiri bangunan hotel, plaza, perkantoran, dan pusat perbelanjaan. Bahkan di areal Platz inilah lampu lalu-lintas pertama kali dipakai di Jerman pada tahun 1924.
Kejayaan Platz hancur ketika pasukan sekutu membombardirnya. Platz sempat dijadikan pusat kendali oleh rezim Hitler. Tapi, belum lagi megapolitan itu bangkit kembali, Tembok Berlin telah melindas dan membelah Platz menjadi dua pada 1961. Peristiwa itu menjadikan wilayah ini tak bertuan selama puluhan tahun.
Kini, setelah pembangunannya yang dimulai pada tahun 1994 dan selesai tahun 2000 itu, areal seluas 6,8 hektare itu kembali menjadi landmark. Bangunan-bangunan baru berdiri. Rancangannya, yang juga disayembarakan, melibatkan arsitek sekaliber Renzo Piano, Richard Rogers, dan Helmut Jahn. Masa lalu sendiri hanya dipertahankan melalui grid lanskap, ruang terbuka, dan fungsi bangunan sebagai pusat komunitas bisnis.
Dibanding New York, Berlin memang memiliki luka sejarah yang lebih dalam. Hampir seluruh bagian kota hancur akibat perang. Saat Tembok Berlin runtuh, Berlin memerlukan waktu yang panjang untuk membangun kembali kota yang utuh. Sebagian dibangun ulang persis seperti aslinya, lainnya direstorasi seperti Platz. "Berikutnya akan dibangun sebuah museum mengenang kekejaman Nazi, bernama Topography of Teror, yang akan dibangun di atas bekas kantor Gestapo," ujar Marco.
Tak ada konsep yang kaku dalam membangun kembali situs yang rusak dan memiliki luka sejarah yang dalam. Tapi, menurut guru besar tata kota ITB, Prof. Dr. Danisworo, biasanya selalu ada bagian penting yang dipertahankan dalam upaya restorasi. "Untuk dijadikan semacam simbol," ia menambahkan. Ada bermacam cara untuk mencapainya, termasuk menggabungkan dengan konsep arkeologi. Pembangunan Kota Hiroshima di Jepang, misalnya. Kota yang luluh-lantak akibat bom atom pada Perang Dunia II itu memang dibangun ulang. Kecuali pada Hiroshima Memorial Peace Park, tempat gedung "A Bomb Dome" dibiarkan apa adanya dalam puing. Gedung bergaya Eropa yang dibangun pada 1915 ini sempat menjadi landmark, sesuai dengan fungsi sebagai pusat eksibisi.
Pada rancangan Libeskind, landmark WTC pun seperti dihidupkan kembali. Ini sepertinya
karena imigran asal Polandia itu sendiri memiliki akar yang kuat terhadap Kota New York. Usianya baru 13 tahun saat kapalnya masuk Kota New York. Ingatan yang sangat membekas sampai kini adalah skyline New York.
Menurut Danisworo, desain Libeskind jugalah yang paling logis secara ekonomis. Dengan biaya pembangunan diperkirakan mencapai US$ 350 juta, kemungkinan besar Amerika Serikat tidak akan membangun seluruh rencana dalam wilayah 7,5 hektare itu. Kalaupun terjadi "pemotongan", konsep landmark tetap akan hidup. "AS tidak punya dana. Nantinya yang dibangun biasanya konsep-konsep dasar saja," ujar Danisworo, yang amat menyayangkan bahwa konsep di atas belum pernah ditempuh di Tanah Air.
Dan yang paling penting, desain Libeskind-lah yang akhirnya paling diterima masyarakat New York. Mereka yang memang diikutsertakan dalam proses sayembara itu memuji sensitivitas Libeskind dalam rancangannya. Seperti dituturkan Monica Iken, yang suaminya hilang terkubur dalam reruntuhan WTC, kepada harian The Washington Post. Ia membayangkan suaminya akan tenang dalam kubur. "Saya kira dia akan bangga tempat peristirahatan adalah tempat yang menyembuhkan luka," katanya.
Endah W.S.
Monday, June 04, 2007
Hari ini aku bertemu seorang ibu. namanya Ernawati. pakaiannya kumal bercampur oli. bagian pinggul sebelah kanannya sampai ke dengkul basah. tangan kanannya terbungkus sarung tangan kumal. kaos golkar membalut kepalanya dengan bagian leher kaos diikat sedemikian rupa sehingga hanya mukanya yang menyembul.
"Yu.. mbakyu...mau dijahit nggak karungnya. punyaku sudah ditimbang.." teriaknya pada seorang kawan sesama pengangkut sambil menaikkan karung plastik kecil ke pinggulnya. Air laut menetes dari ujung karung membasahi celananya. Hanya sampai di pinggul itulah rupanya dia mampu memanggulnya. Bukan apa-apa. walaupun kecil, karung itu isinya adalah karat besi, hasil dia mengerok dinding kapal tua di pantai Cilincing.
ya, ibu Wati kini lagi dapat 'borongan' mengangkut karat besi dari kapal kiloan. Di pantai Cilincing sendiri saat ini ada 5 kapal yang sedang dibongkar. Ini adalah bisnis kapal kiloan. - bisnis orang madura -. ternyata bisnis besi tua madura tidak hanya di darat, tapi juga merambah kelaut. Kapal-kapal tongkang dan tanker tua baik yang terdampar ataupun karam diseret ke pantai ini.
Disini, kapal di bongkar, dibelah, di potong-potong dan dikilo, untuk dilebur ulang. " jangan salah mbak, satu untai rantai jangkar ini harganya sama dengan satu buah kijang innova lho " ujar haji Taufik, salah satu pengawas pembongkaran kapal.
Tidak semua baja dari kapal-2 tua itu bisa dikilo. untuk menaikkan harganya, biasanya karat-karatnya harus dikerok dulu.
nah, karat-karat dari Baja kapal yang sudah berbentuk serpihan inilah yang menjadi jatah rejeki bagi ibu Wati. sebagai catatan, tidak tiap hari ada kapal datang.
Dua hari ini dia behasil mengumpulkan puluhan karung. Karung-karung kecil yang diangkutnya bolak-balik itu dimasukkan dalam karung besar untuk ditimbang.
Sore ini, juragan penge-pool karat besi datang, untuk membeli hasil karungan mereka. Biasanya satu kilo dihargai 300 perak. "mudahan-mudahan ada satu ton ini " ujar ibu Wati. Nantinya kalo dapat 300 ribu, uang itu masih harus dibagi dua dengan pemilik kapal. Jadi jatah si ibu hanya 150 ribu.
Dia terduduk lelah di pojok timbangan, peluh dan kotoran menjadi sahabat kulitnya. sementara sang suami, menjahit karung-karung hasil panggulannya untuk ditimbang. Kenapa bukan suaminya yang mengangkut karung-karung itu, karena dia terlihat segar bugar dan kuat. " suami saya tulangnya nggak kuat" ujarnya.
walah... modus bu !.
Suaminya sendiri pengangguran, sementara empat anak mereka masih kecil-kecil. (mbok ya.. sedikit mbantu ngangkut.. pak..)
enam karung besar hasil angkutnya selama dua hari sudah semua ditimbang.
"berapa ...?" ujarnya ke tukang timbang.
"hanya 830 kg bu..."
(.. lewat sudah targetnya untuk dapat 150 ribu untuk makan sekeluarga selama sebulan).
Thursday, February 22, 2007
Heruka, yang Menari Tantrik di Atas Mayat
Temuan arkeologis tentang Tantrayana di Sumatera Arca Durga Mahishasuramardini masih ditelusuri hingga kini. TEMPO mengikuti penggaliannya di situs Tanjung Medang, Sumatera Barat.
"Wanwawanwanâgî
Bukângrhûgr
Hûcitrasamasyasâ
Tûnhahâhahâ
Hûm Hûhûhehai Hohauhaha
Om âh hûm"
Mereka merapal mantra berulang-ulang. Anyir darah menyeruak di antara mereka yang menari di atas mayat bergelimpangan. Kulit dikupas, dipakai sebagai baju. Mereka tertawa, mendengus, hum! Darah manusia diminum hingga mereka mencapai puncak tantrik, menjadi sakti, suci. Sesuci dewa.
Berabad lalu, ritual Tantrayana itu masih dilakukan oleh penganut agama Buddha Wajrayana. Mantra tantrik di atas tertulis di prasasti dari lempengan emas yang ditemukan di Biaro (Candi) Tandihat II di Padang Lawas, Tapanuli Selatan, Sumatera. W.F Stutterheim, peneliti asal Belanda, yang berhasil membaca prasasti itu pada tahun 1930-an. (Kini prasasti itu tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.) Prasasti itu berisi lirik-lirik mantra yang harus dibacakan saat ritual Tantrayana Bhairawa. Menurut dia, bunyi hum adalah dengusan banteng dan ha adalah lafal tertawa. Ritual itu dilakukan dengan cara menari di atas mayat-mayat.
Ritual sadistis itu berkembang di zaman Kerajaan Melayu akhir hingga abad ke-14 di Sumatera. Sebelumnya, semasa Sriwijaya dan Melayu awal, ajaran Buddha Mahayana-lah yang banyak dianut. Salah seorang arkeolog yang tekun dalam Tantrayana kini adalah Bambang Budi Utomo, arkeolog UI. "Dari beberapa tulisan pada lempengan emas di banyak situs, terbuktilah bahwa agama yang menjalankan ritual Tantrayana adalah Buddha Wajrayâna," ujar Bambang Budi Utomo.
Beberapa minggu lalu TEMPO sempat mengikuti Bambang Budi Utomo melakukan penggalian di situs Tanjung Medan, Pasaman, Sumatera Barat. Pencarian temuan Tantrayana masih terus dilakukan di situs seluas 2 hektare ini. Situs yang ditemukan pada tahun 1876 dengan enam situs candi dari batu bata ini sempat terbengkalai. Tahun 1991, penggalian baru dimulai saat Dinas Pekerjaan Umum menemukan runtuhan bata.
Di sana pernah didapati temuan arkeologis, di antaranya berupa piringan-piringan emas dari abad ke-13. Di antaranya kepingan piring emas yang menggambarkan bekas 8 kelopak daun padma, simbol 8 tokoh dengan Dhyani Budhhi Aksobhya. Dari penggalian sedalam 30 sentimeter, Bambang berhasil mengumpulkan pecahan keramik dan gerabah. Bambang juga menemukan sisa bangunan dan arca. Semua ini diduga menunjukkan gejala adanya kegiatan ritual agama Wajrayana. Semua temuan itu dibawa ke Pusat Arkeologi Nasional untuk diteliti lagi. "Untuk memperkuat dugaan adanya aktivitas agama Buddha Wajrayana di sana," ujar Bambang.
Selain di Tanjung Medan, ajaran-ajaran agama Wajrayana itu sendiri memang banyak ditemukan di situs Bumi Ayu, Padang Lawas, dan Padang Roco. Menurut Bambang, di Padang Lawas tiga kelompok biaro yang mempunyai sifat Buddha Tantrik adalah kelompok Biaro Si Pamutung, Biaro Si Joreng Belangah, dan Biaro Si Sangkilon. Sementara itu, pada biaro lainnya, Biaro Si Pamutung, banyak ditemukan arca ataupun hiasan bangunan (makara) yang merupakan indikator Wajrayâna.
Pada halaman biaro ditemukan sebuah arca buaya yang digambarkan dengan wajah bengis. Selain itu ditemukan juga dua buah arca raksasa dalam sikap añjalimudrâ. Dari mulutnya keluar dua pasang taring. Kedua bola matanya digambarkan melotot. Artefak arca dan relief yang ditemukan di sana memang banyak menggambarkan wajah-wajah raksasa yang menyeramkan dan sadistis. Kebanyakan arca berdiri di atas mayat atau tengkorak manusia. Bahkan, selain beraksesori kalung tengkorak, mereka juga memegang batok kepala manusia sebagai mangkuk darah.
Selain itu ditemukan juga beberapa prasasti singkat yang bertuliskan mantra-mantra aliran Tantris. Pada tahun 1950-an, di Padang Lawas (Biaro Bahal 2) bahkan pernah ditemukan arca Heruka, dewa terpenting dalam agama Buddha aliran Wajrayâna. "Jenis arca ini merupakan yang paling langka baik di Jawa maupun Sumatera," ujar Bambang. Menurut Bambang, dewa ini dipuja pada saat upacara Bhairawa. Arca Heruka ini digambarkan sedang menari-nari di atas mayat dengan tangan kirinya memegang mangkuk berupa tengkorak manusia. Rambutnya digambarkan menyala-nyala seperti lidah api. Bahkan dia menggunakan selendang untaian tengkorak.
Bernert Kempers dalam buku Indonesian Art mengatakan Heruka juga berdiri di atas mayat-mayat. Sayangnya, kini arca ini hilang tak berbekas. Apa tujuan ritual demonis itu dilakukan? Ritual mabuk-mabukan hingga pesta orgi, seperti pada Tantrayana di zaman Kertanegara abad ke-14 di Singosari, sebenarnya bertujuan mengajarkan penganutnya mendapatkan kesaktian. Juga mendapat mukjizat untuk dilahirkan kembali dengan kekuasaan dewa. Tantrayâna sendiri menurut Bambang digambarkan sebagai suatu perbuatan yang sadistis dan tidak lepas kaitannya dengan mayat serta darah manusia. Upacara yang terpenting dalam aliran Wajrayâna adalah upacara Bhairawa, yang dilakukan di atas ksetra (suatu tempat penimbun mayat sebelum dibakar). "Sayangnya, berbeda dengan Tantrayana yang ada di relief candi di Borobudur yang dijelaskan lagi oleh naskah Tantrayana di Jawa, di Sumatera hampir tidak ada naskah yang mendukung," ujar Noerhadi Magetsari, yang melakukan penelitian tentang Tantrayana di Jawa.
Meskipun demikian, setidaknya Bambang Budi Utomo bisa menghubungkan maksud penggambaran Heruka dengan mengambil kutipan pada kitab Sudhamala, yang berkembang di Jawa. "Seorang penganut Tantrayâna harus membayangkan Heruka," tutur Bambang. Heruka sendiri dalam agama Buddha adalah dewa "Pantheon"-nya. Tapi, di Wajrayana, ia digambarkan berupa raksasa yang menari.
Petikan pada Sudhamala itu berbunyi: "Berdiri di atas mayat dalam sikap ardhaparyañka (setengah bersila), berpakaian kulit manusia, tubuhnya dilumuri abu, tangan kanannya menggenggam sebuah vajra yang berkilauan, dan tangan kirinya menggenggam sebuah khatwañga, berhiaskan panji yang melambai-lambai, serta sebuah mangkuk tengkorak yang berisi darah; selempangnya berhiaskan rantai dari 50 kepala manusia, mulutnya sedikit terbuka karena taring, sedangkan nafsu berahi tampak dari sorot matanya, rambutnya yang kemerah-merahan berdiri ke atas; arca Aksobhya menghiasi mahkotanya, dan anting-anting menghiasi telinganya; ia berhiaskan tulang-tulang manusia dan kepalanya berhiaskan tengkorak manusia; ia memberi kebuddhaan dan dengan semadinya melindungi terhadap mara-mara di dunia." Ada beberapa ajaran Tantrayana yang menarik.
Bambang juga menemukan penjelasan yang hampir sama pada kakawin Sutasoma, yang ditulis pada zaman Majapahit. Misalnya bahwa dia makan bukan karena dia ingin memuaskan nafsu makannya, melainkan demi membersihkan kesadarannya. Diharapkan, para tantris dapat bersatu dengan Jinapati, puncak kebebasan. Yang tak kalah penting adalah temuan patung-patung Bhairawa dari berbagai situs itu. Arca terbesar adalah Bhairawa setinggi 4,41 meter dari hulu Sungai Langsat di situs Padang Roco. Diduga, patung itu berasal dari abad ke-14, saat puncak kejayaan Kerajaan Melayu akhir di bawah Raja Adityawarman. Patung disebutkan juga sebagai perwujudan Adityawarman itu sendiri. Patung raksasa itu menginjak mayat lelaki yang badannya ringsek ketekuk kakinya.
Paling bawah, berjajar delapan tengkorak manusia. Raut mukanya tidak utuh lagi, juga bagian kirinya. Tangannya, selain menggenggam pisau, juga menggenggam mangkuk dari batok kepala manusia. Bukti bahwa patung ini adalah patung keagamaan adalah adanya patung Buddha kecil, Aksobhya, di rambutnya yang menjulang. Patung itu kini di tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Di sana, tersimpan juga arca dan relief patung yang menggambarkan Tantrayana yang diambil dari situs Padang Lawas. Di antaranya tiga arca penari yang berasal dari abad ke-13-an. Ada juga relief penari berkepala lembu seukuran 40 x 40 cm. Arca Bhairawa juga ditemukan di situs padang Lawas.
Menurut Bambang, pecahan Bhairawa ditemukan dalam Biaro Bahal 3. Dari catatan penelitian, patung ini berasal dari masa yang lebih tua. Pada halaman biaro ditemukan sebuah fragmen arca Bhairawa bagian atas. Arca Bhairawa ini digambarkan dengan muka yang menyeramkan, mata melotot, dan sepasang gigi taringnya keluar. Bertangan dua, tiap tangannya memegang gada pada tangan kanan, dan sebuah benda yang sudah patah pada tangan kiri.
Hiasan yang dipakainya berupa anting-anting berbentuk tengkorak manusia dan hiasan kelat bahu yang juga berbentuk tengkorak manusia. Hampir semua Tantrayana di Sumatera tergambar sebagai sosok sadistis, liar, dan menyeramkan. Kebanyakan mereka berupa raksasa yang menari di atas tengkorak manusia, raksasa dengan mata melotot dan berbaju kulit manusia. Ini sangat berbeda dengan Tantrayana yang ada di Borobudur, misalnya. "Yang di Borobudur itu lebih tenang," ujar Noerhadi Magetsari. Hal itu wajar saja, karena Tantrayana adalah aliran dalam agama Buddha yang penerjemahannya bisa bermacam. Menurut Noerhadi, ada sekitar 20 macam Tantrayana dalam ajaran Buddha. Tantrayana di Singosari, yang dianut oleh Kertanegara pada abad ke-14 sendiri, hampir sama dengan yang dianut di Sumatera. Kertanegara disebutkan biasa mengadakan ritual Tantrayana yang meliputi acara minum minuman keras. Inilah yang sempat menimbulkan polemik. Terutama karena Tantrayana yang di Sumatera berusia lebih tua, yaitu sejak abad ke-10 hingga ke-11. Ada dugaan Tantrayana di Singosari, Jawa Timur, berasal dari Sumatera. Hal ini belum bisa dibuktikan, tapi pada abad ke-13 Singosari memang pernah berhubungan dengan Kerajaan Melayu, yang saat itu mencapai puncak kejayaannya (masa Adityawarman). Saat itu Kertanegara mengirim arca Amogapacha yang ketiga sisinya berprasasti. Arca ini dikirim sebagai wujud persahabatan. Wujud diplomasi agar Kerajaan Melayu membantu Kertanegara dari serangan Ku Blai Kahn dari Mongol. Prasasti itu bukti pendukung yang sangat langka Yang tidak diketahui hingga kini adalah bagaimana aliran Buddha Wajrayana ini datang di Sumatera.
Sejauh ini temuan arkeologisnya sangat terbatas. Sumber arkeologi tertulis sendiri mengatakan agama ini datang dari India dan Nepal. Sedangkan di Sumatera hanya diketahui Wajrayana paling tua ditemukan di situs Bumi Ayu Selatan, yaitu pada abad ke-10. Dan bagaimana Wajrayana sampai pertama kali di Bumi Ayu tidak terjelaskan. Di Tanjung Medan itulah Bambang bersama timnya berusaha merunut dan mengungkap teki-teki itu beberapa waktu lalu.
Usahanya itu merupakan rangkaian dari penelitian yang sudah dilakukan di Padang Lawas tahun lalu oleh tim lain. Padang Lawas sendiri lebih muda dari Bumi Ayu, yaitu dari abad ke-11. "Dari Tanjung Medan, saya berusaha setidaknya ada sampel yang menunjukkan dari mana agama Buddha Wajrayana pertama kali diajarkan di Sumatera," kata Bambang kepada TEMPO. Penelitian akan dilanjutkan tahun depan dengan melakukan penggalian di Bumi Ayu. Ini berarti, temuan-temuan baru tentang Tantrayana masih akan terus terungkap di masa depan.
Endah W.S